Semarak Mudik Adalah Potret Pembiaran Potensi Sebaran Corona Yang Lupa Jujur

Catatan Pojok Bung Red

“Berteriak Tanpa Aksi. Berkata Tanpa Tanpa Tindakan. Menghimbau Sambil Membiarkan. Menghayal untuk Memutus Mata Rantai Covid-19 ‘sambil Mendukung berbagai Potensi pergerakan Mata Rantai dan Cara-Cara Penyebaran Corona terus bergerak bebas dari titik yang satu ke titik-titik lain”.

‘Sapaan di atas layak dialamatkan atau dilekatkan pada diskusi Covid-19 di NTT. Bahwa Zona Hijau Covid-19 merupakan Zona Penadah terbaik dalam diskusi potensi pergerakan masif mata rantai Covid-19 bergeser dari Zona Merah menuju Zona Hijau”.

baca : https://larantuka.com/2020/03/zona-hijau-covid-19-corona-sebagai-zona-terpotensial-tertular/

Betapa tidak?

NTT dengan status Zona Hijau atau sebagai salah satu Provinsi yang belum tertular di tengah barisan Provinsi lain tertular, terhitung sejak Bulan Maret hingga April 2020 kegaduhan semarak Pemudik memenuhi jagat Nusa Tenggara Timur di tengah himbauan “Marilah Kita  Putuskan Bersama Mata Rantai Covid-19 Coronavirus, “Ayo Jangan Mudik, dan seterusnya.

Sebelumnya, media ini menulis, Pemudik butuh kepastian talangan hidup dan juga proteksi tempat tinggal mereka agar mereka pun tidak nekat mudik.

Ironis kan?.

Perlu kembali diingatkan dan disadarkan, bahwa “setiap daerah, wilayah maupun Negara yang disebut sebagai Zona Merah ataupun telah menjadi wilayah  terseram akibat begitu banyaknya kasus Covid-19 maupun angka kematiannya yang tidak terkendali lagi, itu semua harus disadari lagi bahwa pada mula nya merupakan Daerah atau Kawasan, atau Zona, atau Distrik Hijau yang tidak tersentuh Covid-19 Coronavirus. Pada mula nya Hijau, menjadi Merah, menjadi Merah Tua, bahkan Merah Darah dan seterusnya !

Struktur Pikir Pemudik Perlu Mengetahui ini

Pemudik adalah warga negara sah yang telah menerima pesan, himbauan bahkan perintah agar jangan mudik.

Pesan dan apapun himbauan seperti ini tidak mengartikan bahwa Pemudik adalah Manusia yang telah terserang Covid-19 Coronavirus.

Namun secara mutlak mengartikan bahwa setiap Pemudik adalah orang yang meleburkan diri ke dalam kerumunan orang banyak secara tidak terukur, terlebur dalam satu wadah yang sama, sebuah kerumunan yang penuh dengan potensi Covid-19 menyebar cepat dari satu manusia kepada manusia lain. Data dan statistik menunjukan kebenaran dugaan ini.

Belum lagi Pola Gerak Pemudik justeru bergerak dari zona merah Covid-19 ke zona hijau.

Maka dengan demikian, Pemudik tidak bisa mengklaim diri sebagai makluk sangat bebas yang bisa melakukan apa saja atas nama hak mudik dan kepentingan mudik.

Pemudik bahkan dapat diduga menabrak upaya steril dan karantina kesehatan sebuah wilayah dari potensi sebar Covid-19 Coronavirus. UU Karantina Kesehatan mengatur itu dengan terang benderang, bahkan ancaman Penjara.

Pada saat Pemudik bebas bergerak di luar rumah dan atau pun bebas melakukan perjalanan kesana kemari, melebur pada kerumunan berskala orang banyak, disitu banyak orang lupa bahwa sesungguhnya pada saat yang sama juga “ribuan orang telah mengurung diri dalam rumah, menahan kesulitan keterbatasan persediaan makanan dst, dan hanya keluar rumah menuju tempat-tempat terdekat yang seperlunya saja atas sesuatu yang sangat penting.  

