Mana Kepeloporan, Baca Tabiat Masa Depan Kepemimpinan Dengan Pemilu Corona

“Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian mengajak masyarakat mem-bully calon kepala daerah yang menciptakan keramaian di tengah pandemi Corona”.

Catatan Pojok Bung Red

Penyelenggaraan Pemilukada Tahun 2020 yang dilakukan persis pada masa pandemi covid-19 coronavirus dengan catatan emergency medis global, nasional, provinsi dan daerah-daerah sangat terang benderang dikepung penularan covid-19 dengan angka kematiannya masing-masing, sewajarnya perlu dimaknai secara lebih jauh, bahwa itu semua tidak hanya tentang masalah kesehatan, hanya tentang ancaman keselamatan, hanya tentang hiruk pikuk proses pemilukada dan pemenangan hari ini, namun lebih jauh dari itu, sepantasnya dijadikan juga sebagai momentum atau kesempatan bagi masyarakat bangsa Indonesia untuk membaca perilaku seluruh calon pemimpin dalam bayangan tabiat masa depan kepemimpinan orang banyak.   

Bagaimana cara membaca ?.

Sangat sederhana !. Pemimpin adalah Gembala yang selalu diguguh, ditiru. Calon pemimpin adalah para calon gembala untuk kebaikan, kesehatan, keselamatan, kemakmuran, keharmonisan, keindahan, kemajuan, keadilan, kebenaran dan seterusnya di masa-masa mendatang. !

Hari ini, dunia dan segenap umat manusia begitu gelisah, terancam wabah masif covid-19 coronavirus yang selalu mengancam keselamatan manusia, tanpa kecuali siap menerkam siapa saja.

Bangsa-bangsa bergejolak, bagaimana caranya memecahkan perkara krusial yang satu ini. Para pemimpin tidak lagi tersenyum lepas seperti sebelumnya. Tidak sedikit pemimpin menetesi air mata sedih melihat banyaknya manusia, sesama, warga masyarakat terkapar, menghembuskan nafas setelah diserang wabah covid-19 coronavirus.

Jika demikian fakta dunia, jika demikian foto para pemimpin, bagaimana hari ini Pemilukada 2020 dimaknai, dikemas dan diterjemahkan dengan penuh kepekaan, penuh rasa dan tindakan dari para calon pemimpin yang maju bertarung untuk memimpin masa depan?.

Sederhana saja, jangan menunggu terpilih, dilantik dan menjabat untuk memerintah tertib kesehatan. Lakukan hari ini sebagai ekspresi moral dan tanggungjawab panggilan memimpin di masa depan.

Sebab, ini juga waktunya para calon pemimpin untuk show kepeloporan melawan show kondisi kerumunan yang jelas-jelas mengancam nyawa masyarakat atau pemilih, pemberi amanat untuk memimpin mereka di masa depan.

Riuh gaduh panggung suksesi dan kerumunan layaknya dunia sedang girang !

Euforiah politik, budaya hore panggung suksesi, kerumunan pentas mobilisasi pemilu di tengah wabah covid-19, seharusnya tidak seperti gaduh pasar tanpa skala, tanpa batasan, tanpa contoh memberi petunjuk, sebab kita semua dan atau masyarakat tengah berduka, tengah diancam wabah ganas, pemngsa tak kelihatan, covid-19.

Dengan adanya wabah seganas covid-19, para calon pemimpin yang maju dalam pesta Pemilukada 2020 seharusnya mulai mempraktekan kondisi, membayangkan seolah-olah sudah memimpin, lalu mensimulasi penyelamatan masyarakat dengan cara-cara ketaudanan, terhormat di hadapan orang banyak.

Misalnya : tidak mengumpulkan massa untuk berkerumun di tengah ancaman wabah, atau mempelopori uji kesehatan timses dan kelompok warga yang nanti diajak untuk berkumpul mendengarkan orasi politik suksesi, meneriakan hentikan sementara pesta pora dengan dandanan kerumunan massa, dan seterusnya.

Sebab, itulah tindakan untuk menyelamatkan bangsa manusia, negara, daerah yang berisikan nyawa dan hak hidup sehat masyarakat, dalam mimpi-mimpi masa depan pemimpin selaku pelopor perubahan dan tindak nyata.   

Apa Boleh Buat !

Parade kerumunan panggung suksesi Pemilukada 2020 seolah berjalan tanpa kendali, mungkin juga minim kepeloporan. Miris !

Kita seolah lupa menalar bahwa hari ini adalah masa depan itu sendiri. Perilaku para calon pemimpin hari ini menunjukan budaya politik, budaya kekuasaan, budaya tata kelola, dan lain-lain di masa-masa mendatang. Apalagi tentang kesehatan dan ancaman nyawa masyarakat.

Jika kepeloporan hari ini seolah sirna, iya kah di depan sana ada perubahan maha dahsyat ?.

Para calon pemimpin yang acuh pada upaya tangkal covid-19, acuh pada peduli waspada nasib banyak orang, sebaliknya sangat menikmati kerumunan di tangah wabah covid-19, bukan tidak mungkin itu jelas mencirikan kehancuran masa depan pengayoman, apalagi bicara tentang perubahan.  Bukan tidak mungkin demikian adanya !

Menteri Dalam Negeri, Tito Carnavian ajak masyarakat silahkan bully para calon kepala daerah yang mengumpulkan masa untuk berkerumunan di tengah wabah covid-19 coronavirus!

Salam Pemilukada 2020

Mana Kepeloporan, Baca Tabiat Masa Depan Kepemimpinan Dengan Pemilu Corona !

Catatan Pojok Bung Red