Dulu dan Kini Dongeng Tentang Kelaparan & Bantuan

Oleh : Anthony Tonggo

DI zaman ini terlalu banyak yang gaduh. Politik, gaduh. Beragama, gaduh. Berekonomi, gaduh. Lapar, gaduh. Bantuan sosial, gaduh.

Ini saya bandingkan dengan orang zaman doeloe. Contoh, yang namanya “lapar” karena bencana dan kemiskinan itu sudah ada sejak doeloe.

Apa perbedaan orang lapar zaman doeloe dan kini?

***

Dulu: Tiga Cara Mengatasi Kelaparan

TAHUN 1961 itu gempa bumi hebat berhari-hari. Orang Ende bilang “epu rendu” atau “epu weo” (epu = gempa; weo/rendu = goyang). Banyak orang mengungsi; selain mencari tempat yang nyaman, juga ingin berkumpul dan mati bersama keluarganya. Berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan hidup di pengungsian.

Tanggal 27 Januari 1969 gunung Ia di Ende meletus. Warga lokal Ende mengenal dengan peristiwa “Ia Mbo”—Ia meletus. Apinya seperti membakar kota Ende. Batu-pasirnya sampai ke Ngada, sampai pantai utara Flores. Abunya ke mana-mana hingga sebulanan. Orang pada mengungsi puluhan kilometer. Kami yang jaraknya 20 km dari Ia pun masih harua mengungsi jauh lagi. Tanaman pertanian pada rusak dan gagal panen. Lapar.

Banjir bandang dan longsor itu tiap tahun terjadi. Rumah, pondok, dan kebun petani pun hancur.

Gagal panen pun rutin terjadi, terutama karena curah hujan berlebihan dan diserang hama.

Semua itu membuat kemiskinan melanda. Jangankan wajah nasi, wajah ubi kayu pun jadi jarang bertemu.

Badan kurus kering. Busung lapar di mana-mana.

Satu-satunya bantuan sosial cuma gereja. Negara di masa itu pun tidak berdaya. Gereja Katolik karena punya relasi dengan orang Eropa, sehingga bantuan berupa gandum, bulgur, susu full-cream, pakaian, obat-obatan pun kadang datang dari Eropa melalui gereja.

Tak ada pihak yang disalahkan. Tak ada suara memaki siapa pun. Bahkan tak ada permohonan ke gereja, pemerintah, dan donatur. Orang di era itu cuma diam dan menerima dengan lapang dada. Mereka menganggap semua itu atas mekanisme alam.

Bagaimana orang era itu bertahan hidup?

Kami berduyun-duyun masuk hutan. Di hutan ada banyak ubi hutan. Ada banyak pohon berbuah. Ada banyak tumbuhan jadi sayur. Ada banyak hewan yang bisa diburu buat lauk.

Kami juga masuk sungai. Di sana banyak ikan, udang, belut, dll. yang bisa kami pancing, jerat, atau bikin dengan racun alami. Lauk hewani pun segera kami lahap.

Memang setiap orang tidak akan memiliki segalanya, sehingga diantara warga di zaman doeloe saling membantu. Kalau tetangga punya sebuah kelapa, dia akan bagi separuh untuk tetangganya. Bahkan kalau lewat di kebun kelapa, kadang tuannya memberi kelapa berbuah-buah buat kita. Biar semua merasakan kesejahteraan bersama.

Satu-satunya yang kami kesulitan mencari sendiri di hutan dan sungai cuma garam. Garam harus kami beli di kota. Karena uang sulit, seringnya barter; garam ditukar dengan ubi atau daging burung.

Kalau ada bantuan datang dari Eropa di gereja, biasanya pastor mengumumkan di mimbar gereja: bagi yang membutuhkan silakan ambil.

Di gereja tidak ada penumpukan massa yang mau ambil bantuan. Jarang juga orang yang mau ambil bantuan.

Pengambilan bantuan pun tidak pakai kartu identitas atau surat apa pun, karena zaman itu administrasi kependudukannya belum selengkap sekarang. KTP dan KK itu tidak ada. Satu-satunya administrasi cuma buku register di Kantor Desa.

Meski tidak ada tanda pengenal, tidak ada yang mau ambil bantuan berkali-kali. Begitu pastor bilang satu keluarga cuma satu kali ambil, selanjutnya sudah tidak ada lagi yang mau nakal ambil lebih dari satu kali. Padahal pengambilan bantuan pun tidak diawasi pastor. Orang ambil sendiri tanpa diawasi dan tanpa harus mengisi administrasinya (bagaimana mau tertib administrasi, cari alat tulis sulit dan kebanyakan orang tidak bisa baca-tulis). Namun tetap tertib.

