Praktek Peradilan Sesat Seorang Ahli Forensik Kasus Ansel Wora

Oleh : Silvester Nong M., SH.

“Menafsirkan sesuatu yang terang dan jelas itu adalah mengaburkan dan bahkan menyesatkan. Kepada siapa saja yang mengamini penafsiran sesat itu, maka ia pasti tersesat. Karena tersesat, maka ia wajib meminta pertolongan agar kembali ke jalan yang jelas, jalan yang terang, dalam cahaya kebenaran.”
*

PRAKTIK peradilan sesat yang dilakonkan oleh dokter ahli forensik,
dr. Arief Wahyono, Sp.F (seperti tulisan saya pada larantuka.com, 1/3/2020) sebagai ‘second opinion’ terhadap hasil Visum et Repertum (VeR) oleh dr. Ni Luh Putu Eny Astuty, Sp.F., dalam kasus kematian Ansel Wora di Ende, sungguh mencoreng dunia penegakan hukum serta menodai nilai-nilai kebenaran dan rasa keadilan. Bahkan harapan besar masyarakat terhadap lembaga kepolisian dalam mengemban misi perlindungan, pengayoman serta pelayanan kepada masyarakat, seolah olah sirna.

Kini nampak antara masyarakat yang diayomi dengan pengayomnya sedang diadu untuk berhadap-hadapan. Ini sungguh sebuah tontonan yang pilu dan memalukan.

Mengapa saya katakan sesat?
*

Poin-Poin Ketersesatan

MARI kita lihat poin-poin ketersesatan dalam proses penyidikan kasus kematian Anselmus Wora.

Pertama, VeR dr. Ni Luh Putu Eny Astuty, Sp.F. pada kesimpulan poin 3 hurif b, menyatakan: “Penebalan pembuluh nadi jantung (koroner) kiri depan sebesar lima puluh persen”.

Dalam VeR ahli dr. Ni Luh Putu Eny Astuty, Sp.F. tidak menyatakan adanya penyempitan pembuluh nadi ke jantung dan atau adanya penyumbatan pembuluh nadi ke jantung.

Mengapa dalam ‘second opinion’-nya, dengan menganalisa VeR yang sama, dr. Arief Wahyono, Sp.F langsung tiba pada kesimpulan bahwa Anselumus Wora, mati karena serangan jantung?

Mengapa Ahli dr. Arief Wahyono, Sp.F dalam Kesimpulannya tidak menggunakan logika hukum yang menuntut akurasi fakta sebagai dasar analisis dalam membangun argumentasi yang tajam untuk tiba kepada kesimpulan bahwa Anselmus Wora mati karena serangan jantung?

Mengapa ahli dalam kesimpulannya mengabaikan pula hukum logika, konklusi tanpa premise permise?

Oleh karena itu, sesugguhnya, kesimpulan ahli dr. Arief Wahyono, Sp.F. yang menyatakan bahwa Anselmus Wora mati karena serangan jantung, dengan mengabaikan logika hukum dan hukum logika, adalah kesimpulan hampa, kesimpulan yang absurdum, kesimpulan yang menyesatkan.

Kedua, VeR dr. Ni Luh Putu Eny Astuty, Sp.F. menyimpulkan: “trauma tumpul pada kepala yang menyebabkan pendarahan pada otak dapat menyebabkan kematian.”

Akan tetapi ahli dr. Arief Wahyono, Sp.F. dalam ‘second opinion’-nya menyatakan kematian Anselmus Wora bukan kerena trauma di kepala, sebab, menurutnya, kalau trauma di kepala maka tengkorak kepala harus rusak, sedangkan tengkorak Ansel Wora masih utuh.

Di sini nampak cukup jelas bahwa ahli sedang membangun argumentasi ilusif; dengan merekayasa keterangan “…kalau mati karena pendarahan di otak, tengkorak kepala harus rusak…” Dari mana ilusi ini didapat?

Literasi sains yang dipelajari maupun keterangan ahli, tidak ditemukan adanya teori bahwa seseorang mati karena pendarahan di otak. Kalau disebabkan oleh benturan benda tumpul di tengkorak kepala, maka tengkorak kepala harus rusak.

Dengan demikian argumentasi ilusif ahli, dr. Arief Wahyono, Sp.F ini, menyesatkan.

Ketiga, Ahli dr. Arief Wahyono, Sp.F. dalam ‘second opinion’-nya menyatakan luka di kepala korban karena jatuh.

Disini ahli belum menjelaskan, korban jatuh dari mana? Jatuh karena apa? Korban jatuh sendiri atau dijatuhkan? Jatuh dari ketinggian berapa? Jatuh kaki lebih dahulu atau kepala lebih dahulu? jatuh di pasir atau di aspal atau di tanah atau di bebatuan? Luka di kepala karena jatuh atau karena faktor lain? Bagaimana dengan luka di bagian tubuh lainnya?

