Indahnya Panorama pantai Wai Uhe (Bagian Pertama)

Oleh: Peter Witin Silvester – Orang Lewotobi, tinggal di Weri, Larantuka.

Siang itu, Selasa, 10 Maret 2020 di saat Minggu pertama di bulan Maret, kami mengadakan sebuah perjalanan pulang, kembali ke kampung halaman Lewotobi berkenaan dengan sebuah hajatan kedukaan.

Dengan mobil travel silver innova kami pun meluncur sedikit cepat menuju Lewotobi. Di Lewotobi, selain membagi kedukaan dengan sesama orang kampung, kami pun duduk bercerita dan bersenda gurau satu sama lain dalam suasana kekeluargaan sebagai kakan arin, opu pain dan sesama saudara.

Sebelum berpamitan pulang ke Larantuka, kami sempat menyisihkan waktu untuk mengunjungi salah satu lokasi destinasi wisata yang katanya lagi viral di media sosial. Tempat itu namanya WAI UHE, dengan pantainya yang indah mempesona dan lebih dari itu disertai dengan gemulai bebatuan yang menyerupai batu roti yang tersususun rapih di setiap tebing dan jurang yang ngarai dan penuh bebatuan yang tinggi dan dalam.

Tatkala menginjakkan kaki pertama kali di pantai itu, kami menjumpai sebuah sumur tua yang diprkirakan berusia sekitar ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu seusia manusia pertama yang mendiami lokasi itu serta minum air dari mata air sumur tua itu. Warga setempat menamai sumur tua itu dengan sebutan WAI UHE.

Wai Uhe ini terletak persis di antara Lewouran dan Lewoawan. Sumur tua milik orang Lewouran ini, menurut tuturan sejarah, dijadikan sebagai tempat melepas dahaga orang-orang Lewouran yang dulunya mendiami kampung lama (Lewo Oki) yang letaknya jauh dari pinggiran pantai. Wai Uhe menjadi satu-satunya tempat bersejarah buat mereka untuk berkumpul bersama-sama, mengambil air kehidupan, minum air dari sumur yang satu dan sama dan menjadi tempat bagi mereka untuk mencuci dan membasuh diri dan pakaian yang mereka gunakan dalam kehidupan sehari hari.

Sumur tua ini juga menjadi sebuah tempat untuk melepas dahaga bagi setiap orang yang ingin bepergian atau tengah mengadakan perjalanan baik di darat maupun perjalanan di laut, khususnya bagi para nelayan pantai selatan yang mengarungi ganasnya gelombang laut pantai selatan untuk menyambung kehidupan mereka.

Bagi orang Lewouran dan sebagian orang Lewoawan dan kampung-kampung di pinggiran pantai selatan Ile Bura, nama WAI UHE ini menjadi sebuah nama yang mengandung sejarah dan tututuran tradisi yang tak pernah lekang oleh waktu. Nama ini terus hidup dan tetap menjadi legenda tua yang menjadi warisan generasi yang satu ke generasi berikutnya.

Sumur tua WAI UHE ini kaya dengan tradisi dan tuturan sejarah yang khas dan unik. Orang Lewouran datang jauh-jauh dari kampung lama yang sedikit berlokasi di arah pegunungan dan perbukitan dengan membawa peralatan yang masih tradisional, untuk nengambil air kehidupan di mata air sumur tua WAI UHE di pinggiran pantai.

Mereka menimba air, meminumnya, mandi dan mencuci pakaian dan selanjutnya mereka mesti menimbah lagi dan mengisinya dalam bambu, peralatan mereka yang masih sederhana, dan membawa pulang ke kampung lama untuk diminum dan digunakan untuk kebutuhan yang lain. Itulah aktivitas harian mereka berkaitan dengan sumur tua WAI UHE, yang menjadi satu satunya sumber air bagi mereka di jaman itu.

Bagai perempuan dalam Kitab Suci yang didapati Yesus sedang duduk di sebuah sumur tua, dan Yesus pun meminta minum kepadanya. Dan apa yang terjadi, perempuan itu pada akhirnya meminta minum juga pada Yesus yang adalah sumber Air Kehidupan.

Sumur tua WAI UHE, dalam tuturan sejarah juga diibaratkan sebagai mata air dan sumber air kehidupan yang memberikan inspirasi hidup bagi orang-orang kampung Lewouran dan orang-orang kampung di sekitarnya. Sumur tua ini terletak persis di hamparan pantai yang indah dengan panorama alam dan bebatuan yang menyerupai batu roti.

Panorama pantai nan indah ini dengan view utama tiga pulau, nuha Witi, nuha Kowa dan nuha Bele yang terbentang indah di depannya dan menjadi jalur utama penyeberangan feri Larantuka-Kupang melewati laut Sawu. Deburan ombak yang cukup ganas dengan deru dan buihnya yang putih tampak memecah dan membias luas di tebing dan bebatuan yang menyerupai roti. Hamparan batu roti yang beberapa waktu lalu menjadi viral di media sosial dan twitter memukau mata setiap pengunjung yang datang mengunjungi panorama pantai nan indah ini. Hamparan batu dan tebing-tebing yang ngarai sempat membuat indah tempat ini, menjadikan orang menyebut tempat itu dengan BATU ROTI. Batu-batu yang tersusun rapih di setiap tebing dan ngarai dan menjadi pijakan para pengunjung itu diberi nama batu roti oleh bapak camat Ile Bura, Bapak Jack Arakian.

Batu-batuan itu menyerupai potongan-potongan roti, sehingga untuk mempopulerkan lokus itu beliau menamakan tempat itu dengan Batu Roti. Hamparan Batu Roti ini menjadi view menarik bagi para pengunjung dan menjadi daya tarik khusus bagi setiap orang datang berkunjung dan sempat berekrekreasi di pantai ini.

Pesona pantai WAI UHE dengan hamparan Batu Rotinya, batu yang menyerupai roti ini memberikan keindahan tersendiri bagi para pengunjung. Hamparan Batu Roti dengan tebing dan pecahan ombak putih memberikan kesejukan dan keindahan bagi nelayan-nelayan yang ingin mengais reheki kehidupan ini.

Panorama pantai WAI UHE dengan hamparan batu yang menyerupai potongan-potongan roti tetap menanti para pengunjung yang ingin melepaskan kelelahan di tengah rutinitas kehidupan ini.

Mari, datanglah di pantai WAI UHE ini, anda dan saudara saudari sekalian akan minum dari mata air kehidupan ini, dan berjalanlah melewati hamparan batu yang menyerupai potongan potongan roti, anda akan dikuatkan dengan roti kehidupan. Nantikan ulasan bersambung, Pesona Pantai Wai Uhe dengan hamparan Batu Roti yang indah dan glamour.