TPDI Signalir Tiga Hal Ini Lemahkan Pengungkapan Kematian Ansel Wora

LN Focus Indonesia News – Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) Petrus Selestinus, SH melalui materi persnya kepada redaksi media ini (24/2/2020) mensignalir tiga pihak ini secara sistematis memperlemah hasil penyidikan kematian almarhum Anselmus Wora hingga tidak terungkapnya dugaan kuat kematian karena pembunuhan.

Berikut rangkuman media ini atas materi pers TPDI, Petrus Selestinus, SH.

Menurut Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) Petrus Selestinus, SH kektiga pihak yang disignalir yakni, dari sisi Ahli Forensik dr Ni Luh Putu Eny Astuty, Sp.F terdapat sikap ambigu, dimana ada temuan fakta-fakta kekerasan benda tumpul pada kepala korban dapat menyebabkan kematian Anselmus Wora tetapi ada juga pernyataan bahwa penyebab kematian korban tidak dapat ditentukan karena jenazah sudah mengalami pembusukan lanjut. 

Itu lah mengapa kita signalir sebagai praktek tidak jujur dari dr. Ni Luh Putu Eny Astuty Sp.F.

Dokter sudah tahu bahwa jenazah yang sudah dikubur kurang dari 1 bulan atau sudah  20 (dua puluh) hari kondisinya sudah mengalami pembusukan lanjut, karenanya otopsi jenazah sudah tidak mungkin dapat dilakukan, namun Dokter memaksakan diri melakukan Ekshumasi dan Otopsi jenazah almarhum Anselmus Wora,”. 

TPDI menilai dua dokter dari satu institusi mengeluarkan pendapat berbeda.

Itu berarti dr. Ni Luh Putu Eny Astuty, Sp.F kesimpulannya dalam VER sedangkan Second Opinion dr. Arief Wahyono, Sp.F dikatakan bahwa kematian korban almarhum Anselmus Wora bukan disebabkan oleh kekerasan tumpul sebagaimana dimaksud dalam VER, akan tetapi disebabkan oleh penyakit jantung yang diderita oleh alm. Anselmus Wora. Ini sebagai pedapat yang sekaligus membantah VER yang menyatakan bahwa pada potongan paru-paru dan jantung tidak didapatkan kelainan nyata.

Publik patut mensignalir dr Ni Luh Putu Eny Astuty, Sp.F, pada VER sangat paradoksal dan ambigu, tidak netral, tidak profesional dan tidak taat pada Kode Etik Kedokteran karena menegasikan fakta-fakta adanya kekerasan tumpul yang dapat menyebabkan kematian.

Ekshumasi dan Otopsi jenazah almarhum Anselmus Wora tidak bertujuan untuk mengungkap kebenaran materil perihal sebab-sebab kematian korban, melainkan hanya untuk kepentingan lain di luar kepentingan penegakan hukum.

Berikutnya, dari sisi Penyidik, hasil VER tertanggal 18 Desember 2019 mengungkap fakta-fakta adanya kekerasan tumpul sebagai penyebab kematian tetapi justru Penyidikannya dihentikan, padahal tidak ada urgensi untuk menutup penyidikan kasus ini selain karena belum ditetapkan siapa tersangkanya. Penyidik belum mendalami dan mengelaborasi keterangan saksi di TKP serta temuan otopsi tentang kekerasan tumpul pada kepala korban.

Direktorat Reserse dan Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda NTT, pada Jumat, 21 Februati 2020 telah mengumumkan Penghentian Penanganan Kasus Dugaan Pembunuhan almarhum Anselmus Wora, seorang ASN pada Dinas Perhubungan Kabupaten Ende, Provinsi NTT, yang ditemukan mati secara tidak wajar pada tanggal 31 Oktober 2019, pukul 23.99 WITA di Dusun Ekoreko, Desa Rorurangga, Kec. Pulau Ende Kabupaten Ende, sekaligus pengumuman hasil otopsi sebagaimana tertuang di dalam Visum Et Repertum No. : R/023/VeR/XII/2019/Pusdokkes, tertanggal 18 Desember 2019.

Pengumuman penghentian penanganan kasus ini menurut Petrus ibarat petir di siang bolong bagi masyarakat Kota Ende dan para Diaspora NTT di Jakarta, karena dilakukan usai penyidik Ditreskrimum Polda NTT melakukan gelar perkara dan hasilnya merekomendasikan bahwa kasus dugaan Pembunuhan korban almarhum Anselmus Wora, dihentikan penyidikannya, karena tidak cukup bukti” yang mengarah pada dugaan pembunuhan dengan merujuk kepada Visum Et Repertum (VER) Dokter Spesial Ahli Forensik Pudokkes Polri dr. Ni Luh Putu Eny Astuty Sp.F.

