Pemilukada Ngada 2020, Wabah Corona Dan Potensi Pemilih Transaksional Meningkat

Catatan Pojok Bung Red

Pemilukada tahun 2020 yang diselenggarakan di tengah wabah masif Covid-19 Coronavirus dengan realita kehidupan ekonomi masyarakat yang sedang terpukul, kondisi pasar sangat lesu, bahkan harapan keseimbangan ekonomi keluarga masyarakat pun terombang-ambing, ditambah tingkat kesadaran pemilih pun masih cukup terukur, berpotensi memicu kenaikan ratio pemilih transaksional meningkat pada fase-fase injury time hingga pencoblosan di TPS pada tanggal 9 Desember 2020. Potensi tersebut terbuka lebar terjadinya peningkatan signifikan.

Betapa tidak, jika Pemilu yang digelar pada masa-masa normal telah menuai lonjakan Pemilih Transaksional begitu tinggi dalam berbagai peta Pemilu di Indonesia, maka sulit mendapat pengecualian dan garansi, Pemilu yang digelar di tengah pandemi dan atau juga situasi kemerosotan ekonomi masyarakat, tidak bisa digaransikan akan bebas dari skala pemilih transaksional meningkat. Sebaliknya, potensi pemilih transaksional berpeluang meningkat tajam.

Jika tipe pemilih dalam Pemilu dibagi dalam tiga kategori, pertama, tipe pemilih ideologis, yakni pemilih yang memilih pemimpin berdasarkan alasan ideologi, kedua, tipe pemilih rasionalis, yakni tipe pemilih yang selalu mempertimbangkan baik buruknya pemimpin setelah terpilih, ketiga, tipe pemilih transaksionalis, yakni tipe pemilih yang memberikan suara di TPS atas faktor transaksi uang dan materi, maka tanpa maksud memutlakan analisa, bisa dikata bahwa pemilih kategori transaksional di tengah keterpurukan ekonomi bangsa akan cenderung meningkat dibanding kondisi-kondisi sebelumnya.

Sebelumnya, Catatan Pojok Bung Red sedikit mengupas sepihnya komitmen tolak money politik dalam Pemilukada Ngada tahun 2020, spesifik Debat Kedua Pemilukada.

Lebih dari itu, tidak hanya sebatas sepih komitmen, nampak cukup sepih juga gerakan-gerakan kepeloporan dengan sistem dan skala memadai yang menjunjung komitmen berantas, jaga, kawal dan siaga advokasi sistematis praktek-praktek money politik Pemilukada di daerah. Padahal, jika gerakan semacam itu digelorakan pun, efektifitas hasilnya tidak mencapai 50%. Tetapi, minimal memperkecil permainan kotor money politic.

Paslon Apa Saja Yang Berpotensi Money Politik

Jika benar-benar diamati secara jujur, menggunakan lensa kecenderungan Pemilu-Pemilu dan psikologis desakan ekonomi masyarakat hari ini, maka salah satu mosi jawaban yang bisa dimunculkan adalah potensi money politik terbuka lebar.

Namun, praktek money politik tidak bisa ditujukan pada paslon tertentu. Sebab, money politik sangat terbuka untuk umum, bisa saja dilakukan oleh oknum simpatisan, tim pemenang, organ relawan, dan ain-lain.

Belum lagi, kehendak bebas setiap individu berpemilu yang tidak jarang ber-iman-kan money politik diyakini sebagai tuan guru memenangkan perebutan kekuasaan.

Terhadap mimpi buruk money politik, setiap pasangan calon maupun tim suksesi bisa saja akan berkecenderungan melihat keluar.

Hemat penulis, jika money politik menjadi musuh bersama, maka jalan tengah yang harus ditempuh adalah “melihat kedalam diri masing-masing”.

Mungkinkah tidak menggunakan jurus persilatan money politik?. Jangan sampai sedang dalam gerakan dan persiapan untuk memuncaki Pemilukada dengan strategy tuan guru, yakni money politik untuk merebut Pemilukada Ngada tahun 2020.

Asumsi pertama, jika money politik sangat berpotensi menjadi jurus pamungkas Pemilukada Ngada 2020, maka Paslon dengan kesiapan cadangan keuangan (rupiah) paling berkecukupan lah yang akan memporak-porandakan basis pemilih pada hampir seluruh wilayah pemilih di Kabupaten Ngada.

Tetapi, praktek money politik harus dilakukan secara benar-benar gelap, tidak terdeteksi dan bebas jebakan.

Jika tidak, maka jurus money politik akan menjadi bencana, siap menuju jeruji besi, (Hukum Pidana Pemilu) terbuka lebar di depan mata.

Asumsi kedua, Paslon yang kaya daya network (jaringan) pemilik modal, juga berpotensi mengguncang klasmen Pemilukada.

Kekuatan jejaring pemilik modal bisa menjadi garda mister X yang akan hadir pada masa-masa injury time untuk melepas kucuran dana (money) segar secara masif, lalu membumi-hangus perang kompetisi Pemilu.

Kedua asumsi sederhana ini tidak berarti Pemilukada Ngada tahun 2020 akan menoreh hasil pemain nakal money politik sudah pasti akan keluar sebagai pemenang demokrasi rakyat Ngada tahun 2020.

Tetapi, tidak berlebihan pula, Pemilukada Ngada 2020 yang digelar di tengah wabah corona dan kemerosotan ekonomi masyarakat, juga sangat seksi mengalami peningkatan jumlah pemilih transaksional secara menyebar dan tidak terkendali.

Semoga tidak.

Jangan budayakan saling menunjuk, sebaiknya sama-sama menundukan kepala dan katakan dengan jiwa dan raga, bahwa Pemilukada Ngada tahun 2020 jangan sekalipun menjadi Pemilukada bersejarah gelap, berisikan klaster pemilih transaksional tumbuh subur se-antero Negeri Dewa Zeta, Nitu Zale, Kabupaten Ngada, Flores, NTT.

Catatan Pojok Bung Red