Yang Dilupakan, Penderita Dan Korban Corona Telah Menolong Dunia

Catatan Pojok Bung Red

“Menolong untuk tidak menambah penderitaan. Menolong untuk tidak menambah angka penderita. Menolong untuk menghentikan angka kematian. Menolong untuk berpikir dan bertindak cepat dan tepat. Bahkan Menolong untuk jujur, adil dan semakin Taat Mengagungkan Allah Yang Maha Kuasa”.

Sejak pertama kali Covid-19 Coronavirus dikabarkan menjangkiti warga Wuhan China, selanjutnya mewabah ke berbagai Negara, tidak terkecuali negara super power atau negara maju hingga menular masuk ke Indonesia, Covid-19 benar-benar telah membelokan seluruh arah pikir maupun tindakan segenap umat Manusia di planet bumi ini mengurusi masalah Corona.

Parade kegelisahan, kepanikan, ratap tangis, duka air mata menyelimuti segenap kehidupan umat manusia di muka bumi.

Covid-19 dengan segudang julukan nya telah mengisi buku sejarah peradaban hidup segenap manusia di bumi.

Pandemik global yang begitu masif dan hanya membutuhkan tempo bulan sejak pertama ditemukan menjangkiti warga Wuhan China, berselang mingguan berhasil menyebar ke sejumlah Negara lain, terus menyebar seperti udara bebas yang siap menyengat dan melahap manusia di negara mana pun, jika meremehkan Kecilnya Corona namun Mematikan.  

Hanya dalam tempo singkat, Covid-19 mengguncang ratusan Negara di dunia.

Seluruh type manusia, dewasa, jompo maupun anak-anak yang hidup pada Tahun 2020 menjadi pelaku sejarah dan saksi-saksi hidup atas wabah Covid-19 Coronavirus di Planet Bumi.

Puluhan bahkan ratusan tahun kedepannya, siapa pun manusia yang hidup pada Tahun 2020, akan disebut sebagai kumpulan saksi hidup dikala wabah Covid-19 Coronavirus menggempur dunia.

Di dalamnya termasuk segala karya dan tindakan, termasuk juga tulisan ini, adalah bagian dari peradaban Covid-19 Tahun 2020 dalam jejak Corona meradiasi manusia di dunia.

Tinta Emas bagi Penderita dan Yang Meninggal Dunia atas Covid-19

Do’a, kedukaan massal dan madah cinta patut disandingkan pada keagungan Bahasa Cinta seluruh Manusia bagi sesama yang menderita dan bagi mereka yang telah meninggal dunia dalam badai global Covid-19 Coronavirus.

Sungguh Gelap Mata, Otak dan Nurani !

Tidak sedikit manusia lupa, bahkan menolak dengan keji sesama yang menderita, dengan tanpa menyadari lagi, bahwa dengan penderitaan mereka, dunia telah dipicu secara masif, untuk mempercepat proses berpikir dan tindakan nyata ‘bagaimana cara nya agar manusia tidak musnah dari Covid-19 Coronavirus. Sungguh Gelap Mata, Otak dan Nurani dikala menolak mereka dengan keji ! Hal ini lupa direnungkan.

Anda bisa membayangkan seperti apa pola penanganan dunia ini, ataupun negara-negara, pemerintah, warga masyarakat dan kita semua terhadap sebuah wabah, ketika belum berjatuhan korban dan masa setelah berjatuhan korban dimana-mana?.

Pasti akan menganggap biasa (enteng) atas sebuah kondisi, apalagi korban belum berjatuhan dimana-mana. Tabiat !

Sebaliknya, hari ini, sejarah menulis dan kita mengetahui, bahwa ternyata selalu ada hikmah atas apapun penderitaan, tanpa kecuali adanya berbagai pesan dan hikmah besar atas wabah Covid-19 bagi dunia, pada multi aspek kehidupan umat manusia di bumi !

Kita harus jujur berpikir dan jernih merenungkan sebuah kondisi.

Penderitaan dan parade kematian telah meninggalkan jejak dan hikmah, meski kita begitu angkuh bahkan memilih menolak dengan keji.

Ketika sesama kita menderita, ketika sesama kita meninggal dunia atas Covid-19, umat Manusia serentak sigap dan begerak, mulai dari cara berpikir dan cara bertindak untuk bagaimana saling menyelamatkan dari sebuah kondisi wabah.

Ketika melihat korban berjatuhan di mana-mana, dikala ratusan negara dibungkus badai yang sama, dunia serentak memerintahkan sigap di segala bidang.

Itu terjadi usai mata kita melihat, usai telinga kita mendengar, setelah otak kita berpikir dan hati kita merasa, tentang korban, tentang manusia dimana-mana berjatuhan. Bukan kah demikian?.

Mereka yang meninggal dunia, telah meninggalkan jejak yang tidak bisa kita lampaui. Mereka pergi dengan tidak sekedar menarik nafas terakhir lalu tamat.

Ironis, jika kita yang juga calon orang mati, dengan angkuhnya menolak tanpa peri kemanusiaan pada sesama yang telah mati (meninggal dunia).

Tetapi kita berlutut berdo’a di hadapan Allah dan meminta bantuan banyak hal kepada Allah.

