Pertobatan

Oleh : P. Chris Surinono, OCD

Tobat atau Pertobatan sangat akrab dengan masa pra-Paskah. Kita selalu berniat untuk memperbaiki diri ; membaharui diri. Jalan untuk itu adalah dengan bertobat. Pada Hari Rabu Abu kepada kita, sambil ditandai dengan Abu, Imam akan katakan : “Bertobatlah dan Percayalah pada Inji”.

Bertobat selalu berhubungan dengan masa lalu. Misalnya setelah selalu bergadang tidur larut malam, akhirnya sakit. Maka sakit ini membuat ia menata kembali hidupnya dengan disiplin.

Sedangkan dalam konteks Iman, Pertobatan selalu merujuk kepada tindakan atau sikap berubah dari yang lama kepada yang baru ; dari cara lama ke cara baru ; dari hidup lama kepada cara hidup yang baru. Artinya, kalau hidup sebelumnya jauh dari Tuhan, sekarang bertobat dengan mendekati Tuhan.

Dalam perjalanan panjang sejarah umat manusia dan sejarah Gereja, kita temukan banyak sekali orang yang berbalik dari hidup lama ke hidup yang baru.

Bertobat itu adalah data yang menjelaskan tentang yang sebelumnya dan sesudahnya. Misalnya. St Paulus, St. Agustinus, St. Fransisks dari Asisi, St. Ignasius dari Loyola atau Andre Forssard, Paul Claudel, St. Edith Stein, dll. Ini contoh-contoh yang pernah jauh dari Tuhan, bahkan menjadi ateis, lalu bertobat kembali kepada Allah.

Namun bukan berarti pertobatan hanya terjadi dengan cara luar biasa seperti mereka itu. Kita yang sedari kecil dididik dalam lingkup agama Katolik tidak mengalami pertobatan dalam cara yang luar biasa.

Tetapi perlahan-lahan sambil mengenal kerahiman Allah. Bagi kita, bertobat yang benar dan baik itu adalah sebagaimana dikatakan oleh St. Teresa, yakni tidak jatuh kedalam rutinitas atau apatis dengan keadaan jiwa kita. Paus Fransiskus, dengan mengutip kata-kata St. Paulus, katakan: “Janganlah kamu menggunakan jiwa, hati dan tubuhmu untuk berbuat dosa, melayani kejahatan, melainkan gunakanlah utnu melayani Allah, dan berbahagia” (Wejangan 22 Oktober 2015).

Kita, dengan kekuatan Roh Kudus membuka pintu hati agar bisa mengalami kerahiman Allah. Bertobat adalah upaya untuk kembali mengalami lagi dan lagi bahwa Allah itu baik. Ia maha pengampun dan penuh belas kasih. Manusia memang perlu bertobat, karena ia bukan saja pendosa, tapi juga berbuat dosa.

Maka pertobatan menjadi jalan untuk menjadi baik, kudus dan bahagia. Berbahagilah orang bila dosanya diampuni Allah. Allah menyiapkan sarana untuk mengalami kembali kerahiman-Nya melalui sakramen pengakuan.

Kita bisa heran kalau ada yang katakan : Saya mengaku apa yah? Rasanya saya tidak punya dosa.

Orang yang merasa tidak berdosa berarti menipu diri sendiri dan Allah. Maka, masa pra-paskah adalah kesempatan istimewah untuk mengalami kerahiman Allah dalam dan dengan Sakramen Pengakuan atau tobat**.

Sumber : Kutipan Akun Social, P. Chris Surinono, OCD

P. Chris Surinono, OCD