Ngada : Ci Ami Mediasi Pelatihan Pembuatan Pakan Unggul Bahan Lokal

LN Focus Indonesia News – Nyonya Eufrasia S. Lay atau lazim disapa Ci Ami, pemilik usaha toko Aneka Pakan dan Obat-Obatan di Kota Bajawa, Flores menginisiasi pelatihan pembuatan pakan unggul bahan lokal untuk kebutuhan peternakan dengan mendatangkan sang pencetus pembuat pakan lokal unggul dan jamu nutrinak, Frans Braman asal Timor Tengah Utara, TTU.

Liputan awak media LN Focus Indinesia News (28/2/2020), kegiatan pelatihan dilaksanakan di Hotel Johny, Kota Bajawa dengan melibatkan para peternak perwakilan berbagai wilayah kecamatan di Kabupaten Ngada.

Diuraikan Frans Braman, dunia peternakan NTT sangat membutuhkan gerakan inovatif warga NTT sendiri, demi membantu warga peternak dalam wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur.

“Ini merupakan sharring theknologi ramah lingkungan yang sudah dipraktekan oleh saya sendiri maupun kepada para peternak di Kefa, Atambua dan sejumlah wilayah lain dalam Provinsi NTT. Terobosan ini mendapat permintaan yang cukup tinggi dari kawan-kawan peternak di Flores. Sehingga saya menjawabnya dengan cara hadir langsung di Flores. Tadi saya menjawab permintaan pelatihan di Boawae lalu kesini Ngada. Ini menjadi sebuah road show pelayanan. Nanti saya menuju Mbay, Manggarai Timur, Manggarai dan Manggarai Barat”, ungkap Frans Braman.  

foto giat pelatihan pembuatan pakan

Diterangkan, visi dan misi karya inovatif yang diciptakannya adalah mewujudkan sistem beternak ramah lingkungan dengan teknologi sederhana.

Kepada peserta pelatihan, Frans Braman menguraikan, hasil inovasi theknologi yang diciptakannya berhasil menemukan 3 (tiga) tekonologi ramah lingkungan, yakni kandang SBO atau kandang tidak berlantai yang terbuat dari sampah bahan organik, sekam padi, jerami, serbuk kayu dan lain-lain dengan ketinggian kandang 20cm.

Sistem ini sangat membantu warga peternak, sebab tidak menguras energi mereka membersihkan kandang. Ukuran minimal kandang SBO adalah 2×2,5m.

Selain kandang SBO, Frans juga menemukan pembuatan kandang ternak anti bau dengan jamu multi fungsi, Nutrinak.

Dan yang ketiga adalah temuan pembuatan Pakan Lokal dari bahan baku asli tumbuh-tumbuhan, buah-buahan yang ada dalam wilayah Nusa Tenggara Timur. Produk pakan ini bernama Topnak .

Topnak merupakan produk racikan unggul melalui pola fermentasi atau pemeraman.

Topnak dibagi dalam tiga (3) paket yakni Topnak 1, yakni campuran dedak, batang pisang, gula.

Topnak 2, dari bahan daun-daunan yang sebelumya diketahui tidak biasa dimakan babi atau ternak, misalnya daun kembang sepatu, daun pisang, dan sejumlah dedaunan lain yang kemudian berhasil diolah dan terbukti bermutu, sehat untuk ternak.

Semuanya diracik dari bahan lokal, terjamin bergizi, bermutu dan higienis atau sehat, dengan prinsip pakan murah dan terjangkau.

Selanjutnya adalah pengolahan limbah.

Frans Braman juga melatih para peternak memperhatikan masalah pengolahan limba kotoran ternak.

Peternak Babi Indomor ini, Frans Braman mengaku memulai usaha inovatif nya sejak tahun 2013.

Kini produk lokal NTT asuhan Frans Braman sudah berhasil merambah sebagian besar pasar dalam wilayah NTT dan juga sudah siap rambah pasar lintas provinsi diluar NTT.

Frans Braman memastikan produk inovatif  yang diciptakannya berprinsip murni bahan lokal, herbal non pengawet, hanya terbuat dari dedaunan dan buah-buahan.

Dia menuturkan, awalnya produk ini dibuat hanya untuk kepentingan diri sendiri yang juga hobby beternak babi, ayam dan sejumlah jenis ternak rakyat.

Hasil karya Frans Braman berdiri diatas motto beternak tidak merepotkan, tidak boleh bau.

Frans Braman

Frans Braman juga berhasil menemukan Jamu Anti Bau untuk peternakan.

Pasalnya, awal tahun 2018 jamu racikannya ini sudah dipakai guna menjawab kebutuhan sendiri, namun selanjutnya dibagi kepada masyarakat atau para peternak karena berkhasiat besar, terjamin mutu.

Saat ini produk jamu ini cukup laris di daratan Timor dan bahkan sudah mulai melayani kebutuhan pasar sejumlah peternak di Pulau Flores.

Berdasarkan data sebaran, kata Frans Braman, untuk NTT sebaran sejumlah produk karya inovatifnya sektor peternakan hanya masih minus untuk wilayah Sabu, Rote, Sumba dan Alor.

Data pasar wilayah Manggarai Flores misalnya, per dua minggu dipasok 1.300 lebih stock. Demikian juga Maumere Sikka, dan Ngada diperkirakan menyusul dengan target yang sama.

“NTT sebagai tuan rumah harus bisa merancang terobosan inovatif pro peternakan. Sasaran produk inovatif ini adalah untuk semua jenis ternak.  Kita juga harus siap go market luar daerah”, tambah alumni Sekolah Peternakan, yang juga sebagai PNS pada Dinas Peternakan Kabupaten TTU, Frans Braman.

Menurut dia, ASN di NTT harus 100% PNS, tetapi juga harus 100% berinovasi untuk masyarakat diluar dari jam dinas.

Mendorong sektor Wira Usaha, imbuh dia, harus menjadi spirit unggul warga NTT

“Sebagai pelaku peternak di Ngada, saya terpanggil mendorong terobosan alternatif  bermutu dengan sistem harga terjangkau. Saya mengajak marilah kita belajar bersama menyangkut ternak. Jangan gengsi untuk berusaha dan bertanya, jika ada hal-hal terobosan baik dan tepat guna kita bagikan untuk kepentingan banyak orang”, ujar Nyonya Eufrasia S. Lay.

Kegiatan ini diakhiri dengan pelatihan cara membuat pakan lokal unggul oleh Frans Braman. (Noven/Tim/Red)