Kita Lock Down Tetapi Alergi Blokade Lokal Terukur Laut Darat Udara

Catatan Pojok Bung Red

Wabah Covid-19 Coronavirus  dengan akurasi catatan global (dunia) per tanggal 31 Maret 2020 telah menjangkit sebanyak 785.777 positif warga dunia, total kematian 37.815 manusia, jumlah pasien yang sedang kritis sangat serius 29.444 pasien, grafik kasus yang sedang aktif  582.355, merupakan sebuah wabah ganas dan tengah meradiasi planet bumi ini secara sangat masif.

Negara Indonesia per tanggal 31 Maret 2020, jumlah kasus positif Covid-19 : 1.414, total kematian 122.

Terhitung per tanggal 30 Maret 2020 Presiden RI Joko Widodo resmi berlakukan Darurat Sipil. Darurat Sipil adalah Keadaan Bahaya. Darurat Sipil diatur dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 23 Tahun 1959 tentang Kadaan Bahaya.

Secara singkat Covid-19 Coronavirus Indonesia per akhir bulan  Maret 2020 juga telah menoreh parade kritis NKRI ditandai dengan fakta-fakta krusial diantaranya, pemberlakuan masif “physical distancing, sekolah-sekolah dan perkantoran di-liburkan, tempat-tepat kebhaktian agama sudah dominan ditutup, telah digerakan pemberlakuan darurat sipil, ratusan orang telah meninggal dunia, ribuan kasus positif terus menanjak, tercatat ribuan ODP, sebagiannya PDP, dan seterusnya.

Apa itu Lockdown

Lock Down adalah paduan kata dalam Bahasa Inggris  yang berarti “Ter-kunci” – Mengunci – Kuncian.  

Penggunaan istilah Lock Down cukup menguat pada wabah Corona.

Istilah Lockdown dipakai pada berbagai beranda diskusi, cuplikan-cuplikan status maupun judul-judul berita tentang Covid-19, Virus Corona.

Dalam konteks Covid-19 Corona, Lockdown diartikan sebagai tindakan mengunci akses masuk dan akses keluar bagi siapapun guna mencegah penyebaran virus Corona.

Begitu banyak pihak merilis kajian ilmu dan narasi bayang-bayang kejatuhan ekonomi jika NKRI mengambil sikap Lockdown.

Yang Tercecer dan Alpa Dilihat

Ketika semua warga sudah berada dalam rumah dan secara dominan telah lebih banyak hidup dalam rumah-rumah saja, sesungguhnya secara de facto Indonesia tengah me-lockdown, atau tengah di-hadapkan dengan kondisi warga yang sudah berhasil di-kunci secara dominan (lockdown) dan hanya hidup dan bergerak di dalam rumah-rumah mereka saja. Hal seperlunya saja yang membuat warga masih berada di luar rumah atau bepergian.

Istilah keren Lock  Down seolah mengganggu daya pikir Bangsa ini untuk hanya mengartikan lockdown adalah hanya tentang penutupan Bandara, Pelabuhan, Stasiun dan Terminal.

Indonesia hari ini digempur Covid-19 hingga terkesan tercecer mengatakan bahwa Sekolah-Sekolah telah di lockdown, perkantoran telah di lockdown, tempat-tempat beribadah telah di lockdown, sejumlah akses publik tempat pariwisata telah di lockdown dan lain-lain.

Indonesia seolah-olah sedang masuk dalam giringan tafsir sempit, bahwa lockdown hanya tentang tindakan menutup Bandara, Pelabuhan, Stasiun dan Terminal-Terminal Transportasi setelah mendapat pengumuman resmi Presiden.

Penyempitan arti Lockdown yang hanya disasar kepada hal-hal lalu lintas besar seperti masalah penerbangan dan masalah pelabuhan laut misalnya, telah memiskinkan makna lockdown yang sesungguhnya dan melupakan apa yang sedang terjadi di depan mata.

Itu akan berpengaruh pada acara berpikir, yang akan diikuti dengan kelalaian – kelalaian lain dalam mengambil tindakan-tindakan serius atas situasi dan kondisi rakyat saat ini.

