Dukung Pernyataan Gubernur NTT Pindahkan Pabrik Semen Ke Luar NTT

Oleh : Petrus Selestinus, SH

Masyarakat dan Gereja Diharapkan Dukung Pernyataan Gubernur NTT Pindahkan Pabrik Semen Ke Luar NTT“, Petrus Selestinus, SH

Pandangan Gubernur NTT Viktor B. Laiskodat yaitu akan memindahkan pabrik semen ke Pulau Timor, jika warga Manggarai Timur menolak kehadiran Pabrik Semen, merupakan pandangam yang tepat bukan saja karena masyarakat Manggarai Timur menolak kehadiran Pabril Semen akan tetapi juga bukti Gubernur NTT Viktor B. Laiskodat tetap komit terhadap janji kampanye untuk menolak tambang.

Yang jelas masyarakat Manggarai Timur tidak menghendaki adanya Pabrik Semen di wilayahnya, karena berdampak merusak lingkungan, menhilangkan budaya masyarakat satu desa dan menimbulkan dampak merusak kesehatan lingkungan masyarakat akibat debu semen seperti TBC, ISPA, Kulit Gatal dll. namun ide untuk memindahkan pabrik semen itu ke Timor, juga bukan langkah bijak, karena dampak buruknya sama dan komitmen Gubernur NTT tolak tambang berlaku untuk seluruh wilayah hukum di NTT.

Jika hanya memenuhi kebutuhan semen untuk NTT tidak harus dengan membangun Pabrik Semen di NTT sekalipun NTT memiliki lahan yang kandungan bahan baku batu kapur yang mengandung zat untuk bahan baku semen berlimpah. Pabrik Semen yang besar-besar di Jawa, Sumatera, Sulawesi bahkan ada PT. Semen Kupang tinggal pemerintah berdayakan, alat angkut darat dan laut kita makin maju. Daripada NTT bangun Pabrik lebih baik sewa kapal laut khusus angkut semen dari Jawa.

Jika untuk kebutuhan semen di NTT dan Timor Leste mengapa tidak perbesar PT. Semen Kupang, toh lokasi PT. Semen Kupang jauh dari pemukiman warga dan semua sudah diperhitungkan dengan matang saat PT. Semen Kupang dibangun Pemerintah. Kebutuhan semen di NTT setiap tahun mencapai 1,2 juta ton/tahun, sedangkan kebutuhan semen di Timor Leste mencapai 600 ribu ton/tahun, sementara PT. Semen Kupang NTT, saat ini hanya mampu menghasilkan 250 ribu ton/tahun artinya kurang, mestinya tinggal diperbesar Pabrik PT. Semen Kupang atau defesit semen 950 ribu ton per tahun sebaiknya datangkan dari Jawa atau Sulawesi yang sanggup mensuplai kebutuhan di NTT.

Pandangan masyarakat dan Gereja di Flores bahwa apapun namanya, kalau tambang itu jelas.merusak lingkungan dan keindahan Pulau Flores dalam sudut pandang Pariwisata di masa yang akan datang, juga sejarah membuktikan bahwa selama ini industri apapun namanya yang datang dari swasta tidak membawa keuntungan bagi masyarakat setempat, karena masyarakat hanya kenyang dengan janji-janji akan memperoleh kesejahteraan, malah yang muncul penyakit TBC, ISPA, Kulit Gatal-Gatal dll.

Karena itu Gubernur NTT jangan merubah pemahaman masyarakat tentang dampak buruk dan daya rusak yang ditimbulkan oleh kehadiran Pabrik Semen, lebih baik Gubernur NTT memahami alasan penolakan pembangunan industri yang merusak lingkungan hidup, punahnya budaya berarti tidak mendukung industri Pariwisata.

Dengan demimian maka jangan bermimpin industri tambang diterima Masyarakat dan Gereja di NTT. Pemerintah sebaiknya hantikan dan tutup total keinginan investor dari manapun yang hendak membangun Pabrik Semen di Manggarai Timur atau dimanapun di NTT, karena minim manfaat ekonomi bagi masyarakat, daya rusak lingkungan sangat dahsyat, hanya memberi untung besar kepada pemilik modal dan pejabat, kemudian masyarakat hanya diwariskan bangkai-bangkai mesin tua, limbah lingkungan bekas galian yang tidak dihijaukan kembali dan penyakit TBC, ISPA dll. yang diderita masyarakat tanpa ada yang bertanggung jawab.

Penulis : Petrus Selestinus, Koordinator TPDI & Advokat PERADI