Kiranya Penerapan PSBB Tidak Kaku Pada Jumlah Kasus Dan Kematian Covid-19 Suatu Daerah

Catatan Pojok Bung Red

Istilah PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar yang dibuat adalah untuk mencegah penyebaran Virus Corona di Indonesia. PSBB menjadi tambahan kosa kata Masyarakat Indonesia diantara Wabah Covid-19, Tahun 2020.

PSBB adalah singkatan dari Pembatasan Sosial Berskala Besar. Peraturan ini diterbitkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam rangka Percepatan Penanganan COVID-19 agar bisa segera dilaksanakan di berbagai daerah.

Indonesia mencatat, aturan PSBB termuat dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 Tahun 2020. Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan, Oscar Primadi, dalam sebuah keterangan tertulis, mengatakan PSBB melingkupi Pembatasan sejumlah kegiatan Penduduk tertentu dalam suatu wilayah yang diduga terinfeksi COVID-19.

“Pembatasan tersebut meliputi peliburan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan, pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum, pembatasan kegiatan sosial budaya, pembatasan moda transportasi, dan pembatasan kegiatan lainnya khusus terkait aspek Pertahanan dan Keamanan,” kata dia.

Kriteria wilayah yang menerapkan PSBB adalah memiliki peningkatan jumlah kasus dan kematian akibat penyakit COVID-19 secara signifikan dan cepat serta memiliki kaitan epidemiologis dengan kejadian serupa di wilayah atau negara lain.

Bagaimana Pelaksanaan PSBB? PSBB dilaksanakan selama masa inkubasi terpanjang dan dapat diperpanjang jika masih terdapat bukti penyebaran.

Permenkes itu menjelaskan, Sekolah dan Tempat Kerja diliburkan kecuali Kantor atau Instansi Strategis yang memberikan pelayanan terkait : 1). Pertahanan dan Keamanan 2). Ketertiban Umum 3). Kebutuhan Pangan 4). Bahan Bakar Minyak dan Gas 5). Pelayanan Kesehatan 6). Perekonomian 7). Keuangan 8). Komunikasi 9). Industri 10). Ekspor dan Impor 11). Distribusi Logistik dan kebutuhan dasar lainnya.

Pada pembatasan kegiatan Keagamaan, dilaksanakan dalam bentuk kegiatan Keagamaan yang dilakukan di rumah dan dihadiri keluarga terbatas, dengan menjaga jarak setiap orang.

Di luar itu, kegiatan Keagamaan dilakukan dengan berpedoman pada Peraturan Perundang-Undangan, dan Fatwa atau pandangan lembaga Keagamaan resmi yang diakui oleh Pemerintah untuk pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum dilaksanakan dalam bentuk pembatasan jumlah orang dan pengaturan jarak orang.

Kegiatan tersebut terkecuali bagi : 1). Supermarket, Minimarket, Pasar, Toko atau Tempat Penjualan Obat-Obatan dan Peralatan Medis Kebutuhan Pangan, Barang Kebutuhan Pokok, barang penting, Bahan Bakar Minyak Gas dan Energi. 2). Fasilitas Pelayanan Kesehatan atau Fasilitas lain dalam rangka pemenuhan pelayanan Kesehatan. 3). Tempat atau Fasilitas Umum untuk pemenuhan kebutuhan dasar penduduk lainnya termasuk kegiatan olahraga.

Kemudian pada Pembatasan Kegiatan Sosial dan Budaya dilaksanakan dalam bentuk pelarangan kerumunan orang dalam kegiatan sosial dan budaya serta berpedoman pada pandangan lembaga adat resmi yang diakui Pemerintah dan Peraturan Perundang-Undangan.

Pembatasan moda transportasi dikecualikan untuk : 1). Moda transpotasi penumpang baik umum atau pribadi dengan memperhatikan jumlah penumpang dan menjaga jarak antar penumpang  2). Moda transpotasi barang dengan memperhatikan pemenuhan kebutuhan dasar penduduk.

