Debat Kedua Pemilukada Ngada 2020, Sepih Komitmen Tolak Money Politik

Catatan Pojok Bung Red

“Ngada masa depan memang akan menuai begitu banyak catatan. Baik catatan positif maupun catatan negativ. Namun, di depan mata Pemilu saat ini, satu persoalan serius yang mengancam semuanya itu, adalah Money Politik. Tentang ini, tidak etis dan sangat tidak mendidik jika tidak di-sumpah bersama, disetiing juga melalui tayangan live yang ditonton belasan ribu pemirsa, sebelum menuju masa depan. Mengapa sepih?”.

Setidaknya, sejak Pemilihan Umum tahun 2014, Bangsa Indonesia mencatat keganasan politik uang terbukti sangat dahsyat menghabisi bobot produk pesta demokrasi Pemilihan Umum.

Politik uang dan efek penghancurannya, sesungguhnya telah sangat berhasil merusak berbagai proses maupun hasil Pemilu, dan ujungnya melahirkan perutusan atau produk pemilihan umum yang penuh dengan masalah, gagal produk karena berasal dari cara-cara kotor proses pemilihan hingga terciptanya produk pemilihan umum itu sendiri.  

Pemilihan Umum yang sarat dengan politik uang, bagi-bagi uang kepada para pemilih dengan syarat untuk memberikan suara di TPS, adalah ongkos gelap untuk masa depan yang nantinya pasti dibayar dengan banyak kisah sedih, dibayar dengan rusaknya kinerja pembangunan bagi masyarakat itu sendiri di masa-masa mendatang.

Yang terpilih dengan senjata politik uang, sudah pasti bernasib sebelum bekerja, sebelum berkuasa, sebelum melayani, produk keterpilihan itu sendiri telah rusak sebelum mengabdi.

Telah terpenjara oleh duit, sebelum mengangkat sumpah janji pelayanan, tersandera pengembalian duit dan kontrak-kontrak kotor para pemilik modal, dan ujungnnya hanya akan mengulangi mimpi buruk, rusak sebelum bekerja, rusak sebelum dilantik, rusak parah sebelum apel hari pertama diselenggarakan, tersandera uang dan bahkan akan menjadi sapi perah para kepentingan dimana-mana.

Matinya janji-janji manis yang diteriakan pada masa kampanye, matinya sumpah keberpihakan pada masyarakat banyak, matinya penegakan hukum, matinya keadilan dan sosial dalam menjalankan kekuasaan, mati perwujudan mutu proyek-proyek pembangunan, dan lain-lain, itu semua dimulai sejak politik uang menyandera hasil pemilihan umum sebelum berkuasa, tersandera sebelum terpilih.

Demi meraup suara dukungan dalam Pemilu, politik uang, jurus politik beli suara, jurus politik serangan fajar dipakai untuk memenangkan kompetisi yang padat dengan persaingan, namun usai memenangkannya kekalahan kinerja pun sudah menunggu di depan mata, karena pemenang sudah tersandera jauh sebelum menulis kisah kemenangan sebuah Pemilihan Umum.

Kemenangan akan dihiasi berbagai kesibukan baru, misalnya mengatur pembagian proyek untuk pengembalian modal, pengembalian ongkos kepada para pemilik modal, dan lain-lain, yang pada ujungnnya Pemilu “oleh rakyat, dari rakyat, untuk meninggalkan amanat penderitaan rakyat, meninggalkan janji-janji manis, meninggalkan hembusan visi misi yang indah dan berseri-seri, meninggalkan slogan-slogan perubahan, meninggalkan sumpah janji bekerja untuk masyarakat.

Mimpi dan harapan mutu perubahan dalam pembangunan, mimpi dan harapan para pemimpin untuk menujukan kemampuan-kempamuan terbaik mereka usai terpilih, itu dikubur sejak sebelum mereka terpilih. Hancur sebelum mekar, terkubur oleh politik siram uang, lalu pemilik uang menagihnya setelah menerima kabar sudah terpilih, menang pemilu.

Apa itu Politik uang?.

Berbagai referensi dalam negeri menulis politik uang adalah suatu bentuk pemberian atau janji menyuap seseorang yang berdampak pada seseorang itu tidak menjalankan haknya untuk memilih secara jujur saat pemilihan umum, sebaliknya memilih karena telah menerima uang, karena sedang menerima uang dan akan menerima uang setelah memberikan suara di TPS.

Transaksi suara di belakang layar, dimana saja yang intinya “Anda Telah Menerima Uang maka Anda Memberikan Suara Anda, maka Anda Telah Kami Bayar Lunas.

Pembelian bisa dilakukan menggunakan uang dan barang.

Meski politik uang adalah sebuah bentuk pelanggaran kampanye dan ataupun pelanggaran berat dalam Pemilu, namun hal gelap yang satu ini seolah sulit dipangkas dari bumi partiwi ini.

Maka, jika hal itu sulit dipangkas, sulit juga untuk terwujudnya perubahan yang sungguh-sungguh nyata, sulit juga memanen bobot kinerja dari hasil-hasil pemilu, sebab pemilunya sendiri sudah sarat dengan politik beli suara rakyat sebelum menjabat.

