Marak Aduan Proyek Mangkrak Di Daerah, Ciri Pembangunan Minus Mental Membangun

Catatan Pojok Bung Red

Secara filosofi, setiap Undang-Undang yang diberlakukan, berisi bab, pasal, ayat untuk membangun, diikuti pemakaian duit atau penggunaan uang rakyat (diantaranya pembangunan infrastruktur rakyat), adalah sebuah gerakan negara mengkondisikan percepatan pembangunan untuk memajukan kualitas, (sekali lagi) memajukan kualitas atau memajukan mutu infrastruktur, dan lain-lain, sehingga mampu meningkatkan perekonomian masyarakat daerah, bangsa dan negara secara signifikan.

Nafas regulasi sebagai rel dan payung, jelas dan terang benderang mendesak manusia untuk bertindak berbasis mutu dan nilai-nilai.

Mutu atau kualitas adalah sebuah nilai dalam membangun. Pembangunan.

Undang-Undang mendesak dan mengatur itu.

Hal membuat proyek dan hal mental (membangun) adalah dua hal yang sesungguhnya harus saling berpaketan dalam rangka mewujudkan tugas-tugas pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat.

Jika hanya membuat proyek – proyek ?

Mental Membangun dan Program Membuat Proyek-Proyek adalah dua hal yang berbeda.

Membuat proyek-proyek tidak mutlak sebagai mental membangun untuk kesejahteraan rakyat.

Maka selalu diteriaki Revolusi Mental. Bangun Jiwa dan Bangun Raga, kata para Pendiri Bangsa.

Mental membangun merupakan suatu dorongan dari dalam diri individu yang berkaitan dengan akal atau pikiran, ingatan, integritas dan tujuan pencapaian bobot kegiatan yang selaras dengan regulasi dan seiring sejalan dengan harapan-harapan menciptakan mutu pembangunan – berkualitas untuk masyarakat.

Asosiasi dari kesemuanya itu kemudian mempengaruhi perilaku manusia memiliki keinginan untuk membangun.

Setidaknya ilmu pengetahuan menyebutkan mental membangun terdiri atas 3 dimensi, yaitu ; Pertama, Confidence atau keyakinan akan kemampuan untuk membangun dan mengatasi segala rintangan yang ada dalam proses pembangunan.

Kedua, Pride atau rasa bangga karena identitas sebagai bagian dari daerah dan kebanggaan pada potensi daerah.

Ketiga, Care atau kepedulian individu terhadap daerah sehingga berkomitmen menjadi bagian dari pembangunan yang bermutu, bernilai.

Nah, dengan cara berpikir dan cara merasa yang tidak harus ruwet atau sulit, apa sebenarnya nama lain dari proyek-proyek yang begitu banyak mangkrak dalam berbagai pengaduan masyarakat dimana-mana?.

Pertama, membuat banyak proyek diikuti dengan melorotnya kualitas proyek ambu radul, adalah bukan ciri dari mental membangun.

Ambu radul disini tidak hanya pada tatarana hasil, tetapi mulai dari tahab perencanaan, keterbukaan informasi publik, pengawasan mutu kerja, evaluasi, hasil serta penindakan hukum pasca proyek ambu radul dikerjakan.

Kedua, mental membangun tidak hanya senilai menghitung berapa jumlah proyek yang sudah digerakan. Tetapi, tentang terkondisinya mutu proyek, padat bobot dan padat azas manfaat, sesuai kebutuhan masyarakat.

Ketiga, mem-bludaknya proyek-proyek mangkrak yang terjadi di hadapan masyarakat, adalah ciri pembangunan, minus mental membangun. Dengan kata lain, ber-proyek tanpa jiwa membangun.

Jiwa membangun adalah energy utama untuk menggerakan pembangunan dan menggerakan proyek, demi terkondisinya proyek pembangunan yang selaras dengan Pancasila, cita-cita kemerdekaan, reformasi bangsa dan tujuan otonomi daerah untuk percepatan azas manfaat, mengapa masyarakat harus bernegara.

Parade proyek mangkrak adalah kutu busuk yang menggerogoti pembangunan itu sendiri.

Marak Aduan Proyek Mangkrak Di Daerah, Ciri Pembangunan Minus Mental Membangun

Catatan Pojok Bung Red