Aku Rindu Guru dan Teman-teman

SAMPAI KAPANKAH BADAI INI BERLALU?

Tetap dari rumah saja – Learning from home

LN Focus Indonesia News │ Mita, seorang gadis cilik yang duduk di bangku kelas satu Sekolah Dasar Inpres Supersemar begitu antusias mendengar lantunan lagu yang diputarkan ayahnya dari handphone android yang sedang digenggamnya. Lagu itu gubahan seorang imam yang berkarya pada sebuah sekolah swasta di Keuskupan Maumere, RD. Fidel Dua, yang kebetulan sahabat baik dari ayahnya ketika masih kuliah di STFK Ledalero saat itu.

Lagu itu berjudul RINDU SERAGAM. saya kutip syair lagunya: “Guru, aku rindu seragam, sampai kapankah seragamku dipajang saja. Aku rindu bermain bersama teman-temanku, berlari di taman sekolah yang luas dan hijau. Makan minum bersama di kantin sekolah.”
“Semoga badai cepat berlalu, sehingga kita kembali bertemu di sekolah yang kita semua rindukan. Kita bersama ayo bernyanyi”.
“Guru, aku rindu sekolah, sampai kapankah kubelajar di rumah. Aku rindu belajar bersama teman-temanku. Belajar mencakar pelajaran Matematika. Baca tulis bersama di dalam kelasku.”

Lagu ini diputar dan didengarkannya secara berulang-ulang ketika dia mulai malas dan merasa jenuh menyaksikan tayangan pembelajaran yang disiarkan setiap pagi di layar TVRI. Usai mendengar lagu itu Mita selalu melanjutkannya dengan mengulangi “Aku bosan sekolah online, gak ada teman, jadinya pun bosan, gak dapat uang jajan, gak ada pemasukan. Pengennya jalan-jalan sama teman-teman, hingga kejamnya waktu yang membuatku rebahan melulu, sambil ngerjain tugas, walaupun otak panas”.

Lagu ini diulanginya setiap saat sebelum melanjutkannya dengan tik tok. Inilah aksi serta reaksi spontan yang selalu dilakukannya setiap hari selama pembelajaran di rumah (Learning from home). Sampai kapankah badai ini berlalu sehingga Mita boleh kembali mengenakan seragam sekolahnya yang sudah lama sekali tergantung kaku di sudut lemari dan bergegas ke sekolah untuk menemui bapak dan ibu gurunya serta bermain bersama teman-temannya?

Pertanyaan inilah yang selalu dilontarkannya setiap saat di masa wabah pandemi covid19 yang mengharuskan Mita dan teman-temannya untuk selalu stay at home, tinggal dan belajar dari rumah saja. Awalnya biasa-biasa saja, ketika tiga bulan lalu, pertengahan bulan Maret 2020 ketika mulai berlakunya instruksi pemerintah untuk stay at home dan melakukan pembelajaran dari rumah, Mita begitu semangat mengerjakan tugas-tugas pembelajaran yang diberikan ibu gurunya.

Ibu Mon, nama guru kelas yang begitu setia dan penuh dedikasi mengajar dan mendidik mereka selama pembelajaran di kelas sebelum wabah pandemi covid19 ini, setiap hari dalam seminggu, selalu menyapa dan selalu membangun komunikasi dengan orangtua hanya untuk melakukan kontrol terhadap pembelajaran anak-anak kesayangannya yang selalu ada bersamanya di kelas setiap saat. Setiap tugas yang diberikannya selalu dikerjakan dengan baik dan selalu dikirimnya kembali ke Ibu Mon untuk dikoreksinya. Selama kurang lebih tiga bulan, pembelajaran dari rumah seperti ini. Setiap awal hari baru dalam seminggu, halaman WA group kelas satu A, selalu terisi dengan kata-kata sapaan dari ibu Mon, baik itu menyangkut tugas-tugas untuk anak-anaknya agar segera dikerjakan dan juga pertanyaan dan harapan untuk menanyakan kondisi anak-anak kesayangannya di rumah masing-masing.

Setiap pagi, Mita selalu membuka hp mamanya hanya untuk mencek pesan serta tugas dari Ibu Mon, guru kesayangan yang sudah sangat dirindukannya. Setiap pagi juga Ibu Mon selalu mengirim via WA, jadwal tayangan pembelajaran di TVRI. Awalnya Mita memang selalu menyaksikan tanyangan pembelajaran via TVRI tersebut, namun belakangan ini dia selalu nampak jenuh dan bosan ketika diajak bapak dan mamanya untuk menyaksikan tanyangan tersebut. Ketika ditanya, “Mita, kenapa kamu tidak mau menonton lagi tayangan pembelajaran di TVRI?, Mita dengan lantang menjawab :”Aku bosan mama. Aku sudah jenuh mama. Mita sudah rindu ibu guru dan juga rindu teman-teman.

Pernah di suatu pagi, Mita mengambil selembar kertas dan spidol dan menuliskan kata-kata ini, I miss you Ibu Mon, I miss you ibu As…Aku rindu ibu Mon, aku rindu Ibu As…Ini aksi spontannya. Mita rindu sekali guru-guru dan juga teman-temanya. Sampai kapan wabah ini berlalu sehingga kebersamaan di sekolah bisa terjadi lagi.

Lagu dan syair RINDU SERAGAM, yang lagi viral di media sosial, gubahan Romo Fidel tersebut, sebenarnya mau melukiskan serta menginspirasi kita semua untuk segera kembali ke situasi awal, kembali ke rumah dan sekolah kita masing-masing dan merasakan kebersamaan dan sosialitas kita sebagai makhluk sosial (ens sociale). Kita semjua pasti rindu akan hidup bersama dalam sebuah komunitas yang serba harmonis. Guru tentu dengan sendirinya pasti merindukan anak-anak didiknya. Sebaliknya anak-anak juga pasti akan selalu merindukan kehadiran guru-gurunya di sekolah yang sebenarnya adalah sosok orang tuanya di rumah.

Kita semua terutama anak-anak tentu selalu mendambakan mata air kebersamaan yang ternpacar indah di sekolah yang senantiasa memberikan rasa sejuk kepada kita semua yang saat ini tengah haus akan persaudaraan dan kebersamaan itu. Dari balik pojok doa, Mita berlutut dan berdoa, Ya Tuhan Yesus, semoga badai ini cepat berlalu. Aku sudah rindu, guru-guruku, aku sudah rindu teman-temanku. Aku rindu untuk memakai seragam sekolah, aku rindu bermain bersama guru dan teman-temanku. Smoga wabah pandemi Covid19 ini cepat berlalu dan pergi dari hadapan kita.(Mita)