Pemda Lembata Diminta Jangan Asal Tolak MV Coral Adventurer

LN Focus Indonesia News – Pemerintah Daerah Kabupaten Lembata di Provinsi Nusa Tenggara Timur diminta tidak sekedar mengeluarkan kebijakan menolak MV Coral Adventure dengan meminjam isyu Corona, tanpa Standard Operating (SOP) profesional.

Jika terus dipaksakan, penolakan hanya berujung pada kerugian sektor pariwisata, kerugian menimpa MV Coral Adventurer dan juga Lembata sendiri dirugikan sebagai daerah yang mendengungkan diri menjadi salahsatu ring beauty NTT, dunia pariwisata sebagai liding sektor.

Penegasan ini tersirat dalam wawancara exclusive Redaksi Berita LN Focus Indonesia News (1/3) terhadap pelaku pariwisata putra daerah Kabupaten Lembata, Rafael Miku Beding.

Pasalnya, pada Tanggal 2 Maret 2020, MV Coral Adventure seharusnya masuk di Desa Wisata Lamalera. Namun pihak Pemda, urai Rafael Miku Beding, melalui jajaran terkait membatalkan itu dengan alasan yang sangat kabur, bahkan menabrak fakta kelayakan MV Coral Adventure beroperasi, sesuai hasil uji corona yang memastikan MV Coral Adventure bebas corona.

MV Coral Adventure dinyatakan memenuhi berbagai instrumen uji kelayakan dan prosedur baku, begtu juga semua awak kapal beserta isinya diyatakan negative corona. atau bebas viruz corona

Sebelunmya, MV Coral Adventure ditolak di Alor dengan tanpa memenuhi prosedur uji cleaner atau diduga asal menolak.

Diutrakan, ironisnya adalah, MV Coral Adventure diterima di Labuan Bajo dan Ende dan lagi-lagi terbukti tidak membawa dampak corona apapun, sebab telah dipastikan negative corona atau bebas dari corona.

Berikut petikan wawancara redaksi berita dengan pelaku pariwisata, Rafael Miku Beding.

Pembatalan kunjungan Kapal di Lembata sangat mengecewakan. Lembata tidak menerapkan SOP profesional dalam acuan sikap sebuah kebijakan.

Saya sudah ambil semua berkas yang dari Australia, dari Kupang dan sejumlah dokumen legal lainnya yang telah menyatakan kapal layak jalan ke destinasi-destinasi yang dituju.

Sebelumnya Alor juga melakukan penolakan sepihak, nah menyusul Lembata ikutan dengan tanpa terapan SOP profesional.

Sebenarnya masyarakat dan para pihak cukup dirugikan atas kebijakan sepihak seperti ini. Demikian juga Lembata, dirugikan.

Lembata menggaungkan Pariwisata sebagai liding sektor, Lembata sebagai salah satu ring beauty nya Nusa Tenggara Timur, katanya !, namun, seperti begini fakta lapangan. Kurang profesional, lalu jadinya lucu.

Dalam peristiwa ini stake holder daerah nampak tidak siap berjalan sesuai standart profesional.

Saya sebagai pelaku pariwisata, dan juga sebagai masyarakat kecil, yang berharap bisa mendapat beras satu mok dari kehadiran dan kunjungan pariwisata, sangat dikecewakan dengan sikap kebijakan yang tidak mengikuti SOP baku dan diduga tidak memenuhi unsur pembatalan.

Harusnya dibuktikan dong. Darwin saja sudah melepas, mengatakn izin untuk jalan, sebab MV Coral Adventure tidak ditemukan atau bebas dari corona, dan itu dibuktikan dengan surat dan dokumen lengkap, demikian pula Kupang menyatakan clear, nah ko’ tiba-tiba Alor dan Lembata melayangkan pikiran sepihak dan membatalkan dengan isyu corona.

Sementara MV Coral Adventure diterima baik di Ende dan Labuan Bajo dan memang terbukti bebas Corona.

Ini sebenarnya ada apa dengan Lembata dan Alor?.

Saya sudah datang ke Lewoleba, bertemu langsung dengan Kepala Dinas terkait, mempertanyakan ada apa dengan pembatalan sepihak.

Semua surat dokumen sudah saya berikan. Kepala Dinas menjawab bahwa pembatalan mengikuti perintah yang diturunkan dari atas. Dalam hal ini merujuk Surat Wakil Bupati.

Kan jadinya lucu, ketika sudah seperti ini baru mulai muncul situasi tidak ada yang bertanggungjawab secara profesional ataupun mengacu pada pembuktian-pembuktian yang sesuai dengan dasar-dasar yang benar, sesuai SOP profesional dan instrumen legal maupun medis secara benar, malah ini sebaliknya sesuai surat dari atas.

Kami minta tolong jangan asal menolak ataupun membatalkan tanpa standart operasi dan prosedur profesional, sebab bicara corona tidak hanya soal mengira ataupun membuat prasangka, apalagi dalam hal ini hanya untuk merugikan pihak-pihak lain sebagai pelaku pariwisata”, tutup Rafael Miku Beding.

Sebagaimana diuraikan, cuplikan wawancara diatas, keluhan dan pengaduan oleh pelaku pariwisata asal lembata, Rafael Miku Beding berharap Pemda Lembata membuka evaluasi sikap penolakan yang diduga sepihak.

Saat berita ini diturunkan, media ini masih berupaya melakukan konfirmasi jawaban terbuka pihak Pemda Lembata, NTT melalui bagian-bagian terkait atas tindakan pembatalan yang diduga sepihak dan belum memenuhi SOP profesional. (Tim/Red)

Referensi Tambahan :