Karmianto Eri, S. Fil: Politik itu Seni Berbagi

LN Focus Indonesia News │ Maumere, saya kenal baik si politisi cilik kelahiran tanah Uwa Palue, Kabupaten Sikka, Yoseph Karmianto Eri, S.Fil. Beliau yang lazim disapa Manto Eri yang menyandang gelar sarjana Filsafat pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, sudah dua periode ini menggeluti tugasnya sebagai anggota DPRD Kabupaten Sikka dari Partai Kebangkitan Bangsa, partainya mantan presiden RI Haji Abdurahman Wahid atau Gusdur.

Seorang anak sederhana yang lahir dan dibesarkan dalam sebuah keluarga sederhana dan mengalami ganasnya arus kehidupan yang menerpanya di pulau yang memiliki iklim yang kering dan tandus. Kondisi dan situasi inilah yang menuntut Manto untuk senantiasa berpegang teguh pada prinsip ini Vita est militia, hidup adalah perjuangan. Ganasnya arus kehidupan inilah yang menuntut beliau, anak kampung ini untuk tetap bertahan dalam melakoni kehidupan ini. Hal ini terlihat dengan jelas saat Manto mulai kuliah S1 di bukit sandar matahari saat itu.

Sebagai seorang mahasiswa ekstern (sebutan untuk para mahasiswa non frater) saat masih kuliah di STFK Ledalero, Manto kelihatan begitu tekun dan serius mengikuti kuliah bersama para Frater dan segenao civitas akademika STFK Ledalero. Dalam kesempatan sharing dan cerita pengalaman bersamanya, Manto awalnya merasa gugup saat berkuliah bersama para frater. Namun, kebesaran jiwanya, Manto akhirnya perlahan-lahan bisa beradaptasi dengan lingkungan dan para mahasiswa lainnya.

Seringkali Manto bersama saya, (saat itu saya masih Frater di Ledalero) belajar bersama dan menyelesaikan tugas bersama-sama dengan dia di wisma tempat tinggal saya. Saya sering memberi motivasi dan mengarahkan dia untuk tetap tabah dan bertahan untuk kuliah bersama para frater. Saya kenal baik Manto, orangnya sederhana, humoris dan suka tertawa. Seringkali terlibat dalam diskusi bersama dan diskusi berdua soal fenomena-fenomena sosial kemasyaratan yang sering terjadi dalam masyarakat dan relevasnsinya dengan materi perkuliahan yang diperoleh di STFK Ledalero. Fenomena sosial kemasyarakatan yang terjadi ini selalu dipandang dalam terang filsafat dan teologi. Dari sini maka kita bisa membaca makna filsafat dan teologi dalam kaitan dengan realita yang dihadapi di tengah masyarakat.

Manto begitu lugas dan luwes bergaul dengan para frater. Manto akhirnya menyelesaikan kuliahnya di STFK Ledalero. Sebagai seorang sarjana Filsafat, Manto mulai meniti karirnya dengan terjun dalam dunia perpolitikan di kabupaten Sikka. Beliau akhirnya terpilih menjadi anggota DPRD Sikka dua periode hingga saat ini. Pada periode kedua, Manto dengan militansinya sebagai seorang anggota DPRD akhirnya mewakili Partai Kebangkitan Bangsa menduduki kursi sebagai Wakil Ketua DPRD kabupaten Sikka.

Sebagai seorang wakil ketua DPR, Manto dalam setiap kesempatan selalu fokus dengan komitmentnya untuk tetap bersuara mewakili rakyat yang adalah pemilik sah kedaulatan ini. Saya ingat baik ketika deklarasi paket Robby Idong, Bupati Sikka saat ini, Manto menelpon saya dan meminta dukungan dan motivasi dari saya dan mendoakan dia untuk tetap berkoalisi dan mendukung Robby Idong. Satu-satunya partai pendukung yang sekiblat dengan Robby Idong saat itu cumalah PKB di bawah kepemimpinan Manto Eri.

Komitmen dan perjuangannya yang selalu pro rakyat, serta option dan keberpihakannya yang tulus dan ikhlas pada rakyat pada akhirnya menghantarnya ke kursi wakil ketua DPRD Kabupaten Sikka. Dalam refleksi pribadi dan perbincangan saya dengan teman-teman dekatnya di Maumere, serta pengamatan saya terhadap militansinya sebagai seorang wakil rakyat, Manto dikenal publik dan masyarakat luas karena keberpihakannya terhadap masyarakat. Menurut mereka, sebagai anggota legislatif, hal utama dan pertama yang niscaya diperjuangkan adalah kepentingan rakyat. Kepentingan rakyat harus ditempatkan di atas segala-galanya. Anggota DPR harus turun dan terlibat dalam kehidupan masyarakat, peka terhadap kebutuhan masyarakat dan selalu mendengar dan memperjuangkan aspirasi masyarakat.

Di tengah pandemi covid 19, Manto tidak tinggal diam, selalu turun berbagi ke masyarakat. Bantuan-bantuan dari partai dan inisiatif pribadinya lancar mengalir ke tengah masyarakat. Inilah tabiat dan tipikal anggota DPRD yang sederhana dan selalu memahami situasi dan kebutuhan masyarakat. Dia tidak hanya omong di ruang dewan dan ruang paripurna melulu, namun selalu turun untuk berbagi dan merasakan penderitaan masyarakat. Ketika ditanya melalui telepon selulernya, Manto dengan lantang mengatakan bahwa politik adalah seni dalam berbagi. Berbagi apa saja, entah itu ide dan gagasan maupun material yang langsung kena sasar ke masyarakat. Politk dianggapnya bukan semata-mata sebagai sebuah kekuasaan tetapi lebih dari itu politik dimaknainya sebagai seni dalam berbagi, seni dalam membahagiakan orang, seni untuk bonum comunne. Spritualitas inilah yang selalu menginpirasi Manto untuk tetap menghidupi karier pilitiknya. Di sisi lain, Manto juga selalu mengedepankan politik itu sesungguhnya sebagai sebuah sakramen. Politik in se adalah sebuah sarana yang menyelamatkan orang. Dengan bergelut dalam dunia pilitik, Manto senantiasa berjuang dengan caranya untuk membahagiakan dan menyelamatkan masyarakat umum. Spirit inilah yang selalu dipegangnya kapan dan dimanapun dia berada sebagai seorang wakil rakyat yang selalu merakyat.

Profisiat kawan Manto Eri, terlalu mantap pengabdianmu di tengah dunia ini, khususnya dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat. Tetaplah terdepan dalam menyuarakan kepentingan rakyat.

Penulis:
Syl Witin, teman dekat saat kuliah di bukit sandar matahari, sekarang tinggal di Weri-Larantuka.