Mengenang Jacob Oetama

Oleh : Anthony Tonggo

Menunggu Mesin Ketik

KETIKA saya aktif menulis di media ketika mahasiswa, banyak mahasiswa ikut belajar menulis, termasuk anak-anak NTT. Namun banyak yamg mengalami keterbatasan fasilitas untuk membeli mesin ketik, beli kertas, beli pita mesin tik, tip-ex (penghapus), amplop dan perangko (untuk mengirim naskah via PT Pos). Sebagai mahasiswa dari latar belakang ekonomi lemah, mesin ketik saat itu seharga Rp. 500.000 itu terlalu mahal. Kami tidak bisa beli.

Bagaimana mau menulis kalau mesin ketik tidak ada?

Mesin Ketik Bersama

KUMPULAN mahasiswa yang mau menulis sekitar dua puluhan anak. Mesin ketiknya hanya dua unit, satunya milik saya, sisahnya milik Even Edomeko. Solusinya adalah mengetik bergiliran, setelah saya mengetik, giliran Timo Teweng, Peter Palbeno, dan seterusnya. Mesin yang satunya dipakai oleh Tonce Tolentino Kenko Nicholas, (almarhum) Ory Tadju, Marten Golo, dstnya.

Ditambah dengan aktivitas diskusi, susana siang dan malam hari di kos-kosan kami jadinya cukup ramai. Mengetik naskah bisa sampai tengah malam, makanya kami harus begadang.

Ketika dapat honor menulis dari media hanya cukup untuk beli makan, bayar kos, beli kertas, amplop dan perangko. Dengan keterbatasan itu, untuk membeli mesin ketik sangatlah tidak cukup. Timbullah ide untuk mencari bantuan mesin ketik. Apakah bisa?

Syarat Bantuan

KAMI pelajari syarat untuk mendapatkan bantuan fasilitas dari donatur. Ternyata syaratnya untuk pengembangan SDM dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat luas. Apakah kegiatan kami memenuhi dua persyaratan itu?

Kegiatan itu memaksa kami membaca, diskusi, dan menulis. Sudah pasti ini bermanfaat untuk pengembangan diri kami. Berarti sudah satu syarat terpenuhi.

Lalu, setiap hari kami membaca media, mendiskusikan berita-berita utamanya, menuliskan hasil diskusi, lalu terbit di media massa. Berarti ini berguna untuk orang banyak, yaitu fungsi pendidikan masyarakat hingga fungsi ikut berkontribusi dalam wacana publik Indonesia yang akan bisa mempengaruhi opini publik. Berarti syarat kedua pun terpenuhi.

Timo Teweng dan Marten Golo bertugas untuk mengeksekusikan dalam bentuk proposal dan mengirimnya. Spekulasi, mereka pun mengirim ke Om Jacob Oetama sebagai Bos Kelompok Kompas Gramedia (KKG) di Jakarta Pusat.

Hari berganti hari, setiap Pak Pos datang dikira mengantar kiriman bantuan mesin ketik dari Om Jacob. Ternyata tidak ada. Akhirnya sudah cape menghitung hari dan berharap. Lalu diam dan lupa. Tetap satu lobang ramai-ramai dengan dua mesin ketik yang ada.

Setelah empat bulan berlalu, datanglah seorang kurir dari sebuah toko. Utusan dari toko penjualan mesin ketik terbesar. Kurir itu mencari orang yang bernama Marten Golo dan Timo Teweng. Ada surat.

Setelah buka dan baca, ternyata Marten dan Timo diminta segera berangkat ke toko untuk memilih sendiri mesin ketik di toko mereka. Uangnya akan dibayar Om Jacob Oetama dari KKG.

Melonjak kegirangan sambil mengucap “Terima kasih Tuhan, terima kasih Om Jacob Oetama!”.

Ketika saya studi S2 di UGM pun Om Jacob membantu satu buah komputer dan saya ambil langsung di Kantor KKG Jakarta Pusat.

***

Lebih Produktif & Hemat Waktu

DENGAN bertambahnya dua mesin ketik itu, produktivitas diskusi dan menulis kami semakin bertambah. Bahkan mesin ketik itu bisa dipakai untuk pembuatan tugas-tugas kuliah. Juga tidurnya bisa lebih awal.

Efek lainnya setiap kami akhirnya bisa membeli tambah mesin ketik sendiri-sendiri.

Kini kami menerima kabar duka Bangsa ini, Om Jacob Oetama telah pergi untuk selamanya. RIP, Om Jacob! Terima kasih atas semua jasa Om untuk kami. Semoga Allah menerimamu di surga.

Jacob Oetama, KKG, Menjual ‘Makna

Menjawab pertanyaan “Mengapa KKG dan Kompas jadi media bertaraf dunia?”

SATU-SATUNYA media Indonesia yang masuk dalam kelompok Pers paling berpengaruh tingkat dunia adalah Harian Kompas dan seluruh produk Kompas-Gramedia.

Di Indonesia pun orang merasa bergengsi apabila menulis atau membaca Kompas. Seluruh produk KKG seperti Majalah Intisari, Bobo, Hai, Nova, dll. adalah bacaan paling populer dan bergengsi.

Bahkan KKG adalah raksasanya bisnis komunikasi di Indonesia. Semua pers dan penerbitan tentu berangan-angan agar bisa sebesar Kompas dan KKG. Namun, dalam kenyataannya, pers lain setengah mati untuk hidup.

Pertanyaannya: Mengapa jualan Kompas dan KKG yang paling laris?

Tidak Sekadar 5W+1H

UMUMNYA, standar kualitas paling dasar dari pers adalah menjual berita dengan standar 5W+1H: what (apa), where (di mana), when (kapan), why (mengapa), who (siapa), dan how (bagaimana).