Pertanyaan-pertanyaan model ini sesungguhnya tidak patut ditujukan kepada seorang ahli forensik, karena ia tidak berkompetensi untuk itu. Yang dibutuhkan dari seorang ahli forensik adalah semata-mata untuk membuktikan: Apa penyebab langsung atau sebab-sebab terdekat yang timbul yang mengkibatkan kematian korban?

Mari kita simak perumpamaan ekstrim berikut ini!

Seorang Pembunuh, awal mulanya pergi membeli pisau di pasar, kemudian pulang ke rumah, pisau itu lalu diasah, sambil mengancam akan menggorok leher tetangganya yang cerewet di sebelah rumahnya. Ternyata benar! Keesokan harinya tetangga yang cerewet itu mati terbunuh dengan lehernya digorok.

Apa yang dibutuhkan dari seorang ahli forensik untuk menentukan sebab kematian korban ini? Apakah tindakan membeli pisaunya atau tindakan mengasah pisaunya? Apakah tindakan mengancamnya atau tindakan menggoroknya?

Jawaban yang pastinya adalah semua itu tidak dibutuhkan dari seorang ahli forensik. Yang dibutuhkan dari seorang ahli forensik adalah apakah tindakan menggorok leher korban itulah yang membuat urat nadi korban putus, sehingga terjadi pendarahan hebat yang mengakibatkan matinya korban?

Di sini, jelas, seorang forensik tidak dibutuhkan untuk menerangkan tentang suasana yang mendahului, suasana yang menyertai, dan suasana yang mengikuti peristiwa itu. Ia dengan keahliannya hanya dibutuhkan untuk membuktikan sebab-sebab langsung dan atau sebab-sebab terdekat yang mengakibatkan kematian korban.

Oleh karena itu, Ahli, dr.Arief Wahyono, Sp.F. dalam ‘second opinion’-nya yang menerangkan tentang korban jatuh, mengakibatkan luka di kepala, juga di tempat lain, adalah keterangan yang tidak relefan dengan keahlian dari seorang ahli forensik ketika hendak membuktikan sebab-sebab kematian korban. Jadi, dr. Arif Wahyono, SpF. sudah berbicara hal yang bukan tugasnya.
*


Hilangnya Jejak Kejahatan

DARI tiga buah dalil hampa, penuh ilusi, bahkan tidak relefan dengan keahlian ahli dr. Arief Wahyono, Sp.F.,
terlebih lagi mengabaikan logika hukim dan hukum logika, maka sudah cukup beralasan bahwa praktek yang sedang dilancarkan oleh ahli dr. Arief Wahyono, Sp.F. adalah, praktek peradilan sesat.

Apakah ahli dr. Arief Wahyono, Sp.F.
mengira seseorang bisa dikategorikan mati wajar hanya karena daya ilusif dan daya imajinasi seorang ahli forensik? Wallahu ‘alam.

Ditambah lagi dengan tingkahlaku agresif yang dilakonkan oleh ahli dr. Arief Wahyono, Sp.F. untuk merampas sekaligus merusak hasil VeR ahli lain, i.c. dr. Ni Luh Putu Eny Astuty, Sp.F. Bahkan ahli dr. Arief Wahyono, Sp.F. berupaya menerobos kamar lembaga lain, i.c. Lembaga Penyelidikan dan Penyidikan Polres Ende dan Polda NTT. Jadi, dr. Arief Wahyono, SpF. bekerja yang tidak dalam ruang kompetensi dirinya, semakin memperkuat keyakinan bahwa ahli dr. Arief Wahyono, Sp.F. sedang melancarkan praktek peradilan sesat.

Celakanya bahwa dengan praktik peradilan sesat dr. Arief Wahyono, Sp.F. inilah yang dijadikan pegangan dasar oleh Penyidik Polda NTT untuk menghentikan proses penyidikan terhadap kasus kematian Anselmus Wora yang diduga mati tidak wajar.

Hal itu berarti jejak-jejak kejahatan tentang dugaan adanya pembunuhan terhadap korban Anselmus Wora, anggota PNS pada Pemerintahan Kabupaten Ende, Prov. NTT., menjadi sirna.

Mari kita berdoa dan berharap, agar kebenaran kembali menampakkan dirinya!

“In Manus Tuas Domine”
(Kedalam tanganMu Tuhan, kami berserah diri!). (*)

Penulis : Silvester Nong M., SH., Pengacara Senior, Direktur Yayasan Bina Bantuan Hukum (YBBH) Veritas Jakarta, Pernah menangani kasus kematian Romo Faustinus Sega, Pr