Pembatasan kegiatan lainnya khusus terkait aspek Pertahanan dan Keamanan dikecualikan untuk kegiatan aspek Pertahanan dan Keamanan dalam rangka menegakkan Kedaulatan negara dan mempertahankan keutuhan wilayah, dengan tetap memperhatikan pembatasan kerumunan orang serta berpedoman kepada protokol dan Peraturan Perundang-Undangan.

“Pemerintah Daerah dalam melaksanakan PSBB harus berkoordinasi dengan instansi terkait termasuk Aparat Penegak Hukum, Pihak Keamanan, Penanggung Jawab Fasilitas Kesehatan, dan Instansi Logistik setempat,” kata Oscar.

Beda PSBB, Karantina, dan Lockdown.

Menurut Kemenkes PSBB sejatinya berbeda dengan Karantina Wilayah (lockdown), di mana masyarakat tidak diperkenankan untuk beraktivitas di luar rumah.

“Dalam tindakan Karantina, Penduduk atau Masyarakat di rumah, wilayah tertentu kawasan RT, RW, atau kawasan kelurahan, atau satu kabupaten, kota,” ujar Oscar. Dan Masyarakat yang sedang di karantina di Rumah Sakit, tentu tidak boleh keluar.

Itu lah yang membedakannya dengan PSBB,” kata Oscar.

Lebih lanjut, ia berharap “Pelaksanaan PSBB Dapat Memutus Rantai Penularan dari Hulunya”.

“Pelaksanaan ini tak hanya menjadi tanggung jawab Pemerintah, namun juga Masyarakat, agar bisa terlaksana dengan baik,” katanya, seperti dikutip Antara News.

Meski berbeda dengan Karantina, tetapi Oscar mengatakan PSBB bersifat lebih ketat daripada imbauan Jaga Jarak Social (social distancing).

“PSBB kita harapkan lebih ketat daripada social distancing. Sifatnya bukan imbauan, tapi penguatan pengaturan kegiatan penduduk dan penegakan hukum, tentunya dengan instansi berwenang sesuai UU yang berlaku,” kata dia.

Oscar berharap pelaksanaan PSBB dapat memutus rantai penularan dari hulunya, dan dilaksanakan selama masa inkubasi terpanjang. Namun, tak menutup kemungkinan untuk diperpanjang dengan indikasi penyebaran yang tinggi.

Sharre Pesan dari Seorang Sahabat di Kota Bogor Indonesia

INFO PSBB KOTA BOGOR 1). PSBB Kota Bogor mulai diberlakukan tgl 15 April 2020 dini hari sampai 2 minggu ke depan 2). Mulai tanggal tersebut RW.06 akan memberlakukan jam malam mulai pukul 19.00 WIB 3). Jika di atas pkl 19.00 WIB ada kerumunan warga, maka petugas keamanan akan membubarkannya. 4). Kepada penjual makanan hanya diperkenankan untuk menjual dan dibawa pulang (tidak makan di tempat) 5). Tidak menerima tamu lebih dari 5 org. 6). Apabila ada Teman/ Keluarga yang terpaksa menginap, harap lapor kepada Ketua RT 7). Warga diminta proaktif apabila ada hal-hal yang perlu segera di tanggulangi. 8). Ketua RT akan memantau warganya dan segera melaporkan kepada Ketua RW, jika ada yang perlu segera ditangani.  9). Warga diminta tetap waspada, jaga kebersihan, jaga jarak dan tetap di rumah

Demikian kami sampaikan, semoga kita semua mendapat perlindungan dari Allah SWT, dan wabah ini cepat berakhir.

Penerapan PSBB Harus Lebih Manusiawi ‘dalam arti Tidak Menunggu Statistik Kematian dan Ataupun Jumlah Kasus Banyak

PSBB dan atau apapun istilah bekennya dalam kamus dan kosa kata Bahasa Indonesia di tengah wabah masif bernama Covid-19 Coronavirus, secara substansial mengacu pada keseluruhan Nilai Pancasila sebagai Fondasi dan Cara Pikir Bangsa Indonesia.

