Stop Mudik Adalah Upaya Penyelamatan Calon Pemudik dan Penjaga Kampung

Catatan Pojok Bung Red

Di NTT, orang mulai berseru : hanya tersisah 3 pilihan, yakni : TINGGAL DI RUMAH, TINGGAL DI RUMAH SAKIT atau TINGGAL KENANGAN.

Indonesia Waspada Ekstra atas wabah Covid-19 Corona melalui berbagai langkah kebijakan, tergambar dalam rentetan terobosan konstruktif yang terus mengalir, baik oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah dalam memacu langkah penanganan dan upaya cegah Covid-19 Coronavirus.

Semangat Merah Putih untuk memutuskan mata rantai penularan Covid-19 di Indonesia, terjawab dalam berbagai pola kebijakan lunak maupun kebijakan ekstra yang terus menerus dilahirkan, lalu terdistribusi secara berkelanjutan dengan visi tepat arah, tepat sasaran. Indonesia terus meng-upgrade pola-pola kebijakan konstruktif dalam kedaruratan Bangsa dan Masyarakat.

Himbauan Stop Mudik sebagai salah satu upaya real di antara parade perjuangan Bangsa ini memutus mata rantai penularan Covid-19 Coronavirus, sepatutnya diikuti dan dijalankan secara sungguh-sungguh. Bila perlu dinaikan menjadi larangan resmi yang berlaku secara nasional.

Tantangan Stop Mudik

Tidak ada kebijakan tanpa tantangan. Tantangan adalah fakta-fakta yang berpeluang untuk dimanagemen secara baik dan dijawab melalui berbagai terobosan kebijakan solutif.

Ketika tidak pulang ke kampung halaman, warga terdesak pada urusan perut. Urusan perut yang sifatnya hanya sementara waktu, atau tidak permanen.

Negara tidak perna menyatakan tidak mampu menangani masalah dan tantangan. Itulah sebuah ciri negara yang kuat atau kokoh, Indonesia Kuat.

Sangat diyakini, terhadap persoalan perut, inilah yang tengah menjadi pergulatan pemikiran-pemikiran Bangsa Indonesia hari ini.

Diyakini, Bangsa ini pasti menjawab segala tantangan. !

Tentang Stop Mudik

Himbauan stop mudik sesungguhnya menyiratkan minimal dua alasan utama dalam misi penyelamatan Masyarakat Bangsa dan Negara ini.

Pertama, Warga yang hendak mudik (calon pemudik) adalah warga yang tengah berada di masing-masing tempat tinggal.

Jika memaksa diri untuk mudik, maka warga yang tadinya berada di dalam tempat tinggal masing-masing, melakukan pergerakan ke luar dari rumah.

Bergerak keluar dari rumah dalam jumlah tertentu, itu menciptakan yang namanya kerumunan manusia.

Dalam tingkat kerumunan itu lah yang sesungguhnya sangat dan sedang di-pantang kan, sebab Covid-19 Coronavirus yang tidak terdeteksi di-antara kerumunan warga akan terkontaminasi dari satu orang kepada yang lainnya secara tidak terukur dan bebas radiasi bakteri.

Maka tidak heran, jika kerumunan sangat di larang keras di tengah wabah masif Covid-19 Coronavirus.

Pasalnya, tidak sedikit warga masyarakat yang sebelumnya sehat, berpotensi terjangkit dan terjangkit oleh kerumunan bebas tanpa bisa ditakar siapa yang telah terjangkit, siapa yang tidak terjangkit dari sebuah kerumunan manusia.   

Maka, sepatutnya kerumunan menjadi pantangan bersama.

Begitu juga ketika mudik dengan menggunakan sarana transportasi darat, laut maupun udara. Juga potensial bernasib sama.

Tidak mudik, anda sehat. Ketika mudik, anda memasuki zona merah potensi Covid-19 Corona dalam kerumunan banyak orang. Anda berpotensi Tidak Sehat.

Kedua, dengan tidak pulang kampung, alias tidak mudik, setiap orang telah menolong diri sendiri, menolong Bangsa ini dan daerah-daerah tanah kelahiran dari hal yang dinamakan dengan “pergerakan Covid-19 dari Zona merah ke zona hijau”.

Arti dari penegasan ini sebenarnya sangat sederhana, yakni : anda yang yang sebelumnya sehat, lalu ke luar dari rumah dan masuk dalam kerumunan, berpotensi terjangkit.

Dalam kondisi terkangkit di tengah kerumunan dan atau dalam perjalan itu lah, anda akan tiba pada lokasi tujuan, yakni rumah dan tempat asal, tanah kelahiran.

Indonesia terkini (akhir Maret 2020) ketika anda tiba tempat tujuan mudik, anda akan disambut dengan upaya klinis berupa tindakan chek suhu tubuh, dan lain-lain.

Chek suhu tubuh di setiap pintu masuk jalur transportasi, tentu nya bukan tanpa kelemahan.

Sebab, proses test nya yang begitu singkat, tidak mungkin memberikan opini cepat bahwa anda telah terserang. Belum lagi diketahui bahwa masa inkubasi covid-19 mencapai 14 hari.

Dalam kondisi demikian, anda tentu berjalan terus menuju rumah-rumah kediaman.

Anda akan disambut dengan penuh kasih sayang dalam ketidaktahuan.

Berikutnya, jika anda taat, anda menjalankan apa yang disebut dengan karantina mandiri di rumah masing-masing. Bersyukur lah jika di rumah anda sudah mempunyai ruangan-ruangan khusus yang tersedia secara layak medis untuk melakukan karantina mandiri tanpa efek atau bias mencemari bakteri kepada seluruh penghuni rumah, dalam hal ini kepada orangtua anda, saudara anda, adik anda, kakak anda, kerabat family anda, dan seterusnya.

Jika saja anda adalah pemudik yang terjangkit, lalu saat tiba di rumah, tidak terjamin bebas menular, maka hampir bisa di-nalar bahwa ketika anda mudik lalu tiba di rumah, anda sesungguhnya tengah memerankan diri sebagai malaikat pencabut nyawa keluarga, dan ataupun sebagai mesin pembawa bakteri, yang potensial membunuh anda sendiri, berpotensi menjangkit, lalu secara berantai menghabisi orang-orang yang anda kasihi.

Di NTT, orang mulai berseru : hanya tersisah 3 pilihan, yakni : TINGGAL DI RUMAH, TINGGAL DI RUMAH SAKIT atau TINGGAL KENANGAN.

Stop Mudik Adalah Upaya Penyelamatan Calon Pemudik dan Penjaga Kampung

Suara Redaksi

Catatan Pojok Bung Red