Selain dengan usaha mandiri masuk hutan dan sungai serta saling membantu antar-tetangga, juga ada silaturahmi dengan sesama saudara kami yang beragama Islam yang bertempat tinggal di kota dan pantai selatan Ende. Salah dua keluarga muslim di kota/pantai yang sering bersilaturahmi dengan keluarga saya di desa adalah Ambuwaru (zaman itu Nenek Achmad Ambuwaru) dan Keluarga Kapita(n) Nggobhe.

Kami punya sayur, ubi, buah, beras, jagung dari desa yang tidak dimiliki saudara-saudara kami yang muslim di kota/pantai, tapi mereka punya garam dan ikan banyak. Akhirnya kami saling berkunjung sambil membawa oleh-oleh khas kami masing-masing. Kami ke saudara-saudara kami yang di kota/pantai akan membawa ubi, jagung, beras, sayur untuk mereka. Sedangkan saudara-saudara kami yang muslim di kota/pantai kalau datang kunjung kami di desa akan membawa garam dan ikan yang banyak.

Jadi, tanpa bantuan pemerintah pun, kami sudah bisa memecahkan masalah kelaparan kami sendiri. Masuk hutan dan sungai, sesekali ada bantuan dari Eropa lewat gereja, dan silaturahmi sosial-ekonomi dengan saudara di kota/pantai yang muslim.

***

Dulu dan Kini: Mana Lebih Maju?

SAYA heran, kenapa zaman semakin maju, orang semakin gaduh dengan bantuan? Zaman semakin maju kok orang semakin suka dengan bantuan? Zaman semakin maju, kok orang semakin menjauhi hutan dan sungai sebagai lumbung pangan? Zaman semakin maju kok “bantuan” jadi bersifat “paksaan”? Zaman semakin maju, orang kok semakin suka untuk mendapat bantuan lebih banyak dan semakin suka apabila orang lain tidak dapat?

Bahkan zaman semakin maju kok orang semakin menuntut bantuan. Dulu itu kalau tidak dapat bantuan, orang tidak ngamuk. Orang dulu tahu definisi atau terminologi “bantuan” itu adalah hak pemberi bantuan, bukan kewajiban. Namanya “hak” (bukan kewajiban), jadi kalau ada yang tidak dapat, mereka pun tidak marah.

Hutan itu di desa. Sungai itu di desa. Presiden tidak membawa hutan dan sungai masuk istana. Bupati dan gubernur tidak membawa ubi dari hutan dan ikan di sungai ke istana kantor mereka. Semuanya tetap ditinggal di desa. Kenapa zaman kini kalau lapar selalu berteriak ke Bupati/Gubernur/Presiden? Hahaha…!

Negara memang tetap konsisten dengan terminologi “bantuan” sebagai “hak”, bukan “wajib”.

Itu konsekuensi negara non-komunis. Negara komunis baru “wajib” mengatasi kelaparan warganya karena kewajiban warga negara sudah mereka laksanakan dengan tidak pernah punyak hak milik pribadi. Semuanya disetor ke negara. Sedangkan kita yang di negara non-komunis itu semua hasil kerja kita untuk milik kita, kita tidak setor ke negara. Jika kita memaksa negara untuk ‘wajib’ memberi kita makan, maka di mana ‘kewajiban’ kita yang sudah kita setorkan semua hasil kerja kita ke negara?

Mental inilah bisa jadi penyebab negara kita harus rajin utang supaya bisa memberi “bantuan” yang “diwajibkan” oleh rakyatnya. Setelah negara terlilit utang, kita baru bully pemerintah yang hobinya utang. Kita ini jadi rakyat yang aneh.

Fenomena ini menunjukkan bahwa ketika rakyat senang maka rakyat berperilaku kapitalis (hasil kerja untuk kekayaan pribadi), tapi ketika rakyat susah maka rakyat maunya kita komunis (negara yang wajib memberi semuanya untuk rakyat). Jadi, ketika produksi kita maunya kapitalisme, tapi ketika konsumsi kita maunya komunisme. Meski perilakunya begitu, tapi tidak mau disebut kapitalis dan komunis. Hahaha…!

Gereja, masjid, pura, dll. kini semakin banyak, ibadah semakin penuh sesak, tapi perilaku menyalurkan bantuan kepada diri sendiri dan kelompok/keluarganya daripada ke orang susah pun marak. Sepertinya antara berdo’a dan kegiatan maling atau tidak adil itu berlomba cepat saja. Padahal zaman doeloe jarang orang beragama (dulu lebih banyak yang disebut kafir/animisme—kafir dalam gereja Katolik yang artinya tidak beragama, bukan kafir yang berarti non-muslim seperti yang disebarkan segelintir orang Indonesia). Ironi, perilaku orang beragama kalah dengan kelakuan orang animisme doeloe!

Bila demikian, apa indikator yang disebut zaman kini lebih maju dari zaman doeloe? Semoga kita bisa membuktikannya! (***)

Penulis : Anthony Tonggo