Pers, Kematian Ansel Wora dan Absennya Kebenaran Informasi

Oleh : Anthony Tonggo

Selamat Hari Pers Nasional, 9 Februari 2020. Buat keluarga dan publik pecinta keadilan dan kebenaran, Selamat Memperingati 100 Hari Kematian Ansel Wora…! (***)

DARI mana Anda tahu bahwa Ansel Wora meninggal? Dari mana Anda tahu bahwa polisi sudah bekerja untuk mengungkapkan kasus kematian Ansel Wora? Dari mana Anda tahu bahwa keluarga Ansel Wora dan publik menagih dan mendesak agar hukum harus berjalan setegak-tegaknya Jawabnya, semua kita tahunya dari media massa.

Yakinkah Anda berita di media massa itu benar sesuai fakta? Dalam rangka Hari Pers Nasional dan 100 Hari Kematian Ansel Wora, pertanyaan inilah yang akan saya jawab dalam tulisan ini.
***

Kebenaran Separuh

STANDAR bobot sebuah informasi terletak pada kebenaran faktanya yang dapat dibuktikan. Jika sebuah informasi minus fakta yang terbukti, maka itulah informasi palsu, hoax. Mari kita simak informasi pers dalam kasus kematian Ansel Wora!

Pertama, Kebenaran Akan Kematian Ansel Wora. Pers memberitakannya dari jarak langsung (pandangan mata) bahwa ada seorang pria beridentitas Anselmus Wora telah meninggal.

Selain wajah almarhum Ansel Wora bisa dipotret dari jarak dekat, juga hingga prosesi pemakamannya, dan tangisan langsung istri-anak-keluarga Ansel Wora.

Dari berita-berita itu, maka kematian seorang Ansel Wora dapat dibuktikan untuk meyakinkan kebenaran faktanya. Benar, Ansel Wora telah meninggal.

Kedua, Meninggal Tidak Wajar. Pers pun menginformasikan langsung dari jarak dekat proses diagnosa dan pengumuman medis dari RSUD Ende; perihal terdapat luka cukup serius di kepala (ubun-ubun) almarhum Ansel, bahkan foto batok kepala almarhum yang tersobek-belah pun beredar luas di media.

Ini berarti informasi tentang dugaan almarhum Ansel meninggal tidak wajar pun benar. Pers menyaksikannya langsung dari jarak dekat.

Ketiga, Polisi Memproseskannya Secara Hukum. Benarkah polisi sudah memproseskan hukumnya kematian tidak wajarnya Ansel Wora? Adakah pers yang sudah melaporkan kesaksian mereka adanya penyelidikan dan penyidikan?

Adakah pers yang sudah memberitakan fakta bahwa polisi sudah mengumpulkan barang bukti? Adakah pers yang sudah memberitakan bukti interogasi dan pemeriksaan polisi terhadap para saksi? Siapa saja saksinya? Kapan dan di mana para saksi diperiksa? Mana foto dan videonya yang sudah disebarkan lewat media? Mana bukti daftar pertanyaan dan jawaban saksi-saksi itu? Mana bukti berita cara penyelidikan dan penyidikannya?

Terus terang, semua pertanyaan tadi tidak bisa ditemukan jawabannya di media. Hanya satu proses yang ada bukti faktanya, yaitu proses otopsi. Selain otopsi, informasi faktanya hilang.

Selain itu, yang ada beritanya cuma kata polisi bahwa mereka sudah melakukan penyelidikan dan penyidikan. Sudah periksa sekian puluhan saksi. Faktanya prosesnya tidak diberitakan.

Keempat, Tuntutan Keluarga & Publik. Pers pun detail menginformasikan aksi yang menuntut pihak kepolisian untuk memproseskan kasus kematian Ansel Wora secara serius.

Mulai dari proses datang dari rumah atau titik kumpul massa hingga tiba di Mapolres Ende, Mapolda NTT, dan Mabes Polri Jakarta. Apa yang dilalukan, apa yang dibicarakan, apa yang ditulis, siapa yang ditemui, apa yang dibawa pun semua terinformasikan pers ke publik.

Jadi, publikasi pers atas kasus kematian Ansel Wora itu dapat mencapai kebenaran adalah: 1. Fakta kematian Ansel Wora, 2. Fakta diagnosa jasad dan pengumuman kondisi kepala almarhum Ansel Wora di RSUD Ende, dan 3. Tubtutan keluarga dan pyblik qtas proses hukum kasus kematian Ansel Wora. Sementara kebenaran informasi tentang bukti fakta proses penyelidikan dan penyidikan di pihak kepolisian itulah yang absen, kecuali otopsi jasad.

