Analisa Kasus : Apa Penyebab Kematian ASN Ende Ansel Wora

Oleh : Anthony Tonggo

SOAL kematian misterius seperti Ansel Wora bukanlah yang pertama terjadi di Ende. Sejak saya kecil pun sudah biasa. Namun baru pada kasus Ansel Wora-lah yang paling sulit dan lama penyelesaian?

Pertanyaan seputaran “Mengapa Ansel meninggal, masih begitu berat terjawab. Minimal selama tiga bulan sejak peristiwa berdarah itu terjadi.

Pertanyaannya adalah, Ketika kasus lain mudah terungkap, mengapa pada kasus Ansel Wora begitu sulit terungkap?

Bukan Kematian Biasa

ADA empat proses kematian, yaitu : 1. Kehabisan sel karena gagal fungsi organ akibat proses perusakan alami—baik karena penyakit maupun penuaan organ atau masa pakai, 2. Kecelakaan, 3. Bunuh diri, dan 4. Dibunuh.

Ketika jenazah Ansel Wora tiba di RSUD Ende, maka pihak medis setempat mengeluarkan pernyataan diagnosa: bahwa di kepala almarhum terdapat luka dan hancur akibat terkena benda.

Mengikuti diagnosa medis itu berarti Ansel Wora dibunuh, kecelakaan, atau bunuh diri.

Bunuh diri hanya terjadi lewat minum racun, menusukkan alat tajam ke tubuhnya sendiri, gantung diri, atau terjunkan diri dari tempat tinggi, misalnya ke jurang atau dari atas pohon/gedung.

Kepala yang hancur tentu tidak masuk dalam kategori bunuh diri, karena menusuk untuk bunuh diri itu bukan ke kepala (tapi ke leher atau ke jantung) dan kepala bukan hancur. Bukan juga karena terjun jatuhkan diri, karena dalam terjun itu yang hancur bukan hanya kepala, tapi hampir semua anggota tubuh akan hancur.

Gantung diri tidak mungkin, karena para saksi mengakunya menemukan Ansel bukan sedang tergantung mencekik, melainkan membujur di tanah. Minum racun pun tidak mungkin, karena minum racun itu hancurnya di organ dalam, bukan di kepala.

Ini berarti Ansel meninggal bukan karena bunuh diri.

Kecelakaankah? Kecelakaan apa? Dimana?

Menurut keterangan para saksi, sesaat sebelum meninggal, almarhum Ansel menerima telpon dari seseorang sambil berjalan menjauhi kedua rekannya. Kecelakaan apa yang bisa terjadi yang bikin kepala hancur ketika orang menerima telepon lewat handphone/hp? Mungkinkah sebuah Hp bisa menghancurkan kepala si pemakainya yang sedang telepon? Sampai hari ini, belum ditemukan penjelasan ilmiahnya bahwa menelpon dengan Hp bisa menghancurkan kepala si pemakainya sampai meninggal seketika. Jika ini yang mau dijadikan faktor penyebab, maka pihak kepolisian akan mengalami kesulitan soal pembuktian ilmiahnya.

Lalu, apakah almarhum Ansel meninggal karena takdir terhentinya fungsi beberapa organ vitalnya seperti jantung, ginjal, dll.? Hal ini sulit dikorelasikan dengan kehancuran kepala almarhum. Kematian alamiah apakah yang bisa dijelaskan oleh kepala yang hancur? Samasekali tidak logis.

Maka tibalah faktor terakhir, yaitu Ansel Wora meninggal karena dibunuh. Pertanyaannya: Apakah ciri pembunuhan adalah sulitnya mengungkapkan fakta itu?

Sosiologi Pembunuhan : Ende Tradisional & Modern

PEMBUNUHAN antarorang di Ende sudah ada sejak manusia Ende itu ada. Di zaman doeloe, ketika negara belum ada dan atau belum kuat, sering kali pembunuhan tidak bisa terungkap. Bukan karena sulitnya, tapi karena tidak ada institusi masyarakat yang bertugas untuk mengungkapkan faktor-faktor kematian seseorang. Di era tradisional, pranata sosial masyarakat hanya ada untuk tugas pemakaman dan pesta orang mati. Tidak ada pranata sosial yang menangani kasus pembunuhan: mencari tahu penyebab, pelaku, dan menghukum, sehingga zaman doeloe pembunuh itu bebas berkeliaran tanpa diapa-apakan.

Karena tidak terurus, maka kadang pembunuhan bisa dibenarkan. Makanya orang Ende zaman doeloe bisa bangga kalau sudah jadi pembunuh. Pembunuh di mata masyarakat Ende doeloe itu heroik, pahlawan, orang hebat, bisa menambah kewibawaan yang angker di mata masyarakat umum.