Itu artinya budaya tertib seribu orang pada waktu yang bersamaan telah dibiarkan secara tau dan mau ber-bentur-an, di-bentur-kan, terbentur dengan pembiaran ribuan orang lain yang tidak menertibkan diri, bebas berpindah dari kawasan terjangkit ke kawasan tidak terjangkit bertajuk boleh mudik di tengah Indonesia ter-kepung Covid-19 Coronavirus.

Jika dianalogi, Negara dan Daerah jangan mau bermain kocak seperti episode Polisi Gadungan dalam film-film lawakan : Menertibkan sepuluh orang pengendara yang tidak memakai helm, namun hanya berteriak menghimbau kepada ratusan pengendara lain yang mondar-mandir tanpa helem di hadapan negara.

Karantina Kesehatan tidak hanya berlaku bagi orang sakit tetapi juga bagi orang sehat.

Pasal 93 UU Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan “dan atau menghalangi-halangi penyelenggaraan kekarantinaan kesehatan hingga menyebabkan kedaruratan kesehatan masyarakat, dipidana 1 tahun penjara, dan atau denda paling banyak Rp.100.000.000.

Baca ulasan sebelumnya, Stop Mudik Adalah Upaya Penyelamatan Calon Pemudik dan Penjaga Kampung

Link terkait : https://larantuka.com/2020/03/stop-mudik-adalah-upaya-penyelamatan-pemudik-dan-penjaga-kampung/

Update Indonesia tanggal 6 April 2020 pukul 9.00 wita, sumber : update terkini virus corona, data WHO, US CDC, CCDC,ECDC, etc, Indonesia +181= 2.273 Kasus yang konfirm, +7=189 Meninggal, +14=164 Sembuh.   

Di Pulau Flores per April 2020, Kabupaten Sikka di ufuk timur bergejolak semarak pemudik turun bongkar di Pelabuhan Sikka, Flores tengah, ratusan Pemudik turun bongkar di Kota Ende, di Flores barat, ratusan Pemudik turun bongkar di Labuan Bajo.

Link terkait : https://larantuka.com/2020/03/puluhan-milyar-apbd-cegah-corona-potensial-bablas-jika-terbuka-lalu-lintas/

Menarik, bukan?.

Dari ratusan tambah rambah ratusan tentunya menjadi ribuan pergerakan dari zona merah ke zona hijau.

Apa sikap Pemda dan Pemprov NTT?.  

Tidak kalah seru, nampak bertengkar tentang Kewenangan Masalah Transportasi Perhubungan. Pertengkaran yang hampir setua usia Negeri ini, setua UU Transportasi kita.

Juga rajin menghimbau Jangan Mudik namun Arus Mudik kian ramai rasanya.

Lama-lama terjadi Lomba Himbau  

Lebih dari itu, Indonesia pun sedang murung, Menteri Perhubungan Nasinoal tengah dirawat sakit, untuk sementara dijalankan Pejabat Pengisi Semantara.

Apakah harus menabrak UU Perhubungan?. Tidak.

Tetapi harus menabrak Cara Pikir Minim Solusi !!

Semarak Mudik Adalah Potret Pembiaran Sebaran Corona Yang Lupa Jujur

Penjelasan Foto Berita : Ilustrasi Bongkar Penumpang – bandingkan akumulasi ratio penumpang mudik pada tiga pelabuhan di Pulau Flores, NTT : Kabupaten Sikka (Ratusan Pemudik), Kabupaten Ende (Ratusan Penumpang, disebut 164 pemudik), Labuan Bajo ratusan penumpang (dikabarkan sekitar 904 pemudikpenumpang)* dalam satu kali rute. Tidak terhitung rute susulan dan pemudik via jalur udara*

Catatan Pojok Bung Red