Type A Polda NTT Vs Teka-Teki Kematian ASN Ende Ansel Wora

Catatan Pojok Bung Red (Redaktur)

Kematian belum tersingkap, seorang ASN di Kabupaten Ende Pulau Flores, Provinsi Nusa, Anselmus Wora pada duka 31 Oktober 2019, TKP Pulau Ende, telah menghasilkan sejumlah opini bebas di tengah masyarakat atas kinerja Polri di daerah.

Mosi tidak percaya diterima Polres Ende atas penanganan berbulan lamanya namun tidak tersingkap. Selanjutnya mata publik serentak mengarah ke Polda Nusa Tenggara Timur di Kota Kupang.

Penanganan kasus diserahkan ke Polda NTT. Expektasi Publik menaruh mimpi besar bahwa ditangan Polda NTT kematian Anselmus Wora tidak lagi disebut misteri. Sebaliknya akan lebih mudah terpecahkan atau tersingkap. Demikian hal para pelaku terungkap dan atau ditetapkan sebagai Tersangka, dan setersunya.

Jika piblik NTT menaruh harapan besar pada Polda NTT, itu wajar dan harus. Bukan sekedar ber-expektasi. Tipologi Kepolisian Daerah (Polda) Nusa Tenggara Timur (NTT) memang sudah naik kelas dari sebelumnya Polda Tipe B beralih menjadi Polda Tipe A. Itu telah dikukuhkan.

Logika Negara Indonesia menebutkan dengan adanya peningkatan status menjadi Polda type A maka pelayanan menjadi semakin baik, menjadi lebih profesional dari sebelumnya dan semakin mampu menjawab tantangan tugas-tugas Polri di daerah.

Status Polda NTT bertipe A sesungguhnya bukan hanya sebatas kisah seremonial semata, namun lebih dari itu merupakan jawaban pasti adanya peningkatan pelayanan terhadap masyarakat, adanya peningkatan kinerja oleh seluruh Anggota Polri dalam jajaran Polda Nusa Tenggara Timur.

Berbeda dengan dengan type B, Polda type A pun dikadoi peningkatan sarana prasarana serta penambahan personil. Itu final. Sebab type menentukan bobot kinerja, bobot pelayanan, bobot penanganan, dst. !

Terhadap pengungkapan kematian ASN Ende, Anselmus Wora, Polda NTT dengan kenaikan type yang sudah dikukuhkan jauh sebelumnya, benar-benar dipertaruhkan dan dinanti-nantikan oleh masyarakat Nusa Tenggara Timur. Demikian juga terhadap berbagai perkara lainnya yang sebelumnya masih jauh dari pangggang api dalam potret buram penanganan hukum di wilayah Nusa Tenggara Timur.

Polda NTT harus segera unjuk jati diri Polda bertype A. Membuktikan pengungkapan kematian yang oleh kebanyakan kalangan mulai dicemaskan, jangan-jangan Polda bertype A pun bernasib sama.  

Jangan-jangan penanganan kematian Anselmus Wora hanya senilai pertunjukan “Dari Mistery Ini ke Misteri Itu. Dari Teka-Teki Bab Satu menuju Teka-Teki Bab II.

Kematian Anselmus Wora Mau Diarahkan Kategori Apa

Pertanyaan tentang apakah ada aturan dalam KUHAP mengenai batas waktu Kepolisian untuk menindaklanjuti sebuah perkara, jawabannya adalah tidak ada.

Namun dalam Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2012 tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana (“Perkapolri 14/2012”) disebutkan bahwa waktu penyelesaian penyidikan berdasarkan bobot perkara

Tingkat kesulitan penyidikan perkara ditentukan berdasarkan kategori, kriteria :

  1. Perkara mudah, kriterianya :
  2. Saksi cukup;
  3. Alat bukti cukup;
  4. Tersangka sudah diketahui atau ditangkap; dan
  5. Proses penanganan relatif cepat.
  1. Perkara sedang, kriterianya :
    1. Saksi cukup
    2. Terdapat barang bukti petunjuk yang mengarah keterlibatan tersangka.
    3. Identitas dan keberadaan tersangka sudah diketahui dan mudah ditangkap.
    4. Tersangka tidak merupakan bagian dari pelaku kejahatan terorganisir.
    5. Tersangka tidak terganggu kondisi kesehatannya.
    6. Tidak diperlukan keterangan ahli, namun apabila diperlukan ahli mudah didapatkan.
  2. Perkara sulit, kriterianya : Saksi tidak mengetahui secara langsung tentang tindak pidana yang terjadi ; Tersangka belum diketahui identitasnya atau terganggu kesehatannya atau memiliki jabatan tertentu ; Tersangka dilindungi kelompok tertentu atau bagian dari pelaku kejahatan terorganisir ; Barang bukti yang berhubungan langsung dengan perkara sulit didapat ; Diperlukan keterangan ahli yang dapat mendukung pengungkapan perkara ; Diperlukan peralatan khusus dalam penanganan perkaranya ; Tindak pidana yang dilakukan terjadi di beberapa tempat ; dan Memerlukan waktu penyidikan yang cukup.
  3. Perkara sangat sulit, kriterianya :
    1. Belum ditemukan saksi yang berhubungan langsung dengan tindak pidana
    2. Saksi belum diketahui keberadaannya
    3. Saksi atau tersangka berada di luar negeri
    4. TKP di beberapa negara/lintas negara
    5. Tersangka berada di luar negeri dan belum ada perjanjian ekstradisi.
    6. Barang bukti berada di luar negeri dan tidak bisa disita.
    7. Tersangka belum diketahui identitasnya atau terganggu kesehatannya atau memiliki jabatan tertentu; dan
    8. Memerlukan waktu penyidikan yang relatif panjang.

Terhadap sub tema kategori penyidikan perkara sebagaimana uraian singkat ini, misteri kematian seorang ASN di Kabupaten Ende , Anselmus Wora memasuki fase menanti pembuktian kinerja Polda NTT.

Apakah kategori perkara mudah, perkara sedang, perkara sulit, atau perkara sangat sulit, itulah mengapa Polri dilahirkan di Bangsa ini, mengapa Polda NTT ada di NTT, mengapa Polisi harus disepakati sebagai institusi yang begitu penting untuk negeri ini dan mengapa Negara ini menghabiskan begitu banyak anggaran negara untuk memperkuat Polri dari waktu ke waktu.

Selamat bekerja Polda Nusa Tenggara Timur.

Salam Singkap Tabir di muka Pancasila dan Bangsa Indonesia.

Catatan Pojok Bung Red (Redaktur)