Tentang Industri Semen Di Lingko Lalok, Bupati Manggarai Timur Harus Jujur

“Kehadiran Industri Semen di Lingko Lalok, Bupati Manggarai Timur, Agas Andreas harus jujur kepada warga Lingko Lalok”, TPDI.

Belum selesai dan heboh dengan program pembangunan Lapangan Udara di Kota Komba, Manggarai Timur, kini Bupati Manggarai Timur disibukan lagi dengan sikap tolak warga Kampung Lingko Lalok, Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur terhadap kehadiran PT. Singa Merah, sebuah Perusahan Swasta, bergerak di bidang Industri Semen, yang saat ini hendak membebaskan lahan seluas 505 Ha milik warga Lingko Lalok untuk membangun Tambang Semen.

Masyarakat warga kampung Lingko Lalok yang menolak kehadiran PT. Singa Merah dengan rencana membangun Industri Semen, ternyata lebih cerdas dan rational dari Bupati Agas Andreas, karena sikap tolaknya itu didasarkan pada pemikiran bahwa Indistri Semen yang hendak dibangun itu tidak akan membawa keuntungan dan kemaslahatan masyarakat warga setempat, apalagi bicara soal kesejahteraan yang jauh panggang dari api.

Itu omong kosong. Bupati Agas Andreas sudah tidak jujur dan tidak fair kepada Warga Lingko Lalok terutama soal informasi memgenai bahaya laten Industri Semen yang hadir di tengah pemukiman warga.

Begitu juga Bupati Agas Andreas seharusnha jujur kepada PT. Singa Merah bahwa Industri Semen yang hendak dibangun tidak akan menguntungkan masyarakat setempat, yang untung hanyalah Perusahaan, sementara warga hanya akan jadi buruh kasar dengan gaji kecil standar UMR NTT yang sewaktu-waktu di PHK, sementara tanah miliknya sudah hilang. Selain itu dampak lingkungan sosial lainnya yaitu masyarakat akan menderita penyakit ISPA, TBC Batuk, Flu dll. sepanjang masa dengan lingkungan yang penuh debu kapur, debu semen, kebisingan suara mesin gemuruh selama 24 jam non stop dan bunyi suara bahan peledak untuk menghancurkan batu kapur dll saat menambang, pada gilirannya akan mengganggu ketenteraman masyarakat penduduk setempat selama bertahun-tahun, kesehatan masal akan tumbuh subur dll, sepanjang masa.

Agas Andreas Tidak Jujur pada Warga Lingko Lalok

Bupati Agas Andreas telah bersikap tidak jujur kepada warganya, warga hanya dicekoki informasi tentang kesejahteraan semu, dengan iming-iming lapangan kerja yang tersedia. iya betul ada lapangan kerja tetapi UMR-nya berapa, dan untuk lapangan kerja sampai pada level mana, Ini semua angin surga atau fatamorgana, karena sejarah membuktikan bahwa kehadiran Industri Semen selalu membawa dampak buruk bagi masyarakat pemilik tanah dan warga sekitarnya yang menderita penyakit TBC, ISPA, Batuk Pilek sepanjang tahun.

Dimana letak kepemimpinan Bupati Agas Andreas, ketika warga diperhadapkan dengan Perusahaan Yambang Semen, jika pada saat seperti ini, Bupati hanya tampil sebagai makelar tanah, lalau kemana warga berlindung atau mendapat perlindungan.

Ubahlah pendekatan terhadap warga, berpihaklah pada kepentingan dan kelangsungan hidup warga, ayomi, ajak mereka paham dulu soal bahaya laten dari Industri Semen, dimana debu semen dan debu kapur yang berterbangan sulit dibendung dengan teknologi apapun, sehingga yang menjadi korban adalah warga masyarakat di sekitarnya.

Pengalaman warga Cibinong, Bogor di sekitar PT. Indosement, PT. Semen Cibinong, Semen Gresik, PT. Semen Indonesia dll. membuktikan bahwa yang menjadi korban selalu penduduk di sekitar, sudah kenilangan tanah, hidup dengan penderitaan TBC akut, ISPA (ganghuan pernapasan), bengek dll., pendek kata masyarakat yang menjadi korban kehadiran fabrik Semen yang sudah ada, harus menjadi cermin bagi Bupati Agas Andreas Jangan mengorbankan warga masyarakat hanya demi uang kecil dan warga menjadi korban.

Oleh karena itu mari kita bangun Gerakan Advokasi yang kuat di Jakarta untuk membentingi warga Linko Lalok yang menolak Tambang Semen melawan PT. Singa Merah dan menolak sikap Bupati Agas Andreas yang pro Industri Tambang semen di Manggarai Timur.

Penulis : Petrus Selestinus, Koordinator TPDI dan Advokat PERADI