FLORA : SI GADIS CENTIL ITU LULUS SMA DI MASA PANDEMI COVID19

———————————————– Catatan :

Nama Flora yang dipilih adalah nama imaginatif yang lahir dari inspirasi penulis.

Kata centil yang digunakn ini lebih bermakna positip, kreatif, suka tampil, selalu beraction dan suka menarik perhatian orang.

Hari itu Senin, 04 Mei 2020, berbeda dari tahun tahun seblmnya, di saat sang surya perlahan lahan berpamitan dari peraduannya, senja itu kududuk terpesona di pinggiran tasik nan indah, di benakku terlintas dialog imaginer ku dengan Flora, si gadis centil yang pernah ada di hatiku dan sepenggal kisah hidup yang terajut bersamanya di saat saat akhir persiapan pembelajaran di kelas sebelum ujian sekolah berstandar nasional berlaku di sekolah kami.

Flora, si gadis centil, berkulit sawo matang, berambut panjang dan keriting asli yang selalu diikatnya dengan gaya dan model yang berbeda dari biasanya. Ketika senyum, giginya putih gemulai dan jadi bahan olokanku, sekedar berhura hura.

Flora menjadi sosok perempuan yang selalu tampil beda, perawakannya yang polos dan lugu dan sering membuatku berpikir dan selalu berpikir ajan jadi apakah dia di kemudian hari?.

Di kelas pada saat pembelajaran berlangsung, perempuan ini pun terkadang suka berulah lain dari yang lain. Ketika saya serius menjelaskan materi pembelajaran, Flora selalu serius mengikutinya dan selalu fokus dengan apa yang diajarkan. Namun, disisi lain Gadis centil juga selalu tampil beda.

Disaat semua temannya tertawa, dia sendirintidak tertawa dan serius seolah olah pikirannya pesiar jauh, hanya ada tubuh fisiknya. Dia selalu mengelamun. Terkadang saya menegurnya, dia kaget bahkan tertawa sendiri. Saya bertanya, Flora sudah mengerti apa yg dijelaskn? Dia dengan spontan berteriak, “saya sudah mengerti pak”. Lanjut saya bertanya, apa yang kamu mengerti? Dia senyum saja dan tertawa. Satu hal positif yang saya perhatikan selama dalam proses di kelas, Flora selalu aktif, serius dan selalu suka menghibur teman temannya di kala situasi serius. Flora juga selalu responsif di saat saya harus membutuhkan jawaban atau klarifikasi dari mereka, entah itu benar maupun tidak benar.

Prinsipnya si perempuan centil ini menjadi penyemangat bagiku di ruang kelas. Di saat saat akhir persiapn kami menjelang ujian sekolah, Flora selalu aktif mengikuti dampingan dari setiap guru. Untuk membuktikan persiapannya, saya bertanya langsung padanya di suatu kesempatan, Flora, kamu sudah siap ikut ujian, dengan spontan dia mnjawabku, “saya sudah siap pa guru”. Betul, saya sudah siap pa guru. Sayangnya persiapan mereka akhirnya terkandas di masa wabah pandemi covid19. Tagar stay at home mulai berlaku.

Sekolah sekolah terpaksa dihentikan proses pembelajarannya. Ujian Nasional ditiadakan. Dalam situasi ini, Flora si gadis polos dan lugu ini sempat komunikasi denganku via messenger, “pa guru, bagaimana dengan nasib kami ini, angkatan covid yang tidak ikut ujian nasional ini?”.

Supya tidak repot dan tidak kerja berat, luluskan kami saja to? Saya pun tersenyum membaca beberapa pesan singkatnya via messenger saya. Saya berpikur dan brgumam campur lucu dalam diamku. Flora, kamu memang suka berulah lain e. Saya pun membalasnya, Flora, kamu memang angkatan yg tidak ikut ujian nasional, tetapi kamu telah melewati seluruh proses pembelajaran dgn baik dan kamu juga telah dibentuk dan ditempah selama dalam proses pendidikan ini di lembaga pendidikn kita. Itu artinya, kamu juga pasti akan menerima hasilnya. Pasti ada kebijakan baru yang bisa nembantu semuanya itu, apalagi dibtengah pandemi ini.

Kamu memang tinggal dirumah saja tetapi spirit pemvelajaran kita di sekolah itu tetap ada dan selalu hidup di hati kita. Walaupun tetap stay at home tetapi nuansa sekolah itu tetap hidup dan mnjiwai kita. Pembelajaran dari rumah juga merupkn pembelajarn yg baik. Belajar dibrumah juga penting karn di rumah itu ada guru utama yaitu orangtua dan wali kita. Rumah itu penting karna rumah adalah gereja kita atau ecclessia domestica. Covid19 ini rupanya mempertegas peran kita dari rumah kediaman kita selama ini.

Kita mesti bljar dibrumah. Kalau kita kluar dri rumah, orang di rumah mesti tahu itu.

Hari ini, Flora si gadis centil itu bersama teman temannya mendengar pengumuman kelulusan mereka walau via online. Beda dengan tahun rahun seblmnya, yang harus berkumpul ramai ramai diskolh dan joget jogetan setelah mendengar hasilnya. Covid 19 memang kendala besar. Flora pasti sangat membenci covid19.

Flora harus mengakui bahwa situasi inilah yang membuat semuanya berubah. Flora berusaha terima hasilnya, Flora dan teman temannya LULUS 100 PROSEN DI TENGAH WABAH PANDEMI COVID19 INI.

Ini bukan lulus kebetulan tetapi lulus karena telah melewati proses pembelajaran selama tiga tahun. Flora, kamu memang gadis centil yang mau mau tidak mau harus terima situasi ini. Orang luar pasti akan juga menstigma kalian bahwa kalian adalah angkatan covid19, generasi corona yang tidak ikut ujian nasional tetapi lulus pada saat ini. Kalian adalah generasi yang merayakan keberhasilan studimu ditengah wabah besar yang lagi melanda dunia ini. Untuk itu maka aku cuma berpesan padamu Flora, rayakan keberhasilanmu ini dengan suasana yang baik, sopan dan wajar.

Jangan bergembira ria dengan pawai pawaian, coret coret baju dan pakaianmu, minum mabuk dan joget jogetan sampai lupa diri. Rayakan keberhasilan kelulusanmu di tengah situasi covid 19 ini dengan tunduk merendah dan bersyukur bhw Tuhan masih ada bersamamu dan berkatNya masih tercurah ke atasmu.

Mintalah kepadaNya untuk tetap berjalan bersamamu dalam menggapai masa depan cita citamu yg masih jauh terbentang luas ini. Berdoalah kepadaNya, agar badai pandemi covid 19 ini cepat berlalu dari hadapanmu.

Profisiat dan salam sukses buatmu Flora, kamu gadis centil yang telah berhasil dan lulus SMA di tengah covid19 ini dan kamu juga telah membuatku bangga karena telah memberiku inspirasi untuk tetap setia dan bertahan dalam tugas dan profesiku sebagai guru. Selamat berpisah dan aufwiedersehen!

Kenangan SMAN 1 Larantuka

Salam untuk mu semua anak-anak ku

Yang lulus SMA di masa Covid19.

)Syl Witin).