Pemilukada, Para Calon Pemimpin Jangan Enggan Fokus Revolusi Mental Mulai Diri Sendiri

Catatan Pojok Bung Red

“Revolusi Mental adalah gerakan nyata, untuk menggembleng diri sendiri dan atau manusia Indonesia agar dapat menjadi manusia baru yang berhati thulus, tekad baja, berenergy kobaran api perjuangan, menyala-nyala dan yang setia pada komitmen, gigih melawan inskonsistensi, demi melayani masyarakat, untuk Bangsa dan Negara menjadi baik dan benar mengelolah kemerdekaan. Daerah-daerah harus lebih signifikan wujudkan azas manfaat negara bagi masyarakat dari waktu ke waktu”.

Jika demikian, kata siapa Revolusi Mental bukan syarat mutlak untuk memajukan daerah-daerah ?.

Sejak periode pertama memimpin negara ini, Presiden RI Jokowidodo menyerukan “Wujudkan Revolusi Mental”, sebab dengan itu dapat menjadikan manusia berintegritas, para pemimpin berintegritas, para wakil rakyat berintegritas, ASN berintegritas, termasuk TNI, Polri dan semuanya dalam semangat dan tindakan Indonesia maju.

Sedikit menoleh ke belakang, cetusan revolusi mental pertama kali dikumandangkan oleh Presiden Soekarno pada Peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1956.

Soekarno melihat revolusi nasional Indonesia saat itu sedang mandek, padahal tujuan revolusi untuk meraih kemerdekaan Indonesia yang seutuhnya belum tercapai.

Itu dicetuskan untuk membangun jiwa yang merdeka, mengubah cara pandang, pikiran, sikap dan perilaku agar berorientasi pada kemajuan dan hal-hal yang modern, sehingga Indonesia menjadi bangsa yang besar dan mampu berkompetisi dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

“Membangun suatu negara, tidak hanya sekadar pembangunan fisik yang sifatnya material, namun sesungguhnya membangun jiwa bangsa”, kata Bung Karno.

Ya, dengan kata lain, modal utama membangun suatu negara, adalah membangun jiwa bangsa.

Inilah ide dasar mengapa gerakan revolusi mental kembali diteriakan oleh Presiden Joko Widodo.

Jiwa bangsa yang terpenting adalah jiwa merdeka, jiwa kebebasan untuk meraih kemajuan. Presiden Jokowi menyebut jiwa merdeka sebagai Positivisme.

Apa kabar Revolusi Mental dalam Pemilukada 2020

Wacana revolusi mental sebenarnya menyiratkan seluruh keinginan untuk segera melakukan perubahan secara cepat dan radikal.

Kolom Detik, Juni 2018, pernah menulis “Namun, revolusi mental yang telah dicanangkan Presiden Joko Widodo belum dapat dirasakan nyata sebagai sebuah gerakan yang praktis dan implementatif”.

Pemilukada tahun 2020 yang digelar di tengah Pandemi Covid-19, akan menjadi Pemilukada berisi pergantian pejabat semata jika tidak melahirkan pemimpin-pemimpin baru berjiwa konsisten revolusi mental, mulai dari kursi-kursi pemimpin itu sendiri.

Pemilukada sebagai sarana rakyat untuk menunjuk dan menetapkan siapa pemangku amanat penderita rakyat, hanya akan melahirkan Pemilu bernasib : Dari, Oleh Rakyat, Untuk para Penguasa, kelompok dan golongan tim sukses belaka.

Padahal revolusi mental memiliki nilai strategis dan instrumental.

Negara ini dan seruan revolusi mental hanya akan menjadi slogan biasa, ketika komitmen merubah diri mulai dari para calon pemimpin daerah, alpa dan gagal dilakukan, sebelum memimpin orang lain dan atau sebelum mengemban amanat besar dari masyarakat.  

Padahal, aspek strategis revolusi mental adalah untuk kedaulatan, untuk menumbuhkan target daya saing dan sedterusnya dalam persatuan kesatuan bangsa yang dilakukan secara kolektif, dengan melibatkan perkuatan institusi pemerintahan sebagai model untuk diguguh, diikuti berbagai pranata sosial budaya.

