Home>Renungan Harian>Sabtu, 11 Agustus 2018, St. Klara, Perawan
Renungan Harian Serba-serbi

Sabtu, 11 Agustus 2018, St. Klara, Perawan

Sabtu, 11 Agustus 2018
Pw St. Klara, Perawan
Pekan Biasa XVIII
¤ Hab 1:12 – 2:4
¤ Mzm 9:8-9,10-11,12-13
¤ Mat 17:14-20
“Kyrie Eleison”
– Tuhan, kasihanilah kami –
Inilah doa sederhana atau nyanyian yang diucapkan atau dinyanyikan dalam Perayaan Ekaristi dalam bagian tobat. Doa ini hanya berbentuk perulangan sederhana: Tuhan Kasihanilah Kami; Kristus Kasihanilah Kami; Tuhan Kasihanilah Kami.
Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Yesus memberikan pengajaran tentang iman sekaligus menegaskan bahwa Yesus adalah Tuhan yang berkuasa.
Adapun tiga sikap dasar yang dapat membangun iman kita yang penuh dan teguh, antara lain:

Advertisements

1. Mengamini
Meski para murid sudah lama mengikuti Yesus namun mereka belum sungguh-sungguh mengamini. Mereka belum sungguh-sungguh mengamini iman yang bersandar kepada kemahakuasaan Allah.
Di sinilah kita diajak untuk selalu dengan “rendah hati” mengamini kemahakuasaan Allah dan mengatas-namakan semua doa dan karya kita bersama hanya dalam nama Yesus “In nomine Iesu”

2. Meyakini
Meski Yesus sudah memberi kuasa kepada para muridNya untuk menyembuhkan, masih juga mereka tidak mampu menyembuhkan seorang anak yang menderita karena sakit ayan. Sebab mereka sendiri kurang percaya atau meyakini dan merasa ragu-ragu akan kuasa Allah yang telah diberikan oleh Yesus kepadanya. Mereka masih bersandar pada kekuatan sendiri dan belum mengandalkan kekuatan Allah yang ada dalam dirinya.
Di sinilah kita diajak untuk “sepenuh hati” meyakini bahwa iman itu bertumbuh karena kepercayaan yang kokoh dan senantiasa bersandar pada kekuatan Allah yang berkarya bagi semua dan semesta “Deus meus et omnia”

3. Menyadari
Kegagalan para murid menyembuhkan karena mereka belum sungguh menyadari kebenaran imannya, bahwa Yesus adalah Putera Allah yang berkuasa. Dan Yesus mengutus mereka untuk menjadi saluran berkatNya.
Di sinilah kita diajak menyadari untuk tidak larut dalam kesadaran praktis (iman didasari perasaan dan pengetahuan) tapi dengan ‘suka hati’ membangun iman dalam kesadaran reflektif (iman yang direfleksikan) sehingga relasi secara personal (doa dan Refleksi) menjadi penting untuk semakin menumbuhkan iman kita. Maka kita akan semakin menyadari bahwa Tuhan-lah yang selalu menjadi cahaya hidup sejati “Sacra crux sit mihi lux”
Saudaraku, penyembuhan anak yang sakit ayan ini menunjukkan kemahakuasaan Tuhan Yesus. Seorang murid dapat juga mengambil bagian di dalam kemahakuasaan Tuhan, bila ia mempersatukan dirinya dengan Allah dalam iman yang penuh dan teguh, maka kekuatan-Nya akan tampak dalam kehidupan.
Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus bersama Bunda Maria senantiasa menyertai kita sekeluarga.

Amin.

Rikard Pasang, SVD