Salah Satu Tokoh Besar Aktifis Kritis Reformasi, Arief Budiman Pergi Selamanya

Catatan Pojok Bung Red

Sepih Kabar, tidak seviral berita akrobatik Politisi di hadapan masyarakat. Tidak juga segemuruh koruptor meninggalkan jejak. Kepergiannya tidak harus banyak ucapan. Nah, Itulah dia, seorang Arief Budiman. Dia pemikir besar dengan segudang karya nyata. Seorang manusia gerakan, insan kritis, aktifis bertitel konsistensi tinggi hingga nafas terakhir dia pergi menghadap sang khalik. Prof. Dr. Arief Budiman. Kita kehilangan figur dan panutan seorang pejuang sejati”, (Bung Red LN Focus Indonesia News – Larantuka.Com)

“Saya terima penghargaan ini sebagai penghinaan. Saya ini orang kiri yang menolak paradigma modernisasi dan pembangunanisme, tetapi saya malah mendapatkan penghargaan dari orang kanan.”, Pidatonya saat menerima penghargaan Achmad Bakrie 2006”.

Arief Budiman lahir di Jakarta tanggal 3 Januari 1941. Meninggal dunia di Jawa tengah, 23 April 2020. Wafat dalam usia 79 Tahun.

Dilahirkan dengan nama Soe Hok Djin. Jejaknya sangat unggul, seorang Aktifis Demonstran Angkatan 66 bersama adiknya Soe Hok Gie ketika ia masih menjadi Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Jakarta.

Arief mengajar sebagai Guru Besar di Universitas Melbourne Australia. Arif juga banyak terlibat aktif dalam Bidang Budaya di Indonesia

Dipetik kabar duka Arief, Sekitar pukul 12.20 Wib, Kamis, 23 April 2020, Prof. Dr. Arief Budiman, meninggal dunia di Rumah Sakit Ken Saras, Semarang. Sebelum meninggal ia sempat sakit dan dirawat sekitar 2 minggu sebelumnya.

Figur Arief Budiman bukan hanya figur dosen, yang hadir di kampus untuk sekadar mengajar dan memberikan kuliah. Arief adalah seorang cum-dosen.

Ilmu dan pengetahuannya justru dibagikan di luar ruang perkuliahan, melalui berbagai ceramah, diskusi dan pertemuan-pertemuan yang bersifat informal. Pergaulannya bukan hanya terbatas pada orang-orang sebidang ilmu, tapi dia membangun relasi dengan para tokoh lintas ilmu.

Ia pernah memperdalam ilmu di bidang pendidikan di College d’Europe, Brugge, Belgia pada tahun 1964. Ia menyelesaikan studi di Fakultas Psikologi di Universitas Indonesia pada tahun 1968. Ia kuliah lagi di Paris pada tahun 1972, dan meraih Ph.D. dalam bidang sosiologi dari Universitas Harvard, Amerika Serikat pada tahun 1980. Kembali dari Harvard, Arief mengajar di Universitas Kristen Satya Wacana di Salatiga sejak 1985 sampai 1995.

Ketika UKSW dilanda kemelut yang berkepanjangan karena pemilihan rektor yang dianggap tidak adil, Arief melakukan mogok mengajar, dipecat, dan akhirnya hengkang ke Australia, serta menerima tawaran menjadi profesor di Universitas Melbourne Australia.

Ia pernah menjadi redaktur Majalah Horison (1966-1972). Sejak 1972 ia menjadi anggota Dewan Penasehat majalah ini. Ia pernah menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (1968-1971). Sejak tahun 1968-1971 ia menjadi anggota Badan Sensor Film.

Ia dianggap sebagai tokoh Metode Ganzheit sejak Diskusi Sastra 31 Oktober 1968 di Jakarta dan terlibat polemik dengan M.S Hutagalung sebagai perwakilan Aliran Rawamangun. Ia juga dianggap sebagai tokoh dalam perdebatan Sastra Kontekstual sejak Sarasehan Kesenian di Surakarta, Oktober 1984.

Ia pernah menghadiri Konferensi PEN Club International di Seoul pada tahun 1970.

Arief adalah Pendiri Majalah Horison.

Sejak masa mahasiswa, Arief sudah aktif dalam kancah politik Indonesia, karena ia ikut menandatangani Manifesto Kebudayaan pada tahun 1963 yang menentang aktivitas LEKRA yang dianggap memasung kreativitas kaum seniman.

Kendati ikut melahirkan Orde Baru, Arief bersikap sangat kritis terhadap politik pemerintahan di bawah Soeharto yang memberangus Oposisi dan kemudian diperparah dengan praktik-praktik korupsinya.

Pada pemilu 1973, Arief dan kawan-kawannya mencetuskan apa yang disebut dengan GOLPUT atau Golongan Putih, sebagai tandingan GOLKAR yang dianggap membelokkan cita-cita awal Orde Baru untuk menciptakan pemerintahan yang demokratis.

Ia pernah ditahan karena terlibat dalam demonstrasi menentang pendirian Taman Miniatur Indonesia Indah (1972).

Ayahnya seorang wartawan yang bernama Soe Lie Piet. Arief menikah dengan Leila Chairani Budiman, teman kuliahnya di Fakultas Psikologi UI, yang dikenal sebagai pengasuh rubrik psikologi pada Harian Kompas.

Berikut karya-karya nya, Chairil Anwar : Sebuah Pertemuan (skripsi sarjana psikologi UI) (Pustaka Jaya, 1976), Perdebatan Sastra Kontekstual (editor Ariel Heryanto; memuat tulisan Arief Budiman tentang topik ini) (1985), Transmigrasi di Indonesia: Ringkasan Tulisan dan Hasil-Hasil Penelitian (1985), Jalan Demokrasi ke Sosialisme: Pengalaman Chile di Bawah Allende (Desertasi untuk gelar Doktor sosiologi pada Universitas Harvard) (terbit 1986), Pembagian kerja secara seksual: sebuah pembahasan sosiologis tentang peran wanita di dalam masyarakat (Gramedia, 1982).

Esainya, “Manusia dan Seni”, mendapatkan Hadiah Ketiga majalah Sastra pada tahun 1963. Pada bulan Agustus 2006 ia menerima penghargaan Bakrie Award, acara tahunan yang disponsori oleh keluarga Bakrie dan Freedom Institute untuk bidang penelitian sosial.

Arief Budiman sendiri adalah aktivis mahasiswa pada saat gelombang gerakan mahasisa turun ke jalan menutut Tri Tuntutan Rakyat (Tritura) pada 1966. Ia adalah salah satu penanda-tangan Manifes Kebudayaan. Dan ketika Soeharto menjadi presiden, ia tetap kritis kepada kekuasaan Orde Baru yang notabene pernah disokongnya. Ia kembali turun ke jalan dengan memimpin gerakan Golongan Putih (Golput), Komite Anti Korupsi, hingga Gerakan Anti Taman Mini yang digagas Ibu Tien Soeharto.

Beberapa kali Arief Budiman ditangkap olek Laksusda Jaya dan ditahan, hingga dicomot dari beberapa jabatan dan pekerjaan. Hasyra Bachtiar akhirnya membujuk Arief untuk studi ke luar negri, Itu cara penyelamatan versi Hasrya kepada aktivis kritis semacam Arief Budiman***.

**Selamat Jalan Sang Pejuang Unggul : Karya Jiwa Mu Hidup Sepanjang Masa**.

Catatan Pojok Bung Red