Pemimpin dan Spiritualitas Melayani

(Berguru pada seorang mantan Kepala Desa dan Peletak dasar desa Lewotobi).
Goresan kisah buat Bapak Yohanes Sina Witin di usia ulang tahunnya yang ke 94 hari ini.

Minggu 28 Oktober 2018, momentum penting bagi seluruh warga desa Lewotobi, Kecamatan Ile Bura di pinggiran pantai selatan di bawah lereng gunung Kembar Lewotobi, dalam syukuran 50 tahun desa Lewotobi.

Berawal dari desa Gaya Baru saat itu sekitar tahun 1968 yg meliputi 3 kampung yaitu Lewotobi, Lewouran dan Lewoawan, yang diakronimkan dengan BIRAWAN. Warga masyarakat begitu antusias merayakan pesta rakyat ini dengan penuh sukacita. Kegembiraan dan sukacita mereka ini dirayakan dalam sebuah perayaan akbar dalam rangkaian kegitan lain yg turut menyemaraki dan memberi warna tersendiri.

Hadir dalam perayaan syukur ini yaitu para mantan kepala desa yang pernah membahktikan diri mereka untuk kepentingn ribu ratu lewotanah Lewotobi. Diantara para mantan kepala desa itu hadir juga Bapak Sina Witin, Kepala desa pertama sekaligus sang pionir dan peletak dasar desa Lewotobi.

Sebaga kepala desa pionir sekaligus peletak dasar desa Lewotobi, Bapa Sina Witin yang masih semangat dan segar bugar meski sekarang sudah memasuki usia yang ke 92 tahun, berkisah dengan semangat tentang pengalaman-pengalaman pentingnya saat menjabat sebagai kepala desa pertama.

Saat itu beliau selalu diinspirasi dengan adagium klasik ini, Fortiter in re sed suaviter in modo. Pemimpin yang selalu tegas dalam prinsip namun selalu lembut dalam cara. Adagium klasik inilah yg selalu dipakainya dalam memimpin dan melayani masyarakat di desa ini. Bisa dibayangkan tugas kepala desa waktu itu yang masih buta dengan teknologi ICT. Walaupun dalam keterbatasan namun bapa Sina Witin tetap melayani masyarakat di desa Birawan ini dengan suri keteladanan dan prinsip yg betul-betul diatur dalam aturan-aturan yang bermanfaat bagi kepentingan masyarakat umum.

Walau dengan upah yang sangat terbatas namun dedikasi dan pelayanan beliau tak kenal lelah. Prinsip umum lakukan yang baik dan hindari yang jahat serta tidak sombong dan selalu rendah hati. Pesan Bapa Sina Witin bahwa menjadi pemimpin itu berarti kita melayani dengan hati dan keteladanan hidup yang bisa mempengaruhi orang lain. Kita tidak boleh bangga dan berbesar hati dengan tugas yang dipercayakan. Beliau juga dengan tegas mengatakn bahwa kita tidak boleh menciptakn konflik dan harus baik dengan semua orang.

Bapa Sina Witin mewariskan keutamaan keutamaan hidup yang selalu rukun dan harmonis. Menjadi pemimpin berarti kita sedabg menghidupkan spiritualitas penting yaitu pelayanan dengan hati. Melayani orang atau sesama dengan baik pasti akan mendatangkan pahala yang besar di kemudian hari. Kini, Bapa Sina Witin sudah memasuki usia tua, dia sangat mengharapkan para pengganti atau generasi berikutnya untuk tetap memelihara dan merawat iklim kerja yang baik yaitu membangun dengan hati dan teladan hidup yang merangkul dan tidak angkuh dan sombong.

Jika kita melayani dengan hati maka seluruh yang kita kerjakan akan berlangsung dengan baik dan benar. Atas dedikasi dan pelayanan Bapa Sina itu maka pada hari ini, momentum berahmat itu membuat kami untuk kembali membuka lembaran-lembaran diary itu dan boleh bercerira dan bernostalgia kembali tentang dirinya.

Hari ini bapa Sina Witin dan kelima temannya yang lain patut diberikn apresiasi dan reward yang bearti. Cincin emas itu patut dikenakan di jari manisnya karena dari dialah desa ini berkembang dan telah menoreh sejumlah prestasi yang gemilang.

Di usia yang purna 92 tahun, beliau ajak kita untuk tetap menjalani hidup ini secara sederhana. Kita bersyukur karena dia adalah sejarah yang hidup, sang peletak dasar sekaligus pioner desa Lewotobi.

PROFISIAT BUAT BAPAK YOHANES SINA WITIN, PADA TANGANMU SEPATUTNYA DIKENAKAN CINCIN EMAS INI, KARENA DARI TANGAN DAN SELURUH DIRI, TUGAS DAN PENGABDIANMU KAUKIR SEJARAH DESA LEWOTOBI. PROFISIAT DAN SELAMAT BUATMU BAPAK SINA WITIN. Pemimpin yang bijaksana adalah pemimpin yang tegas dalam prinsip tetapi lembut dalam cara.
Mari kita belajar pada kerendahan hatinya dan prinsip hidupnya yaitu ora et labora, berdoa dan bekerja.