Bacabup Ngada Ibu Dorothea Dhone Jawab Propaganda Miring

LN Focus Indonesia News – Bakal Calon Bupati Ngada, Dorothea Dhone yang telah menyerahkan Berkas Dukungan KTP kepada KPU Ngada untuk diseleksi dari jalur calon perseorangan mengungkapkan sejumlah tanggapannya terhadap tudingan miring yang dialamatkan pada dirinya.

Dalam wawancara media ini bertema bakal calon bupati dari kaum wanita, (21/02/2020) di Kota Bajawa, Bacabup Ngada, Dorothea Dhone sebagai perwakilan kaum wanita pertama yang mengukir sejarah baru, tampil sebagai Bacalon Bupati pada pentas Pemilukada Ngada, bahkan sebagai bacalon Bupati wanita pertama se-daratan Flores dan Alor dalam sejarah, menegaskan refleksi perjalanannya selama berkarya sebagai Anggota DPRD Ngada, maupun sebagai unsur Pimpinan Lembaga DPRD Ngada dan sebagai mantan Ketua Partai Nasdem Kabupaten Ngada.

“Mari kita bedakan arti bicara banyak dan ngotot untuk kebaikan umum yang sungguh berbeda dari ngotot untuk diri sendiri ataupun ngotot untuk kenyangkan perut sendiri. Bicara Pemilukada, jika anda mendengar apa kata rakyat, anda akan mengetahui bahwa ternyata dibalik pentasan Pemilu ini pun mulai terjadi perayaan siraman propaganda penyesatan pikiran, perayaan menebar hoax, perayaan politik pembodohan dan perayaan menghabisi saya sebagai kaum wanita dalam kancah Pemilukada, dan itu dimainkan dengan menghalalkan segala cara. Saya mendengar langsung warga bicara disaat saya mendatangi mereka lalu berdiskusi dengan mereka. Sebelum saya memulai jawaban, saya tegaskan dulu satu hal, bahwa saya memilih cerewet dalam bingkai menyuarakan aspirasi maupun kebutuhan masyarakat dan agenda kebaikan tata kelolah daerah, itu bukan baru hari ini, tetapi sudah sejak saya merasa kaum wanita dalam berpolitik jangan sekali-sekali menjadi kaum yang terkunci untuk menyuarakan kebaikan bagi banyak orang. Itu harus dilakukan dengan ketetapan hati seorang kader perwakilan rakyat disaat mengemban amanat rakyat. Nah, jika saya diutus menjadi kepala daerah, itulah modal saya, yaitu cerewet untuk rakyat, cerewet agar tata kelolah daerah ini lebih baik lagi dari waktu ke waktu dan cerewet untuk menegaskan sikap bahwa negara wajib menyelamatkan rakyat. Itulah jawaban ‘apa dan mengapa saya bersuara dan terus bersuara dalam bernegara”, tegas Ibu Dorothea Dhone.

Menurut dia, perjuangan tertinggi yang dicita-citakan dirinya dan oleh rakyat Ngada adalah mendesak seluruh pemimpin dan pelayan publik pada setiap tingkatan di Ngada untuk ngotot dan progresif mewujudkan kerja-kerja perubahan ke arah lebih baik pada berbagai bidang kehidupan, pada berbagai kerangka pembangunan, pada berbagai kerangka kerja dan kinerja, pada berbagai kerangka pengadministrasian keadilan sosial, pada seluruh kerangka kerja kabupaten yang berkepentingan besar untuk mengukir nama harum Ngada dalam berbagai sisi perjuangan secara bertahab, dengan focus utama merevolusi mental diri sendiri selaku pengemban amanat rakyat, pemangku jabatan.

“Orang mulai sebar isyu bahwa lagi-lagi saya yang penjarakan seseorang. Saya mau bilang juga bahwa ada gelagat politik kehabisan akal sehat yang dipertontonkan kepada rakyat Ngada. Anda bisa membayangkan kisah pendek seperti ini, jika sepuluh orang sahabat dan saudara yang mengasihi mu lalu mereka menyerukan protes kepada mu disaat engkau mau dicelakakan oleh kejahatan, disaat engkau terlihat dinina-bobo oleh kepentingan, apakah sepuluh sahabat dan saudara mu itu engkau namakan sebagai orang jahat?.

Apakah harus dinamakan sebagai orang yang mencelakakan mu?. Ataukah jika ada satu sahabat dan saudara mu mengawasi mu dan selalu memberi mu peringatan dari yang jahat, apakah satu sahabat dan saudara mu itu adalah seorang penjahat?. Jika harus begitu cara menamakan sebuah kebaikan dan perhatian, nah saya mau bertanya, apa nama yang tepat kepada kejahatan yang mendukung penuh seorang saudara ataupun sahabat terjerumus ke dalam kegelapan, lalu tertimpah musibah?. Mari kita uraikan dengan hati dan otak yang jernih, lalu kita temukan siapa yang telah mencelakakan seorang saudara dan sahabat”, tegas Dorothea Dhone.

Zaman ini, tambah dia, bukan zaman edan, tetapi ini zamannya kejahatan mengaku diri sebagai sahabat, dan sahabat dituding sebagai pelaku kejahatan, agar wajah asli kejahatan dan jebakan tidak diketahui sampai akhir zaman.

“Paket DOA hadir untuk meneruskan yang baik, untuk menjahit yang terkoyak, untuk menata yang belum dijamah, untuk mendirikan yang belum didirikan, untuk membela rakyat dan untuk membela kebesaran nama dan jiwa Kabupaten Ngada, dengan menjunjung hormat kepada segenap pemimpin terdahulu, dan menjunjung pesan Ine Ngadha atau pesan Kabupaten Ngada yang berdiri diatas fondasi budaya IBU”, tutup Dorothea Dhone. (Tim/Red)