Pemberangusan FPI, Orang NTT Dan NKRI

Penulis : GF. Didinong Say

Orang NTT dan NKRI Jokowi sekarang ini terkesan semakin kuat. Yaitu, setelah “keberhasilannya” mengatasi kelompok destruktif FPI. Penunjukkan Kapolri baru yang beragama non muslim nyaris tanpa riak boleh jadi merupakan indikasi bahwa Presiden Jokowi semakin powerful.

Keberhasilan Jokowi tersebut tentu saja didukung oleh berbagai elemen dan komponen bangsa seperti silent majority, kelompok nasionalis, dan terutama kekompakan TNI Polri dalam menghadapi masalah dan kegaduhan yang ditimbulkan oleh Risieq dkk.

Risieq yang pulang dari Arab 10 November 2020 bak Khomeini kini hanya sekedar pesakitan yang meringkuk dalam jeruji sel. Para followersnya yang katanya jutaan itu pun mulai lenyap bagai ditelan bumi.

Para bohir dan cukong Risieq tinggal menunggu giliran. Tugas Jokowi selanjutnya adalah membawa Indonesia keluar dari pandemi Covid 19 sesegera mungkin, melanjutkan pembangunan dan mempersiapkan suksesi 2024 secara kondusif.

Catatan kecil yang sering tercecer lalu hanyut dalam sekat memori bawah sadar publik adalah dukungan dan kontribusi orang NTT bagi NKRI dalam hal mengatasi gerakan kaum intoleran radikal semisal Risieq dkk.

Orang NTT sepertinya by genetic memiliki rasa nasionalisme yang tinggi, setia dan militan. Dalam berbagai panggung sejarah dan politik nasional, orang NTT terbukti seringkali tampil sebagai garda terdepan NKRI.

Dalam sejarahnya dengan kondisi minus maupun ketertinggalan di hampir semua bidang, tak pernah terdengar bahwa niatan separatis orang NTT seperti Maluku Papua dan lain lain.

Beberapa Catatan

– Saya sangat meyakini bahwa ide ide universal berbangsa dan bernegara Bung Karno justru lahir ketika secara eksistensial ia hidup di Ende dalam pembuangan.

Ia melihat langsung harmoni kehidupan masyarakat bernuansa toleran dan humanis. Bung Karno juga membaca banyak referensi filsafat yang dipinjamkan para pastor di Ende. Modal historis ini hampir tidak pernah dikapitalisasi oleh orang Flores. Hanya jadi self pride.

Saya hanya coba membayangkan kalau di atas Gunung Meja di Ende diletakan patung Bung Karno seperti Patung Kristus Sang Penebus di Rio de Janeiro, Brasil.

– Jogya semasa clash dengan Belanda pernah menjadi ibu kota republik.

Anda tahu siapa kelompok pemuda yang mula mula bertarung menjaga Jogya?

Mereka adalah anak muda dari seberang, seperti Batak, Manado, termasuk dari Sunda Kecil (baca NTT) yang dipelopori oleh Herman Yohanes, Seda, dll.

– Pada masa Konstituante, Natsir dkk dari Masyumi berjuang demi Jakarta Charter dan hampir berhasil.

Anda tahu siapa yang menghadang mereka? Mereka adalah VB da Costa dan Ben Mang Reng Say dari Flores.

– Ketika Bung Karno semakin dekat dengan kelompok komunis, anda tahu siapa yang selalu berdiri paling depan dan berjibaku dengan tentara dalam setiap demonstrasi mahasiswa? Pemuda mahasiswa itu bernama Louis Wangge.

Pemberani dari Wolowaru yang kemudian tidak mendapat jabatan apapun, sementara teman temannya bergelimang kekuasaan Orba puluhan tahun.

– Gerak intoleran dan radikal semakin mendapat panggung pada pilgub DKI 2017. Gubernur Ahok yang double minoritas membuka kotak Pandora di Pulau Seribu. Segera terjadi polarisasi dalam kehidupan maayarakat.

Di Jakarta tampil Marsel Wawo dkk bukan hanya untuk membela Ahok tetapi NKRI. Beberapa kali terjadi saat itu anak anak NTT yang jumlahnya tak seberapa berani menghadang dan siap beradu fisik dengan kelompok intoleran tsb.

Bahkan di basis nya sendiri. Marsel dkk mungkin terinspirasi oleh kenekadan Jacob Nuwa Wea mendatangi Risieq di Petamburan.

– Publik NTT tahu bahwa VBL gubernur adalah pelawan FPI. Beberapa pernyataan keras VBL terhadap FPI dan sejenis membuat ia menjadi incaran kelimpok kelompok intoleran tsb.

– Kembalinya Risieq dari Arab sempat menimbulkan kegentaran. Bandara yang disemutin ratusan ribu penjemput, sampai dengan peristiwa Petamburan menimbulkan keresahan besar masyarakat di tengah pandemi ini.

Negara seperti absen dan gamang. Kemana Jokowi? Di mana TNI Polri? Lalu tampillah mula mula anak anak muda bernyali seperti Manche Kota dkk persis di depan kantor gabener Anies.

Mereka bukan hanya protes atas kelancangan Risieq, tetapi perbuatan fenomenal sekaligus simbolik dan heroik adalah menginjak injak dan membakar baliho IB Risieq.

Agak lucu bahwa hanya berselang sebentar saja memori publik kini terkait siapa aktor non negara yang mula mula berani melawan Risieq ternyata lebih banyak terarah ke si sexy Nikita Mirzani atau para influencer di medsos.

Penulis : GF. Didinong Say