Memahami Film WebSeries Ruang Rindu, Karya Roy Wijaya

LN Focus Indonesia News │Jakarta – Menonton Film Webseries Ruang Rindu yang tayang di Chanel Ezy Pratama Academy, seakan membawa kita pada dunia sastra yang begitu nyata, tulisan yang apik di buat sang Sutradara Roy Wijaya, yang di ilustrasikan pada film, seakan menguatkan kita pada sebuah ruang rindu yang tercipta dari keresahan.

Karena Roy menulisnya pada ruang rindu yang tercipta dengan makna yang luas dan tidak terfokus pada satu hal saja. Roy mengartikan rindu dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Rindu akan damainya negeri, rindu kehilangan kekasih, rindu terhadap kenangan masa lalu yang tentunya mengharu biru dan mengaduk-mengaduk perasaan.

Sebuah keresahan yang tak mampu diungkap dengan lisan, Roy begitu lihai menyampaikannya lewat film, meski penguatan adegan kurang begitu sempurna. “Suasana pedih cukup kental terasa dari bait-bait puisi yang ditulis dan di ucapkan dengan berbagai adegan, yang menguatkan sebuah kerinduan yang tidak tersampaikan pada seseorang yang dia sayangi.

Penyesalan teramat dalam tergambar jelas pada rindu sebatas cinta semua yang hampir Kandas di episode 2,” ungkap Roy di Studio Ezy, Kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur, Rabu, 11 Feb 2021. Menurut Roy, Kandas karena sang pujaan hati tak lagi dapat dinikmati wajahnya yang teduh dan tergambar jelas bahwa dia rindu suasana yang damai sebelum dunia mengenal smartphone cerdas.

Benda pipih yang bisa mendatangkan keberuntungan, juga malapetaka. Mampu mendekatkan yang jauh. Sebaliknya, menjauhkan yang dekat. Parahnya, benda kecil berukuran 10 inch itu akan tampak kejam karena kita bisa abai dengan orang-orang di sekitar. Banyak kelebihan yang akan di temukan dari Film Ruang Rindu, yang ditulis sebaga literasi yang tersusun bait per bait terlihat sangat runut dan rapi.

Sajak berima yang enak sekali ditonton, dan setiap goresan aksara sarat makna dan ceritanya sangat menjual sekaligus menggambarkan sebuah rindu yang tak selamanya berakhir menyenangkan.

“Dari sudut pandang saya pribadi menyimpulkan ada sebuah filosofi teramat dalam dari simbol wajah antara laki-laki dan perempuan,” jelasnya.

Meski demikian, Roy juga mengakui, begitu banyak kekurangan. Hanya saja, sebagai penulis yang begitu paham akan karya sastra, mampu melengkapinya dengan menambahkan berbagai plot ceruta yang berbeda.

“Antologi Ruang Rindu, memang cukuplah berat dari segi makna. Saya harus membaca 2000 puisi sebanyak tiga kali secara berulang-ulang demi mendapatkan arti yang Pas. But overall, saya sangat menyukai cerita ini. Karena dengan membacanya, saya bisa memahami sastra yang terangkai dengan indah,” pungkasnya.

Tim │Red