Komisi III DPR RI Patut Atensi Polda NTT Buka Kasus Kematian Ansel Wora Dan Markus Kila

Oleh  : Petrus Selestinus, SH

Publik NTT tahu bahwa pada saat ini Komisi III DPR RI sedang melakukan kunjungan kerja di NTT dan diharapkan oleh publik NTT dan para diaspora NTT atau Garda NTT di Jakarta agar Komisi III DPR RI dapat memberi atensi khusus kepada Kapolda NTT dalam penangan kasus-kasus kematian tidak wajar, ditangani secara profesional dan cepat sesuai dengan moto Polisi Promoter (profesional, moderen dan terpercaya).

Kunjungan kerja Komisi III DPR RI kali ini sangat diharapkan dapat memberikan pengawasan terhadap penanganan sejumlah kasus publik termasuk kasus yang saat ini ramai menjadi perbincangan publik di NTT, yaitu berlarut-larutnya penyidikan kasus kematian tidak wajar alm. Anselmus Wora di Polres Ende dan kasus kematian misterius Kakek Markus Nula 83 tahun pada tanggal 11 Desember 2019 di Nagekeo oleh Pores Nagekeo, yang tidak diproses.

Khusus penyidikan kasus kematian alm. Anselmus Wora yang meninggal di Pulau Ende pada tanggal 30 September 2019, kemudian pada tanggal 27 November 2019 telah dilakukan penggalian kuburan jenazah untuk otopsi, namun hingga saat ini hasil otopsi belum dimumkan tentang sebab-sebab kematian secara pasti, padahal proses hukumnya sudah berjalan selama 4 (empat) bulan, belum menemukan tersangka pelakunya.

Keluarga alm. Anselmus Wora, Masyarakat Kota Ende, bahkan Garda NTT di Jakarta semakin cemas dengan kondisi belum adanya kepastian sebab-sebab kematian dan siapa sesungguhnya pelaku kekerasan yang menyebabkan alm. Anselmus Wora meninggal dunia. Publik meyakini bahwa alm. Anselmus Wora meninggal karena pembunuhan, sementara Penyidik belum bisa memastikan meskipun hasil otopsi sudah ditangan Penyidik, namun Penyidik masih bungkam.

Hasil otopsi sudah menjadi hak publik untuk tahu, publik khawatir jangan sampai hasil autopsi dimanipulasi, lantas mementahkan hasil penyidikan yang sudah berjalan selama 4 (empat) bulan. Publik mulai meragukan kinerja Penyidik, dan dikhawatirkan terjadi tarik menarik kepentingan politik, dimana Polisi terjebak dalam kepentingan politik, lalu otopsi yang sudah dilakukan hasilnya digunakan untuk mementahkan hasil penyidikan. Masyarakat Kota Ende dan Garda NTT di Jakarta mempertanyakan, apakah nyawa manusia NTT yang mati tidak wajar tidak mendapatkan harga yang layak dalam proaes penegakan hukum di NTT.

Apakah nyawa orang NTT masih mendapatkan harga atau tidak ketika terjadi kematian tidak wajar dan mengapa Polisi tidak serius menangani kasus kematian Kakek Markus Nula 83 tahun pada tanggal 11 Desember 2019 di Sungai Aesesa, Kabupaten Nagekeo.

Padahal kalau dibandingkan dengan penanganan Polisi atas kematian tidak wajar seseorang di wilayah Kepolisian lain, Polisi cepat bergerak dan dalam waktu singkat menemukan sebab-sebab kematian dan menangkap pelakunya.

Mengapa Polisi tidak memberi harga yang layak bagi kematian tidak wajar untuk seseorang di NTT, sedangkan di belahan lain dalam wilayah hukum Indonesia Polisi memberi harga yang layak untuk kematian yang tidak wajar. Ini namanya ada diskriminasi.

Penulis : Petrus Selestinus, SH – Koordinator TPDI & Advokat PERADI