Sementara pada waktu bersamaaan, kita mengiringi kepergian sesama yang lain dengan hilangnya kesadaran bahwa kita semestinya tidak keji menolak dan mencampakan seluruh jejak baik mereka bagi kehidupan. Padahal kita sadar, tim medis telah menerima amanat untuk bisa bertindak siaga dan profesional. Kita hanya membantu mengawasi , mendukung dan mendoakan.

Kita lupa sadari itu.

Mestinya tidak.

Bahwa nafas hidup yang masih diberikan oleh ALLAH kepada kita, harusnya berisikan renungan kita mendoakan untuk sesama kita, berisikan penghormatan jiwa kita kepada mereka yang telah pergi selamanya dan melepas kepergian itu dengan cara mengatur dan mengurus mereka sebaik mungkin, mengatur dan mengurus sesama yang menderita dengan baik dan benar, sebab kita yakin Allah menyaksikan apa yang tengah kita perbuat. !

Harusnya kita sadar dengan penuh kerendahan hati, dan kemasi lah seluruh jenazah dengan penuh kemanusiaan, atur lah pemakaman mereka dengan cara dan tindakan medis yang cerdas, agar kepergian mereka tidak kita iringi dengan kematian rasa dan dosa nurani kita yang masih tersisah di dunia ini.

Yang kita tolak dengan keji dari bumi ini, sebenarnya mereka adalah sesama yang sebelumnya telah berkarya, telah berbuat baik dan berjuang menjalani tugas perutusan di bumi tempat kita berpijak dan berteduh ini.

Bukan kah kita akan semakin celaka ketika meninggalkan segala nurani sambil mencampakan kecerdasan kita selaku manusia?, apalagi dalam kondisi wabah dan kedukaan dunia ?

Ataukah kita manusia berpikir akan sungguh-sungguh selamat dari segala ancaman dan marah bahaya, ketika kita mulai belajar menolak satu dengan yang lain secara keji sambil menanggalkan seluruh kecerdasan dalam mengurusi masalah kematian pasien Covid-19 ?.

Apa Jalan Keluarnya?  

Jalan keluarnya tidak butuh otak profesor dan guru besar untuk membantu kita.

Pertama, serahkan kepada Negara apa yang menjadi hak dan kewajiban negara. Biarkan Negara bekerja dengan cara Negara mengurusi segenap pasien, mengurusi jenazah, sebab dunia pun telah memastikan metode dan pola pengaturan baku bagaimana mengurusi seluruh pasien Corona, maupun terhadap jenazah sesama kita yang meninggal dunia oleh Covid-19 Coronavirus.

Kita yang sehat, hanya perlu mengikuti Peraturan dan Perintah. Sebab kita adalah warga hukum yang harus hidup dalam ketaatan aturan main, perintah dan larangan.

Kedua, Patuh pada Allah. Berikan kepada Allah apa yang menjadi Hak Allah. Seluruh manusia yang masih sehat, patut mendoakan dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah Yang Maha Kuasa, meminta penyelamatan jiwa-jiwa, memohon perlindungan dan terang pikiran bagi kita yang tersisah (dunia) untuk mengatasi kegelapan wabah masif Covid-19 dengan terang Tuhan.

Ketiga, Patuh pada setiap instrumen aturan main yang dihembuskan oleh Negara kepada masyarakat. Kita sepakat negara-negara tidak sedang tidur di tengah wabah Covid-19, namun dari waktu ke waktu terus memikirkan seluruh langkah terbaik guna mengatasi wabah dan mengatasi segala kesusahan masyarakat.

Pada ruang ini lah kita pacu seluruh karya pikir dan karya permenungan terbaik kita semua, lalu disumbangkan kepada Bangsa dan Negara, sebagai wujud peduli gagasan dan tindakan, untuk terus dibagikan kepada Nusa dan Bangsa kita guna menjawab seluruh masalah dan tantangan wabah Covid-19.

Sebaliknya, tidak boleh mempertontonkan kekonyolan tambahan di tengah wabah masif dunia, misalnya dengan menumpukan banyak energy untuk berpikir bagaimana menurunkan pemimpin ini dan pemimpin itu, agar segera terjadi pergantian kedudukan dan lain-lain, atas nama Corona.

Bangsa yang besar, harusnya memilih untuk bergotong-royong dalam menggagas maupun bertindak, ketika Negeri kita dihantam badai yang mengancam keselamatan hidup bersama.

Bukan malah menghabiskan energy dengan memikirkan bagaimana caranya merebut sebuah takhta dalam kondisi darurat kesehatan yang tengah melanda.

Akrobatik memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, bukan ciri Indonesia, bukan ciri Merah Putih, bukan pula pancaran jiwa Pancasila kita. Bukan juga ciri Politik Nusantara kita. Itu ciri pembajakan dan pengerusakan terencana !

“Yang Dilupakan, Penderita dan Korban Corona Telah Menolong Dunia !. Menolong untuk tidak menambah penderitaan. Menolong untuk tidak menambah angka penderita. Menolong untuk menghentikan angka kematian. Menolong untuk berpikir dan bertindak cepat dan tepat. Bahkan Menolong untuk jujur, adil dan semakin Taat Mengagungkan Allah Yang Maha Kuasa”.

Catatan Pojok Bung Red  (Flores-Nusa Tenggara Timur)