Revolusi mental juga menjadi sangat penting secara instrumental guna membangkitkan kesadaran bahwa daerah-daerah memiliki kekuatan yang sangat besar untuk menciptkan prestasi-prestasi tinggi, untuk memaerkan produktifitas kemajuan pada multi sektor pembangunan, menjadi daerah – daerah yang maju dan modern.

Mulai dari mana                                            

Mulailah dari pemikiran, tanpa kecuali dari para calon pemimpin yang maju dalam pentas Pemilukada 2020.

Jangan enggan !

Dekadensi akal pikiran merupakan bencana batin yang paling besar bagi bangsa. Karakter bangsa menjadi lemah, imperialisme dengan mudah menancapkan kukunya di bumi pertiwi. (Bung Karno, 1956. Indonesia Menggugat: 129-133)

KOMPAS 2016 : untuk revolusi mental efektif, harus dimulai dengan mengubah pemikiran.

Ya, iya ! Walau tidak mutlak, rasionalitas adalah esensi yang paling berpengaruh diantara isi mental, pada kualitas kita sebagai Homo sapiens.
Revolusi mental sebagai paradigma pembangunan, diyakni bisa menukik langsung pada simpul masalah dan penyumbatan- penyumbatan kemajuan daerah-daerah selama ini.

Negara ini sudah megurai masalah utama dengan sangat jelas, yakni kualitas manusia. Manusia diposisikan sebagai barang ekonomi belaka dan mentalitas tak pernah jadi fokus serius pembangunan. Itu lah penyebab keterpurukan bangsa kita.

Paradigma pembangunan kita selalu bertumpu pada pertumbuhan ekonomi yang menuai catatan kesejahteraan tak kunjung dirasakan oleh rakyat.

Pada gilirannya, klaim-klaim kemajuan ekonomi seperti buih hampa yang mudah runtuh dan kolaps ketika diterpa krisis.

Mengapa Harus

Harus Revolusi Mental.

Dengan platform Revolusi Mental, pemerintah kedepan tidak se-kadar meneruskan apa yang ada, meneruskan rutinitas klasik membuat rencana, mengganungkan wacana kesejarhteraan, tetapi menjadi pemerintah yang dapat menjadi model yang baik dalam menata pembangunan.

Pemerintahan yang bisa secara berani mengoreksi kebijakan – kebijakan bawaan, lalu secara cerdas dapat masuk ke fase perubahan nyata secara signifikan.

Pemerintah nantinya juga tidak menjadi pemerintah yang instan menjadikan berbagai gagasan yang sepintas tampak keren, namun (sekali lagi) hanya berujung pada buih rapuh hampa perubahan.

Tanpa revolusi mental, kita bisa saja menuju isyu daya saing, menuju wacana kesejahteraan rakyat, menuju mimpi kemajuan infrastruktur, menuju gaung penegakan hukum dan seterusnya yang hanya berujung kontra produktif, karena itu semua hanya gaung tanpa energy untuk dapat menggerakannya.

Jika kita menegok bangsa lain, titik  star kemajuan bangsa Jepang, Restorasi Meiji mengubah mentalitas feodalisme ke arah modernisme melalui pendidikan.

Malaysia, Mahathir Mohamad melakukan gerakan Melayu Baru mulai tahun 1971, berpaketan dengan kebijakan afirmatif ekonomi baru dengan New Economic Policy.

 “Modernisasi pikiran merupakan prasyarat bagi modernisasi ekonomi,” kata Mahathir (1999).

Nah, jika demikian, harus kah terus menerus kita semua dan para calon pemimpin masa depan kita ENGGAN proklamirkan Revolusi Mental untuk perubahan ?. Mari kita bicara.

Pemilukada 2020, Para Calon Pemimpin Jangan Enggan Teriak Revolusi Mental Mulai Diri Sendiri

Catatan Pojok Bung Red
Catatan ini menyorot fakta, menepi pada bahan baca dan sumber-sumber akurat, termasuk tajuk Pers dalam negeri, bab Indonesia Reformasi.