Meski agama sudah masuk Ende, namun pembunuhan belum bisa sirna. Meski agama melarang pembunuhan yang dianggap dosa, namun masih ada bekas rasa heroisme di kalangan orang Ende ketika membunuh. Era transisional (dari tradisional yang menerima pembunuhan sebagai salah satu pilihan penyelesaian masalah yang bisa mengangkat harkat sosial pembunuh menuju keyakinan bahwa membunuh itu aib/dosa) belum mulus berjalan. Di satu sisi orang bisa rajin ke gereja, tapi di sisi lain orang bisa rasa nyaman membunuh.

Ketika negara Indonesia sudah berdiri, dan semakin kuat, maka pembunuhan mulai diurus secara hukum oleh negara. Polisi, jaksa, hakim, dan pengacara mulai bertindak.

Negara dipersonifikasikan sebagai organ superpower yang ahli. Semua kekuatan masyarakat bisa ditekukan oleh negara. Aparat negara (polisi, jaksa, dan hakim) dilihatnya sebagai organ-organ ahli, profesional, dan powerfull.

Akhirnya, ketika terjadi pembunuhan dan negara hadir untuk menanganinya, maka masyarakat tradisional Ende sudah tidak berdaya. Orang Ende melihatnya bahwa sia-sialah kalau berhadapan dengan negara. Negara lebih kuat dan lebih pintar, sehingga umumnya orang Ende habis membunuh lalu menyerahkan diri dan mengakuinya. Selain demi keamanan diri dari amukan keluarga korban, juga sia-sianya usaha pengelabuan—toh polisi tetap tahu juga—, tapi heroismenya tetap terpatri.

Pembunuhan tradisional itu cuma sekitar karena pencurian, penipuan, perzinahan, perebutan warisan, konflik kekuasaan keluarga/suku, dan soal perbatasan tanah.

Sementara pembunuhan di era modern adalah dengan motif ekonomi, politik, dan perzinahan. Namun di Ende, perzinahan masih diselesaikan lewat pembunuhan konvensional, yaitu membunuh lalu menyerahkan diri dan mengakui diri ke polisi.

Pembunuhan karena ekonomi, hampir tidak mungkin terjadi, karena dengan posisi Ansel sebagai sopir Damri yang ASN, maka di tubuh Ansel Wora tidak akan memiliki aset yang bernilai puluhan juta hingga miliaran rupiah untuk dicuri atau dirampok. Paling tinggi cuma cincin kawin senilai paling tinggi Rp.5 juta, jam tangan sekitar Rp.200.000, handphone sekitar Rp.2 juta, dan kalung sekitar Rp.5 juta. Jadi, paling tinggi aset di badan Ansel cuma sekitar Rp. 12,5 juta.

Angka seperti itu masih belum menarik bagi penjahat. Apalagi menjual kembalinya juga tidak mudah. Jual Hp bekas itu sulit. Jual emas tanpa kwitansi aslinya juga sulit—karena kwitansi aslinya pasti ditinggal di rumah. Jadi, kematian Ansel Wora tidak mungkin dari motif ekonomi.

Lalu, tinggal politik. Mungkinkah Ansel dibunuh karena politik?

Politik : Siapakah Ansel?

POLITIK kita memang bermotif kekuasaan dan uang. Politik kita belum tiba pada derajat tertinggi, yaitu mensejahterakan masyarakat secara adil dan merata. Untuk menuju kekuasaan, orang bisa menempuh dengan cara apa pun.

Pertanyaannya : Siapakah Ansel Wora dalam politik Ende?

Ansel Wora tidak punya aktivitas politik, bukan petinggi partai, bukan tokoh politik. Maka seorang Ansel hanya punya hak untuk memilih. Tidak mungkin orang membunuh Ansel Wora hanya untuk mengurangi satu suara bagi kandidat tertentu, apalagi pembunuhan itu tidak sedang musim pemilu, sehingga motif persaingan elektabilitas para kandidat nyaris nol.

Kerangka berpikir kita bisa saja mengarah ke munculnya Ansel sebagai tokoh ancaman tak langsung (men of political problem indirect), misalnya Ansel Wora sebagai orang penting dibalik tokoh kompetitor yang sesungguhnya.

Dinamika politik lokal Ende yang paling signifikan dengan kekuasaan di Ende dalam waktu-waktu terakhir ini hanya dua, yaitu: 1. Pilkada Ende 2018, dan 2. Kematian Marsel Petu yang membawa konskuensi pada kursi bupati dan wakil bupati yang lowong.

Ansel menjadi target pembunuhan kalau Ansel adalah orang yamg paling tahu tentang kecurangan yang dilakukan kubu MJ, sehingga Ansel harus dilenyapkan demi hilangnya jejak kecurangan itu. Namun melihat keabsahan MJ sebagai pemenang pilkada Ende 2018 sudah tanpa ada perlawanan konstitusional dari kubu lawan, maka itu berarti kematian Ansel Wora tidak ada hubungannya dengan pilkada Ende 2018.

