Chatt Whatsapp ‘OK Sip’ Hasto Kristiyanto Bagai Lirik ”Buah Semangka Berdaun Sirih

Oleh : Petrus Selestinus, SH

Persidangan perkara Tindak Pidana Korupsi atas nama Terdakwa Saeful Bahri, kader PDIP yang juga Staf Hasto Kristiyanto ( Hasto) di Pengadilan Tipikor, tanggal 16 April 2020, mulai menyisir peran Hasto dalam kasus suap kepada Wahyu Setiawan, dengan mengkonfirmasi bukti percakapan eketronik dan rekaman suara elektronik yang dimiliki JPU.

JPU KPK dan Majelis Hakim ingin memvalidasi bukti-bukti percakapan elektronik antara Hasto dengan Terdakwa Saeful Bahri dan Harun Masiku pada tanggal 23 dan 26 Desember 2019, terutama substansi percakapan via aplikasi WhatsApp soal “Pak Harun ini geser 850”.

Dalam sidang Kamis tanggal 16 April 2020, Hasto mengaku tidak ingat dengan percakapan itu dan mengaku bersikap pasif selama berkomunikasi dengan Saeful Bahri setelah ia menegur Saeful yang sempat meminta uang ke Harun untuk operasional permohonan PAW Harun.

Inkonsisten dan Berbohong

Hasto mengaku bahwa ketika ada Chat WhatsApp dari Terdakwa Saeful Bahri, Hasto hanya menjawab ‘Ok Sip’ yang diartikan sendiri sebagai “membaca tapi tidak menaruh atensi”. Disinilah Hasto diduga berbohong dalam keterangannya dibawah sumpah. Ini sama dengan lirik lagu “aku begini engkau begitu” ciptaan Rinto Harahap pada lirik “buah semangka berdaun sirih”.

Pernyataan Hasto yang paradoks dan tidak masuk diakal, yang ngakunya pernah menegur Saeful Bahri karena sempat meminta uang ke Harun, adalah meng “Ok Sip”-kan pesan Chat WhatsApp Saeful Bahri soal Harun geser 850 dan oleh Saeful Bahri mengeksekusi kata “Ok Sip” sebagai amanat dari Hasto untuk memerima uang Rp. 850 juta dari Harun via Patrick Gerard Masako.

Bukti chat WhatsApp Hasto kepada Saeful Bahri pada tanggal 23 Desember 2019, berisi “Ok Sip” soal Harun geser 850, yang dieksekusi oleh Saeful Bahri pada 26 Desember 2019, dengan mengambil uang Rp. 850 juta atas permintaan Harun dari Patrick Gerard Masako, merupakan bukti petunjuk yang sempurna dan memenuhi ketentuan pasal 26 A UU KPK.

Publik tinggal menunggu konsistensi KPK untuk menetapkan tersangka baru pasca JPU memvalidasi bukti percakapana Hasto Kristiyanto dengan Saeful Bahri, karena dari 5 (lima) nama yang disebut-sebut dalam OTT KPK (Hasto Kristiyanto, Harun Masiku, Wahyu Setiawan, Saeful Basri dan Agustina Tio Fridelina) 4 (empat) nama sudah jadi Tersangka/Terdakwa, kecuali Hasto masih sebagai Saksi.

Kata “Ok Sip” Berubah Makna dan Implementasi

Nah, kata-kata “Ok Sip” yang dijawab Hasto dalam Chat WhatsApp kepada Saeful Bahri, soal Harun “geser 850” dan pernyataan Hasto bahwa pernah menegur Saeful Bahri karena meminta uang kepada Harun Masiku untuk urusan PAW, ternyata berbeda pemaknaan dan implementasinya. Hasto memanipulasi makna “Ok Sip” dengan mengartikan sendiri sebagai “tidak memberi atensi”, sedangkan Saiful Bahri memaknai secara benar dan tepat, bahkan menjadikan “Ok Sip” sebagai amanat dari Hasto untuk mengeksekusi penerimaan uang Rp. 850 juta dari Harun Masiku untuk dibagi-bagikan.

Pertanyannya, bagaimana seorang Saiful Bahri bisa tidak patuh pada teguran Hasto yang big bosnya soal tidak meminta uang kepada Harun dan bagaimana seorang Hasto bisa serta merta lupa dengan tegurannya kepada Saeful lalu serta merta menjawab “Ok Sip” soal Harun geser 850, dan begitu gampang memanipulasi maknanya sebagai “tidak memberi atensi”.

Kata “Ok Sip” dari Chat WhatsApp Hasto justru dimaknai secara benar dan tepat sebagai mandat atau amanat dari Hasto oleh karenanya Saeful Bahri tanpa beban, mengambil dana Rp. 850 juta atas permintaan Harun Masiku pada Patrick Gerard Masako, tanggal 26 Desember 2019 untuk dibagikan.

Semua sudah dikonfirmasi dan divalidasi oleh JPU KPK terutama bukti-bukti percakapan elektronik Hasto dengan Saeful Bahri melalui Chat WhatsApp, dan keterangan Hasto sendiri dibawah sumpah, untuk pengembangan lebih lanjut pasca putusan sidang.

Penulis : Petrus Selestinus, Koordinator TPDI & Advokat PERADI