Yakni untuk keselamatan nyawa Masyarakat Indonesia secara menyeluruh dari badai global Covid-19 Coronavirus.

Update Real Time Covid-19 Indonesia, pukul 23.57 Wita, tanggal 16 April 2020, mencatat : 5.516 Kasus Terkonfirmasi, 496 Meninggal Dunia, 548 Sembuh : memang menunjukan Angka atau Jumlah kenaikan cukup drastis dari sebelumnya secara Nasional kita perna bermimpi agar bisa menjadi salah satu Negara yang bebas Corona.

Ya, Indonesia layak bermimpi, sebab setiap Bangsa harus memiliki mimpi untuk diraih melalui kerja keras dari waktu ke waktu, termasuk meraih mimpi-mimpi mengisi Kemerdekaan Bangsa Indonesia secara bertahab, baik jangka Pendek, Menengah dan jangka Panjang.

Tetapi tidak demikian, sebab Covid-19 Coronavirus bisa membayangi apa saja, siapa saja dan dimana saja. Negera-Negara di Dunia bersama Negara Republik Indonesia mencatatnya dalam Tinta Emas Peradaban Hidup Manusia, Corona menjadi pandemik dunia, tanpa terkecuali Indonesia.

Indonesia memiliki kekayaaan Gagasan maupun Strategy Brilian yang tentunya diterapkan dalam upaya masif memangkas mata rantai penyebaran Covid-19.

Hal tersebut tengah dilakukan mulai dari tingkat pusat sampai ke seluruh pelosok tanah air. Sebuah Fakta Penanganan demi menyelamatkan Bangsa, memproteksi kehidupan Masyarakat Bangsa Indonesia dari wabah yang disebut masif dan mengguncang dunia.

Minimal, per tanggal 17 April 2020, PSBB menjadi salah satu metode yang menghadirkan harapan dan asumsi positif dalam upaya memutus mata rantai Covid-19 secara lebih terjamin dan memadai dari berbagai pola kajian memutus mata rantai.

Update Covid-19 Indonesia Vs Potensi

Jika hampir seluruh wilayah Provinsi dalam NKRI telah terkonfirmasi memiliki kasus Covid-19 Coronavirus, terlepas tentang jumlah terkonfirmasi berapa daerah ini dan berapa daerah itu, “bukan kah Indonesia dalam poin kedaruratan telah mengakui diri sebagai Negara yang menyatakan Darurat Nasional atas wabah Covid-19 ?.

Bukankah, sejumlah poin yang termaktub dalam PSBB pun sudah menjadi fakta-fakta penerapan di berbagai wilayah Indonesia per April 2020 ?.

Sejumlah hal tersebut bisa kita cermati pada poin-poin seperti Peliburan Sekolah dan Tempat Kerja, Pembatasan Kegiatan Keagamaan, Pembatasan Kegiatan di Tempat atau Fasilitas Umum, spontanitas Pembatasan Kegiatan Sosial Budaya, sejumlah Daerah Kabupaten mengajukan Pembatasan Moda Transportasi, serta sejumlah fakta lain, termasuk dengan kesadaran masyarakat untuk hidup dalam rumah saja.

Sebagian masih “kepala batu”, tugas bersama secara bertahab.

Dari sejumlah aspek ini, bukankah de facto Indonesia seperti tengah menjalani kembaran status antara satu daerah dengan daerah lain.? Ada yang sudah umumkan PSBB, sebagian lainnya belum mengumumkan, dan atau belum bernama PSBB.

Atau kah kita masih tersekat pada jumlah kasus dan jumlah kematian sehingga yang belum banyak jumlah nya ya masih enggan atau belum boleh, sementara yang sudah banyak jumlahnya, boleh PSBB.

