Yang Dilupakan, Pesan Bisu Korban Covid-19 Dan Kaum Terpapar Bagi Dunia

Catatan Pojok Bung Red

“Dari kebisuan itu, kita di desak dan di pesan untuk segera menyimak dan bertindak. Sebuah kebisuan yang penuh dengan nilai dan pesan tugas untuk di kerjakan. Segera lah mengevaluasi, putuskan mata rantai wabah. Bersungguh-sungguh lah menolong yang terpapar, membantu yang terkarantina, dengan segala jalan terbaik dan penuh keseriusan. Kebisuan yang memesan jangan lagi menambah angka penderitaan. Laju wabah harus dihentikan bersama. Kebisuan yang sungguh mendesak merubah cara pikir dan mengevaluasi cara bertindak. Cerdas, cepat dan tepat”.

Sejak pertama Covid-19 Coronavirus dikabarkan menjangkiti warga Wuhan China, selanjutnya mewabah berbagai Negara, tidak terkecuali negara super power atau negara super maju, dan tak luput negara berkembang Partiwi Kita tercinta Indonesia – Covid-19 benar-benar telah membelokan seluruh arah pikir dan mendesak tindakan nyata segenap umat Manusia, untuk segera, segera dan segera lah berpikir dan bertindak serius mengurusi wabah masif Covid-19.

Parade kegelisahan, kepanikan, ratap tangis, duka air mata menyelimuti segenap kehidupan umat manusia di muka bumi.

Covid-19 dengan segudang julukan telah mengisi buku sejarah peradaban hidup di segenap halaman kehidupan manusia di bumi ini.

Pandemi global yang begitu masif dan hanya membutuhkan tempo bulan sejak pertama ditemukan menjangkiti warga Wuhan China, berselang minggu menyebar ke sejumlah negara lain, dan terus menyebar seperti udara bebas yang selalu menyengat dan melahap manusia ketika manusia lalai dan meremehkan “kecilnya Corona tapi Mematikan”.  

Hanya dalam tempo singkat, Covid-19 guncang ratusan Negara di dunia.

Seluruh type manusia, dewasa, jompo dan anak-anak yang hidup pada tahun 2019, tahun 2020, tahun 2021 (entah, mungkin masih banyak tahun berikutnya) adalah pelaku sejarah dan saksi-saksi wabah Covid-19 Coronavirus menggempur manusia.

Puluhan bahkan ratusan tahun berikutnya, kita ini disebut sebagai kumpulan manusia saksi sejarah wabah Covid-19 Coronavirus menggempur dunia.

Di dalamnya termasuk segala karya dan tindakan, termasuk juga tulisan ini, bagian dari peradaban Covid-19 dalam jejak Corona radiasi kesehatan manusia di dunia.

Tinta Emas bagi Penderita dan Yang Meninggal Dunia atas Covid-19

Do’a, kedukaan massal dan madah cinta patut disandingkan oleh semua orang kepada sesama yang menderita. Dan sesama yang telah meninggal dunia karena covid-19.

Jangan sekalipun iringi kepergian sesama kita dengan tanpa mau memaknai pesan dan perintah dari balik kebisuan tak bernyawa sesama kita.

Adalah sangat terhormat dan sangat manusiawi ketika kepergian mereka tidak hanya senilai duka.

Sebaliknya disadari, dimaknai bahwa mereka telah meninggalkan pesan dan perintah dari balik kebisuan untuk keselamatan dunia.

Kita yang hidup harus bangkit berjuang bersama memangkas laju pesebaran, memutus mata rantai penularan, wajib budayakan tertib protokol kesehatan. Tidak ada pilihan.

Tidak sedikit manusia lupa, bahkan menolak dengan keji sesama yang menderita, lupa sadari lagi, bahwa dengan penderitaan mereka, dari kebisuan itu dunia di-picu dengan masif tingkatkan daya pikir, naikan semangat tindakan nyata ‘mengurangi laju pandemi covid-19.