Data menunjukan  politik uang umumnya dilakukan simpatisan, kader atau bahkan pengurus partai politik menjelang hari H pemilihan umum. Praktik uang dilakukan dengan berbagai cara kepada masyarakat dengan tujuan untuk menarik simpati masyarakat agar memberikan suara, agar mengalahkan pesaing, agar menang telak di TPS, dst.

Pasal 73 ayat 3 Undang Undang No. 3 tahun 1999 berbunyi “Barang siapa pada waktu diselenggarakannya pemilihan umum menurut undang-undang ini dengan pemberian atau janji menyuap seseorang, baik supaya orang itu tidak menjalankan haknya untuk memilih maupun supaya ia menjalankan haknya dengan cara tertentu, dipidana dengan pidana hukuman penjara paling lama tiga tahun. Pidana itu dikenakan juga kepada pemilih yang menerima suap berupa pemberian atau janji berbuat sesuatu.”

Meski demikian, tabiat politik uang bukannya menurun, sebaliknya malah semakin gencar dalam begitu banyak fenomena Pemilu. Politik uang seolah-olah sudah menjadi syarat untuk memenangkan percaturan pemilu. Politik uang (money politic) begitu tangguh menghantui prosesi Pemilihan Umum (Pemilu) hingga saat ini, dan telah berperan sangat vital mengurangi kualitas demokrasi di Indonesia.

Praktik politik uang masih menjadi kekuatan utama untuk memengaruhi pilihan masyarakat di berbagai pemilu hingga kini.

Pada satu sisi kontestan Pemilu butuh dukungan suara, pada sisi lain masyarakat pemilih cenderung melihat pemilu sebagai peluang untuk mendapatkan materi.

Ini semua berawal dari kurangnya kesadaran bersama, termasuk para kontestan pemilu untuk menegakkan demokrasi berkualitas, hilangkan jual beli suara, bersumpah dan bertindak tidak memperjarakan masyarakat dengan cara sebar politik uang.

Debat II Pemilukada Ngada, Sepih Pekikan Tolak Politik Uang

Debat Pasangan Calon Pemilukada Ngada tahun 2020 tahab dua yang disiarkan langsung melalui chanel youtube KPU Ngada tanggal 20 November 2020 dengan tema “Mewujudkan Pemimpin Daerah yang Berkualitas menuju Ngada yang Aman, Damai dan Sejuk’, berlangsung cukup kondusif.

Lima Paslon Pemilukada Ngada tahun 2020 : FIRMAN, AP-RB, PAS-GUD, CREDO, HEBAT kembali menegaskan visi, misi, program, komitmen, pertanyaan dan jawaban, ditutup dengan closing statement lima pasangan calon.

Dalam sambutan Ketua KPU Ngada, Stanislaus Neke, terdengar kalimat ajakan menolak politik uang, namun hal itu nampak cukup sepih pada sesi-sesi selanjutnya, kecuali pada jedah siaran, sejumlah pesan iklan menolak politik uang kelihatan numpang lewat di layar siaran Debat Pemilukada Ngada tahun 2020.

Begitu pula pada closing statement para konsetan, tidak terdengar lagi seruan komitmen tolak politik uang. Apalagi sumpah anti politik uang.

Lampu Kuning Pemilukada dalam bayang-bayang Politik Uang

Padahal, salah satu topik yang nampak cukup getol diserukan, disuarakan dan diberdebatkan pada sejumlah kolom sosial maupun beranda dunia maya Kabupaten Ngada, Flores NTT selama proses Penilukada tahun 2020, adalah kerisauan masyarakat menyangkut Politik Uang yang diduga sangat berpotensi dan akan menjadi senjata pembunuh pamungkas bagi proses maupun hasil Pemilukada Ngada tahun 2020.

Debat II Pemilukada Ngaada yang disiarkan langsung melalui chanel KPU Ngada, dengan pantauan catatan telah ditonton oleh sedikitnya 11 ribu lebih penonton per tanggal 20-21 November 2020, sebenarnya bisa disisihkan secara efekktif untuk menggaungkan secara bersama-sama, Tolak Politik Uang. !!!

Jumlah belasan ribu penonton siaran live di tengah pandemi Covid-19 Coronavirus, tentunya angka yang tidak bisa dicetak oleh Pasangan Calon manapun untuk membentuk forum sebanyak itu di tengah pandemi Covid-19 Coronavirus.

Sangat disayangkan, forum live dengan keterlibatan orang sebanyak itu tidak disuguhi siraman, bila perlu sumpah bersama di hadapan rakyat secara live, tolak money politik.

Ngada masa depan memang akan menuai begitu banyak catatan. Baik catatan positif maupun catatan negativ. Namun, di depan mata Ngada saat ini (baca : Pemilu), satu persoalan serius yang mengancam semuanya itu, adalah Money Politik.  Tentang ini, tidak etis dan sangat tidak mendidik jika tidak di-sumpah bersama, disetiing juga melalui tayangan live yang ditonton belasan ribu pemirsa, sebelum menuju masa depan. Mengapa sepih?”.

Waspada. Sepih kumandang tolak money politik, jangan sampai adalah pratanda memburuknya mutu Pemilukada tahun 2020 dan tanda-tanda masa depan tersandera segudang anomali yang sudah menunggu di depan sana. Semoga tidak !.

Debat II Pemilukada Ngada 2020, Sepih Komitmen Tolak Money Politik

Catatan Pojok Bung Red