Padahal Visum Et Repertum (VER) Nomor: R/023/VeR/XII/2019/Pusdokkes, tanggal 18 Desember 2019, mengungkap fakta-fakta adanya luka robek pada puncak kepala sebagai akibat kekerasan tumpul, ada resapan darah pada hampir seluruh bagian bawah kulit kepala, kemerahan pada tulang dahi dan pada otak mengalami pendarahan akibat kekerasan tumpul, namun fakta-fakta yang mencengangkan itu menjadi tidak bernilai karena kesimpulan sesat dr. Luh Putu Eny Astuty, Sp.F mengunci dengan kesimpulan bahwa penyebab kematian korban tidak dapat ditentukan karena jenazah sudah mengalami pembusukan lanjutan.

Meskipun VER Dokter Spesialis Forensik Pusdokkes Polri telah mengungkap fakta adanya kekerasan tumpul pada bagian kepala almarhum Anselmus Wora sebagaimana dapat dibaca pada Kesimpulan VER butir 2 b dan c, tentang pemeriksaan luar dan pada butir 3 c, d, f bahwa terjadi kekerasan tumpul pada bagian kepala, dapat menyebabkan kematian, namun anehnya Dokter Spesialis Forensik pada butir 4 kesimpulannya membuat kesimpulan ambigu dengan bahwa “penyebab kematian korban tidak dapat ditentukan karena jenazah sudah mengalami pembusukan lanjutan”.

Sementaraitu, Dokter Spesial Forensik itu menyimpulkan bahwa trauma tumpul pada kepala yang menyebabkan pendarahan pada otak dapat menyebabkan kematian. Juga pada bagian II VER tentang pemeriksaan luar memyebutkan bahwa ada tanda-tanda kekerasan pada (dahi, pipi, mata, hidung, mulut, dagu, telinga, dada dan perut) namun tanda-tanda kekerasan itu sulit dievaluasi.

Disini Dokter Ahli mengakui adanya kekerasan tumpul pada sejumlah tempat akan tetapi sulit dilakukan evaluasi.

Sedangkan pada bagian paru-paru dan jantung di dalam VER disebutkan bahwa pemeriksaan Patologi Anatomi di Instalasi Anatomi Patologi RSUD Prof. W.Z Johanes Kupang dikatakan pada potongan paru-paru dan jantung tidak didapatkan kelainan nyata pada sampel jaringan paru. Lalu mengapa Ahli Forensik Polri dr. Arif Wahyono Sp.F dihadirkan sebagai second opinion (pembanding) mengatakan bahwa korban meninggal akibat penyakit jantung, artinya memperlemah VER Dokter Forensik dr. Ni Luh Putu Eny Astuty, Sp.F.

Pendapat dr. Arief Wahyono, Sp.F sebagai second opinion hanya memperkeruh hasil VER dimana korban (almarhum Anselmus Wora), dikatakan penyebab almarhum Ansel Wora meninggal ada pada penyakitnya sendiri bukan karena pengaruh benda tumpul di kepala. dr Arif mengatakan, kekerasan tumpul yang terjadi di kepala korban dan pendarahan otak tidak ada kaitannya, karena jika kematian akibat pembunuhan maka seharusnya tengkorak kepala korban rusak.

Dikabarkan sebelumnya, Polda Nusa Tenggara Timur hentikan penyelidikan kasus dugaan pembunuhan Anselmus Wora yang ditemukan tewas mengenaskan tanggal 31 Oktober 2019, TKP Dusun Ekoreko, Desa Rorurangga, Kecamatan Pulau Ende, Kabupaten Ende. Penghentian penyelidikan karena tidak cukup bukti.

“Dalam proses penyelidikan tidak temukan cukup bukti, sehingga kami memandang penting menghentikan penyidikan,” ungkap Direktur Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda NTT Kombes Pol Yudi AB Sinlaeloe pada konferensi Pers di Polda NTT, (21/2/2020).

Ditambahkan, dari hasil pemeriksaan Ahli Forensik dr. Ni Luh Putu Eny Astuty, yang melakukan autopsi mayat korban menyatakan, korban meninggal akibat pembuluh darah di otak pecah. Dari informasi yang diterima disebutkan bahwa korban memiliki riwayat hipertensi. (Tim/Red)