Nomen Est Omen

Orang Latin dengan adagium klasiknya yang sangat mendalam yang lahir dari sebuah permenungan yang inspiratif “NOMEN EST OMEN”, nama adalah tanda atau sebaliknya tanda atau simbol itu sesungguhnya memberikan makna dari sebuah nama.

Saya ikut nimbrung soal pemberian nama BATU ROTI dan juga WATO LOTA yang hanya terdapat di WAI UHE, sebuah lokasi yang terletak di pantai antara Lewouran dan Lewoawan.

Nama yang sejak beberapa waktu yang lalu tenar dengan sebutan batu roti dan baru kemarin dipolemikkan lagi dengan sebutan baru yang katanya punya kriteria serta nilai mitis magisnya yang juga katanya punya tuturan historis yang mengandung kekuatan gaib.

Saya hanya mau membuka kesadaran tite ata lewo dalam hal ini Lewouran dan Lewoawan untuk sekali lagi memahami serta memaknai historitas WAI UHE dari dahulu, sekarang dan di masa yang akan datang. Nama itu sesungguhnya adalah tanda atau signum yang sebenarnya mengandung kekuatan alam atau kosmos yang luar biasa.

Untuk kita jaman sekarang sangat diharapkan untuk memahami hal esensial sekaligus substansial ini. Jangan hanya karna kepentingan dan niat tertentu lalu dengan gegabah memberikan nama pada sebuah tempat yang pada dasarnya mengandung nilai sejarah.

Wato Lota. Foto: Syl Witin

Sebuah pemaknaan yang benar terhadap sebuah sejarah dan tradisi TIDAK lahir dengan serta merta dan gegabah begitu saja, tetapi dia harus melalui sebuah proses studi dan kajian yang sangat membutuhkan waktu yang panjang. Menulis sebuah sejarah harus melewati telaahan serta wawancara yang lama, akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sebuah sejarah lokal yang telah terwarisi secara turun temurun, jika hendak dinarasikan harus dituturkan secara benar dan akurat. Dia juga, baca sejarah, tidak boleh dinterpretasi secara bebas oleh orang perorang sesuai logikanya in se, tetapi harus melalui kajian historis dan melalui pendekatan-pendekatan kultur antropomorfisis dengan tetua dan para tokoh adat di kampung itu.

Saya sebagai seorang anak tanah hanya mau menegaskan dan mengingatkan semua orang untuk memahami dengan baik makna budaya di suatu daerah dengan cermat dan teliti. Nama sebuah tempat harus dimaknai dengan baik. Nama WATO LOTA juga sesungguhnya harus dikaji lagi melalui telaahan sejarah yang sesungguhnya, harus akurat. Bagi orang yg memberi nama Wato Lota, harus juga diteliti dengan baik lokus dan fokus dari Wai Uhe itu sendiri. Nama itu tanda. Ingat, pemberian nama untuk sebuah rempat sejarah itu mestinya melalui kajian sejarah dan tuturan adat yang sesungguhnya. Jangan asal nama. Ingat, siapa yang main-main dengan hal yang bersejarah, dia akan mendapat resikonya.

Mudah-mudahan pemurnian motivasi serta pikiran ini bisa dipertimbangkan dengan baik. Kita jangan terpengaruh dengan orang dan juga aksi-aksi tertentu yang sarat dengan kepentingangn dan hanya mau mengejar popularitas diri.

Oleh: Peter Witin Silvester (orang Lewotobi)