Tinggallah sekarang: Apakah kematian Ansel Wora punya korelasi dengan kematian Marsel Petu? Korelasi ataupun tidaknya, maka pembicaraan harus ‘flashback’ lagi: Apakah kematian Marsel Petu pun tidak wajar? Kalau “ya”, apakah Ansel Wora adalah oknum yang tahu tentang latar belakang kematian Marsel Petu? Maka harus jawab dulu misteri kematian Marsel Petu. Tanpa membuka kematian Marsel Petu, maka kematian Ansel pun sulit dibuka juga. Bila kematian Marsel Petu dianggap wajar, maka sulit menghubungkan korelasi antara kematian Ansel Wora dengan kematian Marsel Petu. Ada logika yang terputus.

Bila kasus kematian Marsel Petu tidak dibuka, maka kematian Ansel Wora merupakan akibat dari sisi konsekuensi ketatanegaraan.

Artinya ketika Marsel Petu meninggal, maka kursi bupati yang kosong pun otomatis diisi oleh Wakilnya, Djafar Achmad. Jika kenaikkan Djafar jadi kecemburuan politik lokal Ende, maka kematian Ansel Wora memiliki nilai konspirasi terhadap kursi bupati yang sedang diduduki Djafar saat ini. Artinya Djafar bisa saja “digoyang” lewat kematian Ansel Wora, sehingga seolah-olah Djafarlah yang terlibat. Ini dilihat dari kehadiran sopir pribadi bupati, keberangkatan untuk kerja dinas perbaiki kendaraan/mesin yang rusak di Pulau Ende, dan kehadiran seorang ASN lainnya dalam rombongan itu.

Padahal indikasi keterlibatan bupati itu tidak otomatis hanya dilihat dari kehadiran sopir pribadi bupati dan tujuan ke Pulau Ende untuk perbaiki mobil/mesin milik negara, karena: 1. Di luar jam dinas, seorang sopir adalah penduduk biasa yang bebas melakukan kegiatannya tanpa berhubungan dengan bupati, 2. Jika keberangkatan Ansel Wora dan dua rekannya itu tidak ada perintah tugas dari bupati untuk ketiganya (termasuk dibuktikan dengan surat tugas), maka terlalu jauh berspekulasi ke bupati Djafar.

Jadi, kematian Ansel Wora itu hanya punya korelasi dengan kematian Marsel Petu—itupun jika sudah ada vonis resmi dari institusi yang berwenang kalau meninggalnya Marsel Petu akibat pembunuhan juga—dan penggoyangan posisi Ka’e Djafar sebagai bupati saat ini.

Ke mana pun arah dan datangnya penyebab dan pelaku pembunuhan Ansel Wora, maka kasus kematian Ansel Wora adalah kasus politik lokal Ende. Pelakunya bisa antar-kubu atau faksi-faksi dalam kubu yang sama. Kehadiran dua orang teman Ansel Wora yang mengajak almarhum ke Pulau Ende bisa saja mereka terperangkap dalam jebakan ‘batman’. Kegagapan dan kegugupan mereka nenghadapi kenyataan tewasnya rekan mereka Ansel Wora belum tentu menunjukkan bahwa mereka pembunuhnya, tapi bisa juga mereka dijebak oleh skenario. Jika itu yang terjadi, maka mereka berdua adalah korban sekundernya, sedangkan Ansel adalah korban primernya.

Jika ini adalah kasus politik, maka penyelesaiannya bisa rumit, lambat, bahkan bisa dipeti-eskan. Kalaupun berjalan, selain lambat, juga bisa muncul peradilan sesat, yaitu menghakimi orang yang bukan pelakunya.

Berlarut-larutnya Polres Ende hingga kini dilimpahkan ke Polda NTT belum tentu karena tidak mampu dan tidak mau menuntaskan kasus ini, tapi bisa juga karena tidak ingin dianggap memihak dan menjauhi salah satu kubu/faksi politik lokal Ende. Polda NTT tentunya menjadi institusi yang jauh dari irisan urusan di lingkungan Ende, sehingga tanpa beban ketika memutuskan dan mengumumkan kasus itu. Polda jauh dari dinamika di titik sentrumnya Ende.

Pembunuhnya pun belum tentu oleh kedua temannya Ansel itu, melainkan bisa saja dari komplotan lain yang didesain untuk terlebih dahulu berada di lokasi, termasuk di titik terakhir Ansel menerima telepon. Bahkan si penelpon pun bisa saja merupakan bagian dari wayang-wayang itu. Semua wayang belum tentu saling tahu dan kenal.

Pelakunya bisa saja yang diam-diam, takut, tapi bisa juga yang semangat menuduh pihak-pihak tertentu tanpa memerlukan alur logika maupun buktinya. Bisa jadi pura-pura diam ataupun pura-pura berkoar untuk ‘lempar batu sembunyi tangan’.

Tuduh-menuduh dalam isu publik yang mengarah ke pribadi tertentu bisa jadi merupakan perang opini untuk ‘lempar batu sembunyi tangan’.

Bagaimana mendorong dan mengawal sebuah kasus kejahatan yang berhubungan dengan politik agar berjalan sesuai normalnya? Nantikan jawabannya, besok! (***)

Penuls : Anthony Tonggo, Alumnus FISIPOL UGM, Asal Ende, tinggal di Yogyakarta.