Kematian Ansel Wora, Siapa Pembunuh Manusia, Siapa Pembunuh Hukum

Catatan Pojok Bung Red

Kematian Anselmus Wora, seorang Pegawai Negeri Sipil yang bekerja pada lingkup Pemerintah Daerah Kabupaten Ende di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur dalam peristiwa berdarah (kematian) tanggal 31 Oktober 2019, Tempat Kejadian Perkara (TKP) Pulau Ende menuai catatan panjang kali lebar, bagai lingkaran mistery super ruwet hingga negara pun seolah kesulitan besar memberikan kepastian.

Semoga tidak sejauh itu, sebab Polri atau pihak terkait pasalnya tengah bekerja keras untuk pengungkapan sebab musabab kematian, dugaan pelaku, motif pembunuhan dan seterusnya, yang oleh hampir semua kalangan diduga kuat mati akibat dibunuh.

Akhir Bulan Oktober Tahun 2019 sampai Awal Bulan Februari Tahun 2020 bukanlah rentang waktu yang sangat sedikit bagi pihak Kepolisian Negara guna mengurai dan menaikan progres penanganan kasus kematian yang satu ini. Belum satu pun dugaan Tersangka ditetapkan. Entah. Mungkin kematian tragis yang satu ini akan menulis kisah tanpa Tersangka. Semua pihak menanti jawaban hukum.

Sebaliknya, jika proses pengungkapan perkara terus tertatih-tatih, sudah pasti masyarakat Kabupaten Ende akan segera menuju ke babak baru, yakni menyongsong peringatan besar setengah tahun penanganan hukum berjalan tanpa memberikan kepastian.

Ya, tidak lama lagi Bulan April 2020 tiba. Terhitung mulai akhir Oktober Tahun 2019 : November, Desember 2019, Januari 2020, Februari, menuju Maret, menuju April 2020 dan seterusnya.

“A law is valueable not because it is law, but because there is right in it”,kata Henry Ward Beecher, seorang pembaru sosial dan pembicara yang cukup terkenal karena dukungannya terhadap penghapusan perbudakan, Amerika.

Ward Beecher menulis Hukum bernilai bukan karena itu adalah hukum, melainkan karena ada kebaikan di dalamnya.

Kebaikan Hukum bagi warga negara Indonesia adalah azas kepastian hukum itu sendiri. Itulah kebaikan hukum dalam perkara-perkara hukum yang wajib dan harus digelar. Hukum bernilai bukan karena itu adalah hukum.

Kebaikan itu hanya dapat dilakukan dengan tegaknya supremasi hukum pada seluruh tingkatan. Penegakan supremasi hukum mengandaikan para penegak hukum berhasil membuktikan kinerja secara profesional, tidak terlalu bertele-tele, dapat dipercaya oleh masyarakat, bangsa dan negara.  

Pramoedya Ananta Toer menulis, kalau ahli hukum tak merasa tersinggung karena pelanggaran hukum sebaiknya dia jadi tukang sapu jalanan.

Kematian Anselmus Wora berhadapan dengan segudang pertanyaan, parade refleksi, kajian serta berbagai teka-teki yang terpaksa, sekali lagi, terpaksa digelar se-antero jagad, sebab berangkat dari pengungkapan perkara yang mulai dinilai cukup lamban bahkan menjurus pada mosi tidak percaya.

Parade Aksi Damai mulai dari aksi Keluarga Duka dan elemen peduli kematian mempertanyakan penanganan kasus ke pihak Polres Ende, aksi Mahasiswa PMKRI Kupang dan kelompok peduli ke Polda Nusa Tenggara Timur bahkan aksi masyarakat dan elemen Garda NTT ke Mabes Polri di Jakarta, sesungguhnya merupakan pekikan dan gelora dukungan dari khalayak kepada institusi Polri di negeri ini untuk segera membuktikan penanganan profesional, selanjutnya menaikan perkara ke tingkat Kejaksaan, dan seterusnya menuju pembuktian Meja Pengadilan.

Masih menaruh Harapan

Menanti kepastian pengungkapan dan atau sebagaimana trending pemberitaan berbagai kolom media Nusa Tenggara Timur maupun nasional dan televisi, diyakini tidak akan berhenti dan putus-asa atau pun akan membiarkan kematian itu berlalu begitu saja tanpa pengawasan masyarakat.

Sebaliknya, harapan dan penegasan hukum kian gencar, terus disuarakan dari waktu ke waktu kepada Polres Ende Flores, kepada Polda NTT hingga Mabes Polri.

Masyarakat mendesak dengan harapan besar pada negara untuk segera mengungkap tuntas peristiwa kematian hingga dugaan aktor intelektual dibalik peristiwa.

Itu pratanda segenap warga negara selalu memberikan dukungan positif dan juga menyerahkan porsi keyakinan yang begitu besar kepada alat-alat negara untuk segera mewujudkan pembuktian kinerja hukum atas perkara sekaligus membentang raport kinerja hukum yang baik, progresif dan membanggakan.

Jika Hukum Tertatih-Tatih, Lemah dan Gantung Perkara

Salahsatu mimpi buruk bangsa ini adalah penegakan hukum terpasung raport kinerja buruk, terpasung mental dan moral subyek penegak yang tidak becus dengan berbagai alasan, argumentasi maupun faktor-faktor pendukung perusakan kinerja dan lain sebagainya.

Jika hal itu terjadi, maka kisah dan peristiwa terburuk lain yang mungkin luput dibayangkan secara serius sebelumnya adalah “usai kematian ASN Ende, Anselmus Wora menyusul kisah-kisah memilukan, memalukan dalam duka kematian hukum pasca peristiwa berdarah itu.

Apakah itu, yakni kematian Anselmus Wora menyusul kematian hukum

Jika pada akhirnya begitu buruk wajah penegakan hukum, maka pertanyaan yang harus dimunculkan nantinya pada kondisi itu adalah “Siapa Pembunuh Manusia (almh.Anselmus Wora) dan Siapa Pembunuh Hukum hingga mati menyusul dan terkubur di muka masyarakat, bangsa dan negara ini”. Keduanya mati dan terkubur.

Ya, TIDAK demikian.   

Salam Penegakan Hukum. Masyarakat dan segenap elemen mendukung penanganan, pengungkapan tuntas atas dugaan kejahatan besar dalam catatan mistery kejadian Pulau Ende, 31 Oktober 2019, Ansel Wora pergi untuk selamanya.

Catatan Pojok Bung Red