ROMO PEY HURINT, PR : TUHAN MEMERLUKANNYA Intisari Kotbah pada Perayaan Minggu Palma melalui Live Streamming.


Perayaan Minggu Palem atau Minggu daun-daun pada prinsipnya merupakan pintu masuk bagi umat Katolik untuk merenung dan merefleksikan kisah sengsara, wafat dan kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus, kali ini memang dirayakan sedikit berbeda, unik dan lain dari perayaan tahun tahun sebelumnya. Demikian sepenggal introduksi awal yang disampaikan oleh Pastor Paroki Santa Maria Pembantu Abadi, Romo Fransiskus Xaverius Hurint, Pr, atau yang akrab disapa Romo Pey Hurint.

Dikatakan unik dan khas karena Perayaan Minggu daun-daun ini dirayakan melalui live streamming dan umat mengikutinya dari rumah tempat tinggal mereka masing masing. Perayaan Ekaristi dilaksanakan secara online, tanpa arak-arakan seperti lazimnya dalam semarak lambaian daun palem serta sorak-sorai dan puji-pujian menyambut Putera Daud.

Perayaan Minggu Palem atau Minggu daun-daun di tengah wabah pandemik Covid19 ini adalah perayaan sunyi suci tanpa arak-arakan seperti lazimnya dibuat dengan lambaian daun-daun palem. Tetapi justru dalam situasi hening ini kita semua diberi kesempatan untuk kembali ke kenisah batin dan membuka pintu bait suci hati kita bagi Sang Almasih yang datang untuk menebus dosa kita manusia.

“Hosana bagi Putera Daud. Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan”. Dalam perayaan Ekaristi, kita baca dan renungkan kisah sengsara Yesus versi penginjil Mateus. Sabda ini mengingatkan kita kembali apa yang terjadi di Yerusalem saat itu. Sebuah kontras teramat tajam antara perarakan meriah Minggu Palma dan kisah sengsara Yesus yang segera menyusul. Lambaian daun palma kini diganti dengan cemeti serta tombak dan mahkota duri. Dia yang dipuja-puji dalam pekik “Hosana” kini dihujat dengan hinaan dan dusta lalu dijatuhi hukuman mati yang paling keji: “Salibkanlah Dia” (Pater Leo Kleden, SVD, dalam Sari Firman Allah).

Tetapi justru pada Salib inilah Yesus menguatkan kita dan menyatakan belaskasih-Nya yang tak terhingga sebagai Almasih yang menanggung derita seperti yang diramalkan Yesaya (Yes 50 : 4 – 7), Karena Kasih-Nya, Kristus mengubah Salib palang siksaan itu menjadi pohon kehidupan, pokok keselamatan kita.

Perayaan Minggu Palem via Live streaming ini dipimpin langsung oleh RD. Fransiskus Xaverius Hurint, didampingi oleh tim pastor rekan RD. Yos Sani Teluma dan RD. Antonius Londa Diaz. Pengalaman pertama dan sangat mengesankan ketika umat harus merayakan Ekaristi Minggu Palem ini dari rumah. Romo Pey dalam kotbahnya yang dikemas dalam bahasa nagi sempat menggugah umat paroki Weri untuk hening dan semakin menyadari hikmahnya perayaan Minggu daun-daun ini di tengah wabah pandemik Covid19 ini. Romo Pey mengajak umat paroki Weri untuk kembali merenung sekaligus memaknai perayaan ini dan persiapan menuju Pekan Suci sebagai sebuah kesempatan untuk merefleksikan kata-kata Yesus, TUHAN MEMERLUKANNYA.

Tuhan Yesus menyuruh dua murid-Nya untuk pergi melepaskan seekor keledai dan membawa kepada Yesus. Sesungguhnya di tengah situasi wabah pandemik Covid19 ini Tuhan Yesus juga membutuhkan dan memerlukan kita sebagai keledai tunggangan untuk sesama kita untuk tetap menjaga dan mengamankan himbauan Gereja dan pemerintah agar situasi aman dan kondusif serta dijauhi oleh wabah ini. Kita mesti hidup sehat, selalu cuci tangan, tidak boleh keluar rumah, selalu stay at home, selalu jaga jarak, social distancing dan selalu berbuat baik dan tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan arahan gereja dan pemerintah.

Tuhan Yesus sesungguhnya memerlukan keledai kerendahan hati untuk hidup dan karya pelayanan-Nya. Keledai simbol kerendahan hati. Yesus mengajarkan kita untuk selalu rendah hati, tidak boleh sombong dan angkuh. Kita tidak boleh merasa diri sombong dan angkuh dalam relasi sosial dengan sesama kita. Yesus itu sesunghuhnya Raja dann pemimpin yang selalu rendah hati. Dia mengajarkan kita untuk tetap berlaku sopan dan baik dengan siapa saja. Dalam konteks ini maka kita pun senantiasa diajak untuk menjadi keledai kerendahan hati untuk sesama kita.

Mampukah kita menjadi keledai bagi sesama kita? Ketika kita menjadi keledai bagi sesama kita maka Yesus pasti memerlukan kita untuk menjadi pengikut-pengikut-Nya. Di Yerusalem menjelang Paskah orang Yahudi waktu itu, banyak sekali orang yang terlibat di jalan getir penyaliban Yesus. Tetapi sesungguhnya kita semua yang telah berdosa telah ikut menimpahkan kesalahan kita pada pundak Dia yang tersalibkan itu : ” Di manakah kita atau saya berdiri dalam seluruh peristiwa ini? Inilah pertanyaan yang selalu menyertai hati dan batin kita sepanjang pekan suci ini.