Tentang Matematik ataupun Statitik Covid-19 Setiap Daerah

Tentang Statistik,  diskusi Indonesia pasti memasuki Angka-Angka.Maupun Analisa-Analisa. Perbedaannya akan berujung pada selisih jumlah kasus antara satu wilayah dengan wilayah lain.

Namun, tidak begitu siginifikan berbeda pada Penalaran Potensi Covid-19, jika kita sepakat bahwa dibalik Angka Terkonfirmasi tetap memungkinkan angka lain yang belum terdeteksi, menimbang setiap Pasien Poisitif Covid-19 tentu telah melakukan kontak dengan sesama yang lain, yang boleh kita sebut sebagai jumlah abu-abu (Potensi) yang juga berpotensi melonjak, ataupun berpotensi tertekan.

Dengan asumsi yang sangat sederhana seperti ini, Indonesia bisa memetik pesan dari Bangsa-Bangsa di dunia, termasuk Negara-Negara modern yang pada awalnya mengira tidak meningkat namun menuai peningkatan masif.

Asumsi terhadap badai masif tidak boleh menutup ruang untuk boleh berpikir seperti ini.

Jika demikian dan apabila PSBB merupakan salah satu metode konsruktif dalam misi Penyelamatan Nyawa Manusia, apakah setiap Daerah dapat dimaklumi untuk menyatakan PSBB demi dan untuk sebuah misi besar Bangsa Indonesia yakni MENYELAMATKAN NYAWA MASYARAKAT INDONESIA ?.

Atau kah pemikiran seperti ini adalah produk paranoid dan atau juga gegabah mendahului satu langkah dari Angka Pasien Covid-19 dan data kematian per daerah?.

Bisa jadi ini tidak layak diusulkan, namun kita sepakat bahwa tentang Kemanusiaan atas wabah yang tidak kelihatan “Kecil tetapi Mematikan” gaya berpikir seperti ini juga boleh menjadi kekayaan hak berpikir dalam khazanah maupun permenungan warga negara.

Kita sepakat untuk menyatakan kita tidak tega menjadikan rumusan grafik Pasien Positif, apalagi Angka Kematian sesama kita menjadi instrumen tunggal untuk memastikan kita layak PSBB dan seterusnya.

Per hari ini, Dunia mencatat, Tiga Langkah Sigap : yakni berpikir dan mengambil langkah Mendahului Bencana Masif , kita bergerak Bersama Bencana Masif ataukah Kita Menulis Duka Besar.

NKRI hari ini dan selamanya tetaplah sebagai Bangsa yang Kuat dengan dukungan penuh seluruh Masyarakat “harus sadar diri dengan cara perwujudan memastikan masing-masing diri menjadi Pemutus Mata Rantai Covid-19.

Berbagai Instrumen Kebijakan telah dan sedang dikerjakan.

Kita semua mendukung penuh segala upaya terbaik Bangsa yang Besar dan Indah ini.

Termasuk kemerdekaan dan kekayaan berpikir setiap anak bangsa dalam bingkai yang sama, yakni Menyelamatkan Nyawa Manusia, Masyarakat Bangsa Indonesia.

Jika “Pelaksanaan PSBB Dapat Memutus Rantai Penularan dari Hulunya”. Dengan kondisi Indonesia per tanggal 16 April 2020 serta berbagai potensi Covid-19 tidak terduga Bisa kah Penerapan PSBB Tidak Kaku Pada Besaran Jumlah Covid-19 Dan Kematian Corona Suatu Daerah?

Bencana ini, Badai ini (Covid-19), adalah Kedaruratan yang tengah melanda daerah-daerah, tengah berada di depan Mata Kita semua, segenap Bangsa Indonesia.

Catatan ini hanya sebuah goresan pena. Kita semua dituntut menyumbangkan pikiran dan tindakan untuk Bangsa kita. Jika keliru, mohon disempurnakan. Kritik, Saran dan Perubahan adalah milik kita bersama.

Flores, NTT, Tanggal 17 April 2020, Redaksi LN Focus Indonesia News (Larantuka.Com)

Catatan Pojok Bung Red