Jika Kasus Kematian ASN Ende, Ansel Wora Tidak Tuntas

Oleh : Anthony Tonggo

UNTUK kedua kalinya, tanggal 29 Januari 2020, masyarakat diaspora NTT di Jakarta melakukan demonstrasi ke Markas Besar Polisi Republik Indonesia (Mabes Polri) dalam rangka menuntut keadilan atas kasus kematian Ansel Wora. Dengan semboyan “Ansel Adalah Kita” mereka menuntut: 1. Save Ansel, 2. Mabes Polri Ambil-Alih Kasus Ansel Wora, 3. Copot Kapolda NTT, dan 4. Copot Kapolres Ende.

Mulai dari long-march, dibuka dengan musik Nggo-Wani, hingga berorasi di podium mobil bak terbuka di Mabes Polri, dan ditutup dengan tarian massal Gawi.

Kata pekikan “Ansel Adalah Kita”, musik Nggo-Wani, dan tarian massal Gawi adalah tiga rangkaian magis yang mempersatukan hati mereka untuk berjuang demi keadilan di kampung halaman bersama mereka: Ende, bahkan NTT. Tiga matra itu mampu menghipnotis heroisme mereka.

Ansel Adalah Kita = In-Group = Du’a Kita

PEKIKAN juang “Ansel Adalah Kita” adalah sebuah frasa sosiologis, yaitu setara dengan in-group dalam ilmu sosiologi. Dia pun setara dengan kata filosofi “Du’a Kita” (Lio) dan “Ngga’e Kita” (Ende).

Bahkan, frasa “Ansel Adalah Kita”, “Du’a Kita”, dan “Ngga’e Kita” jauh lebih intim lagi dari “in-group”. Jika “in-grup” artinya kelompoknya kita bersama dalam konteks orang ketiga jamak, maka “Ansel Adalah Kita”, “Du’a Kita”, dan “Ngga’e Kita” adalah orang pertama tunggal, yaitu “saya”, “aku”, “ja’o”, “I”.

Jadi, dalam antropolinguistik Ende/Lio, “Ansel Adalah Kita” itu sama dengan “Ansel Adalah Saya”, “Ansel Adalah Aku”, “Ja’o Ansel”, “Aku Ansel”. Makna filosofinya adalah setiap kita adalah Ansel, setiap kita sudah mati, dan setiap kita harus bangkit untuk mencari keadilan.

Jika Kasus Ansel Tidak Tuntas

MEMANG, bila kasus Ansel Wora ini tidak dituntaskan menuju keadilan, maka jadi preseden baik bagi para penjahat, bahwa mereka bebas membunuh siapa pun di Ende, karena penjahat pun tidak diapa-apakan.

Lalu, tahukah Anda: Siapa saja yang jadi sasaran penjahat? Setiap kita tidak tahu, karena logika kebutuhan penjahat memiliki cara kerjanya tersendiri. Daripada rumit memikirkan siapa calon target penjahat yang akan dibunuh, maka kita harus menyimpulkan bahwa bila penjahat merajalela berarti setiap kita adalah calon mangsanya.

Pada salah satu seri tulisan dalam kematian mendadaknya almarhum Eja Marsel Petu tahun lalu, saya mengatakan bahwa bila kematian Marsel Petu tidak diproses secara benar (medis dan hukum), maka pembunuhan akan jadi pilihan penjahat di Ende. Benarlah sudah, Marsel Petu meninggal tanggal 26 Mei 2019, Ansel Wora meninggal tanggal 31 Oktober 2019. Hanya dalam rentang waktu 6 bulan.

Persoalan dasarnya adalah meninggalnya almarhum Marsel Petu sudah terlanjur ada tiupan opini kontra dari dua pendekar hukum kita, Petrus Selestinus, SH dan Lexy Kumpul, SH bahwa Marsel Petu diduga dibunuh.

Kenyataan opini “Marsel Petu Terkena Serangan Jantung” menang. Ketika ada opini kontra itu yang diabaikan, maka logika penjahat pun bermain, bahwa di Ende (bahkan NTT) bisa saja membunuh; toh tidak akan diproses dan terakhirnya akan diterima lewat logika “ini sudah takdir dari Yang Maha Kuasa”.

Tak Kenal Lelah & Meluas

GENDERANG Perjuangan Keadilan Untuk Ansel Wora ini sudah ditabuh. Langkah tegap-dada membusung-mata menyala merah sudah menebar pesona. Tentu, jantung penjahat sedang berdegup cepat-keras. Namun bukan berarti penjahat kapok, tapi penjahat cuma ‘wait and see’. Cuma menatap jauh dan ingin tahu sampai di mana kekuatan dan keseriusan para pejuang keadilan itu.

Ibarat obat yang masuk terus-menerus di tubuh, lama-kelamaan tubuh akan melakukan resistensi, lalu virusnya jadi kebal. Obat jadi tidak mempan lagi. Virus pun menari-ria, menang, dan akan menghajar tubuh lagi dengan lebih ganas.

Bila publik gagal menemukan Keadilan Untuk Ansel Wora, maka penjahat pun akan memproklamirkan diri sebagai Yang Maha Kuasa di Ende. Korban pun akan berjatuhan lebih banyak lagi. Siapakah calon korban berikutnya? Kita tidak tahu, karena yang tahu cuma penjahat sendiri. Bisa Anda, Saya, atau Kita, anak-cucu kita, keluarga kita.

Jadi, tidak ada pilihan lain bagi kita: “Kasus Ansel Wora Harus Dituntaskan Hingga Seadil-Adilnya”. Perjuangan tak kenal kelah. Belum puas juga dari Mabes Polri, sasaran pun harus diarahkan ke Istana Presiden.

Masyarakat NTT di Jakarta pun layak ikut bergabung dalam aksi-aksi itu, karena tidak hanya dari logika kemanusiaan dan kesatuan teritori-etnis kita, tapi bisa terjadi duplikasi cara (pembunuhan) di seantero Flobamora: bahwa salah satu cara meraih kemenangan adalah dengan membunuh. Jadi, masyarakat dari kabupaten lain di NTT pun layak untuk ikut serta dalam perjuangan ini.

Akan jauh lebih dahsyat lagi jika perjuangan ini muncul dari orang NTT di berbagai kota di Indonesia, terutama kota-kota pelajar seperti Jogja, Malang, Surabaya, Bandung, Denpasar, dan Makassar. Datang ke Mapolda/Mapolres, DPRD, LSM, dan pers setempat untuk menyampaikan aspirasi, sehingga gaung dan resonansinya jauh lebih besar lagi.

Save Ansel, Ansel Adalah Kita, Ansel Adalah “Du’a Kita”, Ansel Adalah “Ngga’e Kita”. Berjuang untuk keadilan Ansel adalah sama dengan berjuang untuk diri kita sendiri dan untuk Ende serta NTT yang bebas dari penjahat. Amin…! (*)

Penulis : Anthony Tonggo, Alumnus FISIPOL UGM, Asal NTT, tinggal di Yogyakarta.