Rm. Pey Hurint. Pr.: Yesus Menantimu di Salib

Intisari kotbah pada Ibadat Penyembahan Salib pada Jumad Agung, 10 April 2020 di Paroki Sta. Maria Pembantu Abadi Weri.

Hari itu Jumad, 10 April 2020, di tengah pandemik Covid 19, bertepatan dengan diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar di DKI Jakarta dan beberapa propinsi lain, siang yang panas itu membawa kesan dan pesan yang khidmat dan khas bagi umat Katolik di seluruh dunia umumnya dan kota Larantuka pada khususnya untuk merenung dan merefleksikan makna sengsara dan wafat-Nya Yesus, Sang Guru, teladan dan pemimpin umat Katolik itu.

Dalam suasana retret agung, silentium magnum, umat merenungkan misteri Allah yang mencintai dan mengasihi umat-Nya dan menyelamatkan dunia melalui jalan Salib, via Dolorosa, jalan dukacita, melalui sengsara dan wafat Putera-Nya Yesus Kristus.

Hari ini juga pada pukul 15.00, umat Paroki Weri merayakan ibadat Jumad Agung, Menyembah Salib walau dengan mengikutinya melalui live streaming dari rumah masing-masing secara khidmat. Ibadat Jumad Agung ini dipimpin langsung oleh pastor paroki Sta. Maria Pembantu Abadi Weri, Romo Pey Hurint, bersama pastor rekan Romo Yos Sani Teluma dan Romo Londa Diaz.

Dalam kotbahnya, Romo Pey Hurint menginspirasi permenungan umat dengan kalimat pengantar yang inspiratif, YESUS MENANTIMU DI SALIB. Menurutnya, peristiwa Jumad Agung adalah moment puncak dari sikap kerendahan hati Allah yang rela menjadi manusia. Dia rela menderita sengsara dan wafat di salib demi menebus dosa manusia. Peristiwa Allah yang solider dan berbela rasa dengan manusia itu kita kenangkan hari ini. Allah hadir dalam diri Putera-Nya Yesus Kristus, yang rela mati dan disalibkan untuk menebus dosa manusia. Disalib dan pada peristiwa Salib, bagi orang yang tidak percaya kepada Kristus adalah kebodohan, kehinaan dan kematian. Tetapi bagi kita yang beriman dan percaya kepada Kristus, Salib adalah tanda kemuliaan, sumber kebijaksanaan dan sumber kehidupan.

Melalui Salib kita dapat menemukan keselamatan dan kekuatan. Peristiwa Salib merupakan tanda solidaritas Allah dan penyerahan diri Allah secara total kepada manusia. Allah menjelma menjadi manusia dalam diri Yesus yang menderita sengsara dan disalibkan serta wafat. Melalui jalan salib, via Dolorosa, jalan kedukaan, Allah ingin menyelamatkan manusia dari dosa.

Jika kita memandang Salib dengan penuh iman dan kasih, kita akan melihat bahwa Yesus yang tersalib itu sedang menanti kita umat-Nya dengan penuh cinta dan ketulusan. Di atas salib dan dalam perustiwa salib, Yesus justru menjanjikan sebuah kehidupan baru, sebuah taman Firdaus kebahagiaan untuk kita. Di atas Salib juga Yesus menatap kita dengan penuh pengampunan. Tangan dan Lengan-Nya yang terbuka dan siap merangkul kita. Untuk itu maka kita pun dituntut untuk saling mengampuni dan saling memaafkan dalam hidup ini. Di sisi lain, peristiwa salib dan cerita salib bukan hanya semata-mata cerita tentang kedukaan dan kematian, tetapi lebih pada ungkapan cinta Yesus kepada kita bahwa sesungguhnya di balik peristiwa salib itu ada kehidupan baru, ada sukacita baru.

Dalam konteks kita yang kini sedang merenungkan jalan salib Yesus di tengah wabah corona ini, wabah ini memang mengubah gaya dan cara hidup kita. Kita yang sering berkumpul dan ada bersama, kini dilarang untuk tetap jaga jarak. Kita stay at home dan selalu jaga jarak. Gereja dan rumah ibadat kosong, doa dari rumah saja. Inilah realita hidup kita yang paradoksal. Namun dalam situasi hidup yang demikian kita mesti mendekatkan diri dan hidup kita pada Salib Kristus. Kita mesti merangkul Salib Yesus itu dengan sebuah harapan dan keyakinan iman yang teguh bahwa badai ini pasti akan berlalu.

Sebagai konklusi permenungannya, Romo Pey mengutip pesan Paus Fransiskus dengan mengatakan bahwa kita tidak cukup kuat sendirian di tengah situasi ini. Kita akan tenggelam dalam kesendirian. Mari, kita undang Yesus untuk masuk dalam perahu kehidupan kita. Kita yakin bahwa bersama para murid Yesus, perahu kebersamaan kita itu tidak pernah karam di lautan hidup ini. Mari kita pi Tuan Ma, Tuan Ana untuk bersama mereka menuju Allah penyelamat kita. Kita minta restu mereka untuk keka lindo torang semua di Weri ini. Mari kita gengga pelo Salib Kristus. Karena dengan dan melalui Salib Kristus, kita dapat menemukan terang kehidupan. Selamat berkhalwat dan bermeditasi dalam semangat silentium magnum.

Syl Witin, Pengurus Harian DPP Weri.