BKH LUPA JALAN PULANG

Oleh : Didinong Say

Benny Kabur Harman (BKH) politisi Partai Demokrat dari dapil Flores NTT beberapa hari kemarin sempat ramai di bully oleh masyarakat akibat cuitannya terkait kerumunan masyarakat Maumere menyambut kedatangan Jokowi di NTT, Selasa, 23 Pebruari 2021. BKH merupakan salah satu politisi andalan Partai Demokrat yang pernah berkuasa selama 10 tahun (2004 – 2014) di Indonesia.

Jokowi adalah pemimpin dengan sosok kerakyatan yang hadir dalam tampuk kekuasaan dan politik nasional sejak tahun 2014. Jokowi menggantikan era SBY yang didukung Partai Demokrat. Bak meteor, Jokowi muncul sebagai figur populer walau tanpa background basis politik, dukungan militer ataupun jejaring civil society.

Di hadapan berbagai kelompok elite bangsa yang pernah berjaya di masa sebelumnya kehadiran Jokowi ini ibarat Petruk Dadi Ratu dalam lakon wayang Jawa. Seperti lelucon tetapi riil politik yang harus dihadapi. Ini mengguncang psikis mengganggu nalar dan persepsi. Kelompok Tidak Legowo Kehadiran Jokowi mendorong terbentuknya konstelasi baru dalam panggung political and power game di Indonesia.

Dalam keseharian publik disuguhi drama dan manuver politik silih berganti berhadapan dengan pemerintahan Jokowi. Semangat, kebijakan, strategi, konsep, lingkungan, teamwork, pengelolaan, hasil, sampai dengan hal remeh temeh dari Jokowi tak henti dipersoalkan atau dipersalahkan.

Salawi, semua salah Jokowi.

Bencana alam pun dibaca sebagai hukuman karena Jokowi. Sikap dan pernyataan Salawi itu selalu datang dari pihak atau kelompok yang mengklaim sebagai oposisi. Dalihnya sebagai kritik penyeimbang.

Namun yang diproduksi adalah diksi dan jargon nyinyir yang tercium sebagai upaya diskredit Jokowi. Ungkapan pelecehan kepada Jokowi seperti plonga plongo, dungu, PKI, badut, pinokio dengan gamblang diekspos menembus batas ruang gelap. Ditampilkan di berbagai media bahkan muncul dalam doa politik di gedung parlemen, televisi, dan berbagai media sosial lainnya.

Dengan alasan kebebasan berpendapat para speaker oposan seperti MRS, RG, FZ, NP, BKH terus saja berkoar koar menyerang berbagai langkah dan kebijakan Jokowi. Setali tiga uang dengan kemunculan terus menerus kelompok kelompok penekan. Contoh yang terang benderang adalah perilaku post power syndromme dari mantan presiden SBY.

Beberapa kali mantan presiden yang dikenal baperan ini tampil ke publik untuk mengkritik atau menyindir Jokowi. Ini konyol. Sikap dan tindakan seperti ini kalau di Amerika sesungguhnya tabu sekaligus dianggap tidak etis karena melanggar pakem dan norma kenegarawan seorang mantan Presiden. Tuhan tidak suka itu.

Arogansi statusquo masa lalu nampak jelas belum move on. Masih sangat kental. Kelompok atau pihak yang pernah mendapatkan akses dan fasilitas kekuasaan pada masa sebelumnya mudah ditebak akan segera bergabung dalam barisan oposisi tersebut.

Karakter Orang Flores

Orang Flores umumnya dikenal memiliki tipikal karakter seperti : setia, polos, jujur memiliki komitmen dan berani mempertahankan keyakinan, tahu membalas budi, siap berkorban dan seterusnya. P. Omzigt, SJ seorang misionaris katolik yang pernah berkarya di Flores sekitar abad ke-19 mengungkapkan bahwa kelemahan orang Flores adalah terhadap pujian, alkohol, dan uang.

Dengan karakter tersebut, orang Flores siap mengadu nasib mencapai keberhasilan dan bahkan mampu menjadi andalan dalam berbagai level dan bidang kehidupan bersama seperti menjadi security, guru, tentara polisi, misionaris, profesional media dan journalis ataupun politisi papan atas dan lain lain. Beberapa orang Flores tercatat pernah menduduki jabatan menteri ataupun posisi penting di berbagai lembaga negara.

Namun seringkali juga, orang Flores yang setia dan berani itu dimanfaatkan oleh pihak pihak tertentu untuk kepentingan sebagai watchdog atau garda terdepan pendobrak. Hanya dengan sedikit imbalan atau bahkan sekedar pujian.

Limbung Penampilan BKH representan orang Flores di Senayan dari Partai Demokrat sesungguhnya cukup familiar bagi publik. Namun setelah Partai Demokrat dan SBY tergusur dari pusat kekuasaan, sikap dan perilaku politik BKH mulai nampak limbung. Ia seperti lupa melayani rakyat yang diwakilinya di Flores dan NTT.

BKH terkesan sibuk membela majikan Cikeas dan para pangerannya. BKH kini seperti tenggelam dalam pusaran kelompok yang sebenarnya tidak siap dan belum legowo dengan Jokowi.

BKH ini sepertinya lupa jalan pulang atau barangkali telah terkontaminasi lalu menjadi sekedar penjilat militan. Publik tidak tahu pasti kosa kata dan terminologi apa yang sering digunakan kelompok seperti itu di dalam ruang gelap dan tertutup terhadap Jokowi.

Namun dari respons BKH dalam bentuk satire sarkas yang dikirimkannya ke sebuah media on line sebagai respons atas Surat Terbuka Kepada BKH oleh Fransisco Soarez yang sempat viral itu, ( https://sepangindonesia.co.id/benny-kabur-harman-kirim-tulisan-berjudul-the-crowned-clown/) publik bisa mengira ngira seberapa merendahkan dan benci BKH dan kelompok tersebut kepada Jokowi.

Sebagai konstituen, orang Flores nampaknya tidak terlalu respek dengan berbagai manuver dan akrobat politik BKH. Orang Flores juga tidak terlalu peduli dengan pencapaian akademik BKH. Tetapi orang Flores sebagai konstituen tentu akan bangga dan berterima kasih bila salib dan tanggungjawab sebagai pelayan kepentingan orang Flores di Senayan itu bisa diwujudkan dalam bentuk bentuk nyata bonum commune.

Penutup

Bangsa ini sepakat dengan demokrasi. Mestinya adagium vox populi vox dei dapat diterima dengan legowo. Siapa pun bisa jadi presiden bila diinginkan rakyat banyak. Jokowi ‘rakyat biasa’ jadi presiden itu konsekuensi logis saja. Bangsa ini perlu belajar taat azas dan taat sistem.

Penulis : Didinong Say