Oleh karena berita tentang penyelidikan dan penyidikannya masih absen, maka kasus Ansel Wora ini belum bisa mendapat kebenaran akan fakta bahwa polisi sudah menjalani proses penyelidikan dan penyidikan. Kebenaran proses hukumnya masih absen.

Lalu, apa konsekuensinya?
***

Konsekuensi dari Absennya Kebenaran Informasi

ANDA masih ingat kasus operasi plastik (oplas) Ratna Sarumpaet yang menggegerkan itu? Ratna menyampaikan ke pers bahwa dirinya dianiaya oleh sekelompok orang tak dikenal. Wajahnya babak-belur. Publik pun geger.

Polisi bergerak cepat. Ternyata tidak ditemukan adanya penganiayaan terhadap Ratna, sementara publik sudah tahu bahwa Ratna dianiaya.

Beberapa hari berikutnya Ratna mengaku bahwa dirinya tidak dianiaya, tapi oplas. Berarti publik dibohongi Ratna.

Ratna harus diseret ke hukum. Dia dituduh melalukan penyebaran hoax, berita bohong. Akhirnya Ratna divonis bersalah. Ratna masuk penjara.

Bagaimana dengan proses hukum kasus Ansel Wora? Ternyata ada kesamaan dengan kasus Ratna, yaitu hanya polisi yang bicara bahwa pihaknya sudah melakukan penyelidikan dan penyidikan. Fakta tentang proses pelaksanaan penyelidikan dan penyidikan tidak terbuka ke publik. Tidak ada beritanya.

Pertanyaannya: Bagaimana kalau sampai publik akhirnya bisa menemukan fakta bahwa sebenarnya tidak ada penyelidikan dan penyidikan dari kepolisian, kecuali cuma otopsi itu?

Letak masalahnya adalah ketika pengumuman polisi nanti tidak sesuai dengan keyakinan keluarga dan publik. Misalnya, polisi memgumumkan bahwa Ansel Wora meninggal karena kecelakaan, serangan jantung, kecelakaan, atau pelaku pembunuhan yang di luar keyakinan keluarga dan publik?

Bila nanti publik dan keluarga melakukan investigasi dan menemukan kebenaran bahwa sebenarnya tidak ada tindakan penyelidikan dan penyelidikan yang sesuai prosedural kerja kepolisian, maka publik dan keluarga bisa saja memproses-hukumkan lagi untuk menuduh bahwa polisi telah melalukan hoax. Ini cerita bisa jadi panjang nanti. Bahkan polisi bisa dituduh telah melakukan kegiatan menutup atau memyembunyikan informasi.

Bila itu terjadi, maka persoalan ini jadi tambah panjang. Proses hukum untuk Ansel Wora tetap jalan terus dan ditambah dengan proses hukum atas kasus hoax.

Lalu, apa yang harus dilakukan sekarang?
***

Biarkan Berjalan Apa-Adanya

PILIHAN kita harusnya hanya melokalisirkan kasus ini agar tidak lagi merembet ke soal hoax. Cukuplah soal hukum atas kematian Ansel saja.

Pertama, Polisi harus biarkan proses hukum kasus ini berjalan sesuai koridornya. Tidak usah rekayasa, tidak usah peduli dengan kepentingan lain selain soal keadilan an-sich. Yang salah ya salah dan harus bertanggungjawab. Yang benar ya jangan disalah-salahkan.

Kedua, Pers harus kembali menyiarkan semua fakta tentang proses penyelidikan dan penyidikan kasus Ansel Wora ini. Misalnya, berita acara pemeriksaan saksi, nama dan foto para saksi, foto barang bukti yang berhasil dikumpulkan polisi, dll.

Ketiga, Ke depan, pers tidak lagi hanya datang mewawancarai polisi, tapi melaporkan secara pandangan mata tentang proses kerja yang polisi lakukan. Pers melaporkan apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan secara ‘5W+1H’ (what, who, why, when, where, dan how). Omongan polisi hanyalah bagian terkecil dari fakta ‘5W+1H’ itu.

Kebenaran informasi merupakan cara jitu pers untuk membantu proses penyelesaian kasus Ansel Wora itu. Kebenaran informasi pulalah yang membuat publik percaya dan mencintai pers. Tanpa keyakinan akan kebenaran infornasi, pers akan kehilangan pasarnya.

Selamat Hari Pers Nasional, 9/2/2020. Buat keluarga dan publik pecinta keadilan dan kebenaran, Selamat Memperingati 100 Hari Kematian Ansel Wora…! (***)

Penulis : Anthony Tonggo, Alumnus FISIPOL UGM, Asal NTT, tinggal di Yogyakarta