Wabah Corona Vs Wabah Kerumunan, Pesta Pora, Awas Kewalahan !

Catatan Pojok Bung Red

“Pada Bulan Juli tahun 1518 terjadi Epidemi Tarian di Strasbourg, Alsace (bagian dari kekaisaran Romawi Suci). Sedikitnya sekitar 400 orang menari selama berhari-hari tanpa istirahat. Berikutnya setelah itu selama sekitar satu bulan, banyak orang dari mereka terkena tumbal, serangan jantung, stroke, kelelahan, meninggal dunia”.

Tunggang langgang global atas wabah masif Covid-19 Coronavirus telah mencatat total kasus positif corona per tanggal 12 September 2020 sebanyak 28.692.121 orang positif covid-19, jumlah kematian terus menanjak mendekati satu juta orang, 920.460 orang meninggal dunia.

Ini baru tentang Covid-19 Coronavirus, belum terhitung jumlah sakit, terpapar dan meninggal dunia akibat serangan wabah penyakit lainnya.

Indonesia dalam update woldometer per tanggal 12 September 2020, sebanyak 214.746 orang positif covid-19 atas penambahan 3.806 pasien. Jumlah kematian mencapai 8.650 orang dari penambahan 106 orang meninggal dunia.

Dengan fakta seperti ini, sudah seharusnya seluruh manusia sepakat untuk tidak menganggap enteng, hentikan anggap enteng, sebab fakta covid-19 terus menggerogoti manusia dari waktu ke waktu.

Jumlah Penderita, jumlah Manusia yang Meninngal Dunia dan jumlah Pasien Sembuh  sepatutnya tidak di-adu dan atau keburu diutak-atik untuk mengatakan ‘jumlah orang yang sakit corona memang banyak, tetapi angka kematiannya tidak begitu banyak.

Sebab, itu jelas merupakan wujud sikap, mental dan moral tidak bertanggungjawab atas ancaman besar di depan mata, atas penderitaan sesama yang terpapar, atas deretan nyawa sesama manusia yang telah pergi untuk selamanya akibat wabah masif covid19 coronavirus.

Anggapan ‘jumlah orang yang sakit covid-19 coronavirus memang banyak, tetapi angka kematiannya tidak begitu banyak’’ juga merupakan wujud sikap, otak, mental dan moral tidak bertanggungjawab sebagai manusia atas barisan nyawa manusia lain dalam fakta  kematian dunia yang telah menoreh angka mendekati satu juta manusia meninggal dunia, 28juta orang lebih ‘tengah menderita, terpapar dan terkapar, 200ribu lebih warga NKRI terpapar, lainnya terkapar, kematian sudah mendekati 10ribu warga NKRI meninggal dunia.

Belum lagi ditambah dengan catatan kegelisahan lain dunia yakni belum ada rekomendasi mutlak medis dunia dan atau bangsa-bangsa mengumumkan hasil apakah pasien yang dinyatakan sembuh dari covid-19 coronavirus adalah sembuh total atau tidak.

Wabah Kerumunan dan Pesta Pora

Pada Bulan Juli tahun 1518 terjadi Epidemi Tarian di Strasbourg, Alsace (bagian dari kekaisaran Romawi Suci). Sedikitnya sekitar 400 orang menari selama berhari-hari tanpa istirahat. Berikutnya setelah itu selama sekitar satu bulan, banyak orang dari mereka terkena tumbal, serangan jantung, stroke, kelelahan, meninggal dunia.  

Stay at home atau tinggal lah dalam rumah saja, jangan kemana-mana, stop berkerumunan, wajib mencuci tangan, wajib memakai masker, wajib menjaga jarak, jangan bepergian ke luar daerah, jaga imunitas tubuh, berlakunya budaya new normal, semuanya telah dan sedang mengisi jejak upaya nyata umat manusia dari serangan wabah covid-19 coronavirus tahun 2020, bahkan menuju 2021.

Riuh gaduh kerumunan dan pesta pora di tengah wabah masif covid-19 coronavirus pun tidak kalah diperagakan di setiap hari kehidupan manusia di sejumlah titik pemukiman warga masyarakat di Pulau Flores, NTT.

Dilihat dari perilaku dan budaya waspada, “New Normal” seolah telah dihapus “New” menyisahkan “Normal”, lalu segalanya kembali ke kondisi normal, berkerumun saja tanpa pengaturan, tanpa ada lagi larangan, tanpa sanksi, semarak pesta pora terus meningkat di tengah wabah ganas covid-19 coronavirus yang kian merapat, semakin mendekat dan sudah ada yang terpapar.

“Pada Bulan Juli tahun 1518 terjadi Epidemi Tarian di Strasbourg, Alsace (bagian dari kekaisaran Romawi Suci). Sedikitnya sekitar 400 orang menari selama berhari-hari tanpa istirahat. Berikutnya setelah itu selama sekitar satu bulan, banyak orang dari mereka terkena tumbal, serangan jantung, stroke, kelelahan, meninggal dunia”.

Epidemi tarian tahun 1518 di Strasbourg, Alsace kala itu dunia dalam kondisi normal, tidak sedang digempur wabah penyakit ganas, itu saja menoreh angka kematian banyak, serangan jantung, stroke dan tumbal.

ENTAH, apa jadinya nanti, ketika kerumunan dan pesta pora terus bergelora di tengah wabah masif covid19 coronavirus. Ya, katakan saja, kerumunan dan pesta pora itu seperti wabah di tengah wabah. !

Wabah Corona Vs Wabah Kerumunan dan Pesta Pora, Awas Kewalahan dan Kita Gagal Menghentikan Laju Pandemi Covid-19 Coronavirus!!!

Catatan Pojok Bung Red