Untuk pers profesional, standar jurnalistik ini sudah baku, tahu, dan umum.

Setelah unsur-unsur 5W+1H terpenuhi, ternyata ada satu tuntutan kode etik pers lagi, yaitu berimbang.

Artinya semua pihak terkait berita itu harus mendapat posisi yang sama dalam pemberitaan, misalnya tidak hanya mewawancarai korban, tapi juga pelaku dan saksi mata. Jadi, W pun didetailkan menjadi W1+W2+W3 dan seterusnya. Juga H1, H2, H3, dan seterusnya.

Setelah 5W+1H secara berimbang, Jacob Oetama menambahkan lagi satu hal, yaitu “bermakna”. Artinya meskipun secara 5W+1H itu sudah terpenuhi, namun Jacob Oetama menambah satu kode etik di KKG, yaitu ‘makna’.

Artinya meskipun suatu fakta 5W+H itu terpenuhi, namun kalau tidak berguna bagi kehidupan umum, Kompas dan KKG tidak akan memberitakannya. Kompas bukan menjual sensasi, tapi menjual makna.

Ketika Kompas dan KKG menjual makna, inilah yang membedakan antara Kompas KKG dan pers lain.

5W+1H dan Berimbang itu terlalu rendah, tapi Kompas dan KKG sudah menjual nilai “makna”.

Bicara nilai dan makna adalah bicara filsafat sebuah pers. Jadi, ketika yang lainnya menjual berita, Kompas dan KKG sudah lebih tinggi dari itu, yaitu menjual nilai atau makna. Berita yang tidak berguna bagi kehidupan masyarakat tidak menjadi perhatian Kompas dan KKG.

Contoh, pers lain suka pada berita artis kawin cerai. Kompas tidak memberitakan perceraian artis, karena tidak ada guna bagi masyarakat umum. Efek perceraian itulah yang diberitakan Kompas, sehingga bisa menjadi refleksi bagi orang lain dalam memilih cerai atau tidak.

UGM termasuk universitas yang serius mengamati dan mengkaji sepak terjang Jacob Oetama, Kompas dan KKG. Akhirnya melalui pertimbangan matang para ahli, tanggal 17 April 2003 UGM memberi gelar Doktor Honoriscausa kepada Jacob Oetama dengan pidato ilmiahnya “Jurnalisme Bermakna”.

Inilah sumbangsih terbesar Jacob Oetama dalam paradigma pers di Indonesia, yaitu bukan sekadar menjual berita 5W-1H dan Berimbang, tapi menjual “makna”.

Tahun 2014, UNS Solo pun memberi gelar Doktor Honoriscausa lagi untuk Jacob Oetama untuk bidang Ilmu Jurnalistik.

Mutu Kompas dan KKG tidak terlepas dari mutu SDM wartawan dan karyawannya. Kompas dan KKG selalu merekrut lulusan-lulusan terbaik dari kampus-kampus terbaik. Kompas dan KKG pun membiayai studi lanjut wartawan dan karyawannya.

Alumni filsafat termasuk dominan di Kompas dan KKG. Banyak pemuda Flores lulusan Ledalero dan Ritapiret berkarya di situ. Maka wajarlah saja kalau Jurnalisme Bermakna bisa berkembang di sana. Tanpa modal SDM tinggi (terutama filsafat), sulit untuk berbicara makna. Kebetulan juga Om Jacob Oetama adalah jebolan seminari Mertoyudan yang terkenal dengan misi 3S: Sains, Suci, dan Sehat.

Lalu, apa pengaruhnya terhadap kualitas SDM masyarakat?

Menaikkan SDM Masyarakat

KARENA Kompas dan KKG itu memiliki kualitas tinggi, maka kelas penulis dan pembaca Kompas KKG pun jadi elit. Mereka masuk dalam deretan kelompok SDM tinggi. Yang tidak memiliki kualitas memadai, dia tidak akan betah baca/langganan atau menulis di Kompas.

Sebenarnya seseorang terlahir bukan langsung ber-SDM elit. Dia mulai dari rendah terus merangkak naik. Nah, Kompas KKG-lah yang menaikkan mereka. Saya membaca Kompas dari tidak paham apa-apa sampai kini menikmati. Dari tidak bisa menulis sampai bisa menulis di Kompas dan beberapa produk KKG.

Kompas punya standar tinggi. Karena dia tinggi, maka orang yang mau menulis di Kompas pun terpaksa harus naikkan mutunya dulu. Pembaca Kompas pun begitu; harus naikkan SDM dulu baru bisa nikmati Kompas. Ini berarti Kompas dan KKG sudah menjadi mesin pendongkrak jutaan orang Indonesia untuk menaikkan SDM-nya. Setelah menjadi penulis atau pembaca Kompas dan KKG, maka Kompas dan KKG menjaga mutu penulis dan pembacanya dengan menyajikan informasi-informasi bermutu.

Jadi, Jurnalisme Bermakna Om Jacob Oetama yang dia tanamkan di Kompas dan KKG telah mendongkrak mutu SDM bangsa ini. Bila semua pers di Indonesia menampilkan gaya “Jurnalisme Bermakna” seperti Kompas dan KKG, maka pembangunan SDM bangsa kita akan jauh lebih hebat lagi.

Kini Om Jacob Oetama sudah wafat. Semoga Kompas dan KKG tetap setia mengemban dan mengembangkan prinsip etika “Jurnalisme Bermakna”-nya almarhum. Juga, semoga dipakai oleh semua pers dan penerbitan di Indonesia ke masa depan.

Selamat Jalan Om Jacob Oetama! Beristirahatlah dalam damai Tuhan…! (***)

Penulis : Anthony Tonggo, Alumnus FISIPOL UGM, tinggal di Yogyakarta.