Dalam KBBI atau Kamus Besar Bahasa Indonesia, isolasi adalah pemisahan sesuatu hal dari hal lain, atau usaha memencilkan manusia dari manusia yang lain. Lockdown adalah tindakan isolasi.  Lockdown dalam konteks negara biasanya diikuti larangan untuk berkumpul, diikuti dengan kebijakan menutup sekolah – sekolah dalam masa waktu tertentu, bahkan hingga menutup tempat-tempat umum untuk di-kunjungi.

Indonesia sudah menerapkan itu. Lockdown atas Covid-19 Coronavirus, bukan hanya tentang Pelabuhan Laut, Darat, Udara.

Dampak Tercecer Alpa Dilihat

Sejumlah narasi menulis tentang India yang kelaparan hebat dan huru-hara di negara itu usai kebijakan lockdown.

Narasi lain mengangkat bayang-bayang ekonomi Indonesia pasca Presiden menyebut kata “Indonesia Lockdown”!.

Itu yang ditunggu-tunggu kan?!.

Ironis. Sebab tanpa Presiden mengumumkan kata Lockdown, Indonesiaper31 Maret 2020 telah memberlakukan lockdown pada sejumlah aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, demi sebuah misi besar, yakni menyelamatkan seluruh Bangsa Indonesia.

Tiga dampak pertama akibat pemahaman yang tercecer dan alpa dilihat?  

Pertama, stock makananmasyarakat mulai menipis dan ketersediaan sembako dalam rumah tangga masyarakat perlahan terbatas. Ini akibat dari warga telah mematuhi instrumen dan aturan main berada dalam rumah untuk keselamatan bersama dan demi Indonesia segera bebeas dari cengkraman Covid-19.    

Kedua, ancaman kelaparan hebat usai sejumlah ruang gerak terlockdown yang ditunjukan dengan fakta-fakta faktual dominan ‘warga masyarakat Indonesia telah hidup dalam rumah-rumah saja.

Ketiga, lambatnya terbobosan kebijakan talangan untuk segera menolong kesusahan-kesusahan masyarakat.

Tiga point krusial diatas adalah catatan aktual Bangsa Indonesia per tanggal 31 Maret 2020, meskipun tidak sedikit masyarakat Indonesia masih “kepala batu” hiruk pikuk di luar rumah dengan berbagai alasan dan masing-masing logika.

Tentang Blokade Lokal Terukur Laut Darat Udara

Dengan catatan – catatan ringan ini, sesungguhnya sudah bisa dinalar, Indonesia seolah menunggu dan haus Lockdown disebut oleh Presiden Indonesia.

Mungkin kah ketika itu disebut, akan dipertemukan langsung dengan segudang narasi Presiden gagal, Presiden mencelakakan rakyat, dan seterusnya?

Diperkirakan, narasi-narasi politik berbaju ulasan ekonomi akan memasuki wilayah terbaiknya ketika Presiden berdiri di mimbar lalu berkata “Indonesia Lockdown”.

Berbagai Realita Indonesia hari ini (31 Maret 2020), sesungguhnya lockdown tengah dijalani oleh masyarakat Bangsa Indonesia pada sejumlah sektor real kehidupan dalam berbangsa.

Jika demikian, salah satu pertanyaan yang paling menarik adalah mengapa Blokade Lokal Terukur untuk jalur Laut, Darat dan Udara belum bisa diterapkan di daerah-daerah?.

Blokade terukur berbeda jauh dengan lockdown. Berbeda pula dengan menutup total.

Namun, hanya sebuah tindakan mencegah secara ekstra dengan (mungkin) menerapkan pengaturan rimte dan skala lalu lintas, evaluasi jumlah armada, dan lain-lain yang sekiranya relevan dan sangat urgen guna mendukung berbagai terobosan lain negara dan daerah-daerah dalam konteks “waspada, tindak, sigap, tangkal, estra” memutus mata rantai penyebaran Covid-19 Coronavirus di Indonesia dan daerah-daerah.

Per 31 Maret 2020, Indonesia telah berada dalam lintasan Darurat Sipil. Indonesia juga telah melintasi multi aspek lockdown.

Mengapa Blokade Lokal Terukur jalur Laut, Darat dan Udara belum bisa diterapkan di derah-daerah?.

Salam Suara Redaksi

Catatan Pojok Bung Red