Anda bisa membayangkan seperti apa pola penanganan dunia, ataupun negara-negara, pemerintah, warga masyarakat dan kita semua terhadap sebuah wabah pada saat belum berjatuhan korban dan pada masa berjatuhan korban dimana-mana.

Seharusnya tidak demikian.

Kita mulai kehilangan saudara, kehilangan sesama kita, kehilangan orang-orang yang dicintai.

Bisa jadi, sebagai ulah kita yang turut memperkuat kelalaian untuk menyadarkan, mempertebal masa bodoh, enggan saling memberitahu, bahkan kita lah yang menganggap enteng dan kepala batu.

Jangan berbangga dulu jika hari ini kita belum terpapar covid-19.

Tetapi besok?. Covid-19 mengintai dimana saja, kapan saja. !

Jangan lupa, lawan terberat kita hari ini bukanlah covid-19. Lawan terberat kita hari ini adalah diri kita sendiri. Cara berpikir. Cara waspada bersama dan cara bertindak serius terhadap wabah.

Hentikan menganggap enteng terhadap wabah. Stop cara pikir menunggu korban jatuh baru sigap bertindak dan siaga. Tabiat !

Sejarah telah menulis dan kita sudah mengetahui. Segera lah tingkatkan kewaspadaan. Tingkatkan pola penanganan. Rubah tabiat lama penanganan yang tidak menjawab keadaan dan juga tuntutan. Evaluasi dan teruslah evaluasi.

Harus ada hikmah dalam seluruh aspek kehidupan manusia atas derita sesama yang terpapar, atas kematian jutaan umat manusia hari ini !

Penderitaan dan parade kematian telah meninggalkan jejak bersama kebisuan, kepergian sesama kita.

Ketika sesama kita menderita, ketika sesama kita meninggal dunia atas Covid-19, kita yang masih menghirup udara bebas ini harus lah serentak sigap dan begerak, sigap berpikir dan tindakan demi bisa saling menyelamatkan dan membebaskan.

Korban berjatuhan di mana-mana, ratusan negara terbungkus badai yang sama, jangan lagi lalai, mari kita semua sigap di segala bidang.

Mata kita hendaklah untuk melihat, telinga kita untuk mendengar, otak kita untuk berpikir dan hati kita untuk merasa. Bahwa hari ini sesama kita terpapar, perhatikan mereka dengan baik dan benar. Korban, dimana-mana berjatuhan.

Korban covid-19 sudah meninggalkan jejak kebaikan dan penyelamatan yang tidak bisa kita lampaui.

Mereka pergi dengan tidak sekedar menarik nafas terakhir lalu tamat.

Mereka pergi meninggalkan pesan penting dari kebisuan itu. Selamatkan lah diri dan saling lah menyelamatkan.

Saatnya kita sadar dengan rendah hati. Perhatikan sungguh-sungguh mereka yang terpapar. Jangan tutup-tutupi segala fakta. Jalankan misi kemanusiaan dengan tertib protokol kesehatan. Kemasi lah seluruh jenazah dengan rasa kemanusiaan. Atur lah pemakaman dengan cara dan tindakan medis yang cerdas.

Tak boleh iringi kepergian mereka dengan kematian rasa dan dosa nurani kita manusia yang masih tersisah di muka bumi ini.

Tidak boleh lagi pertontonkan kekonyolan tambahan di tengah wabah dengan segala praktek yang tidak menyelamatkan.

Stop berkerumun, stop kumpulkumpul, rajin cuci tangan menggunakan sabun, budayakan pakai masker, budayakan jaga jarak dan seterusnya, atau sebagaimana disyaratkan protokol kesehatan covid-19.

Salam Waspada

“Yang Dilupakan, Penderita dan Korban Corona Telah Menolong Dunia

Catatan Pojok Bung Red  (Flores-Nusa Tenggara Timur)