1927-2020, Petikan Petuah Kakek 93 Tahun, Pius Rema

LN Focus Indonesia News – Dilahirkan di sebuah perkampungan kecil, Kampung Naidewa, wilayah administrasi Desa Watunai, Kecamatan Golewa Barat, Kabupaten Ngada, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Pius Rema, Kakek 93 Tahun ini berbagi secuil petuah bagi kehidupan.

Petuah Kakek Pius Rema ini dikutip wartawan media ini di Kampung Nuamuzi, Desa Rakateda I, Kecamatan Golewa Barat, Kabupaten Ngada dalam sebuah sesi wawancara tokoh disela acara adat warga Ngada, Reba Nuamuzi Rakateda I, detik-detik akhir tanggal 31 Desember 2019 menuju tanggal 1 Januari Tahun 2020.

“Saya lahir tahun 1927. Kawan-kawan seusia saya rata-rata telah tiada. Saya hanya masih ingat satu orang yang masih hidup saat ini dan usianya lebih kakak dari saya. Walau dia lebih Kakak namun pada masa kecil dia juga salah satu kawan saya, namanya Markus Nio. Dia tinggal di Kampung Turekisa (Kabupaten Ngada). Kalau saya tidak keliru usianya saat ini 105 tahun. Sedangkan usia saya saat ini memasuki 93 tahun. Salah satu ciri kuat dalam kehidupan zaman dahulu yaitu kedekatan yang sangat kental antara manusia dengan manusia, antara manusia dengan alam semesta dan manusia dengan adat istiadat. Itu sangat kental. Beda dengan zaman sekarang, manusia sangat dekat dengan teknologi. Kita duduk bersama seperti ini pun banyak orang sibuk dengan HP (handpone) mereka masing-masing. Mereka menyatu dengan peralatan kecil itu (HP), mungkin juga dengan alat itu mereka lupa bahwa ada manusia lain yang sedang duduk di samping mereka”, tutur sang Guru Agama Katolik tulen pada eranya, Kakek Pius Rema 93 Tahun.    

Kakek Pius yang dalam usianya mempunyai catatan pernikahan Isteri pertama, (almarhum) Veronica Nay dan diberkati tiga orang anak, satu perempuan, dua laki-laki, berikutnya kembali merajut mahligai rumah tangga kedua usai isteri pertama meninggal dunia lalu hidup bersama Isteri kedua, (almarhum) Maria Roa dan diberkati lima orang anak, dua anak laki-laki, tiga anak perempuan, memesan kepada generasi saat ini untuk terus membina hubungan kedekatan antara sesama manusia tanpa membedakan agama, ras, suku dan adat istiadat.  

Kedekatan antara sesama manusia, lanjut Kakek Pius Rema, sebaiknya harus melebihi kedekatan antara manusia dengan theknologi. Berikutnya, kedekatan antara manusia dengan alam semesta dan dengan adat istiadat juga harus melebihi kedekatan manusia dengan teknologi.

“Menurut kami orangtua, sangat dekat dengan sesama manusia, sangat dekat dengan alam semesta, sangat dekat dengan adat istiadat adalah tanda bahwa manusia dekat dengan Allah. Saya sangat yakin dengan hal itu”, tutur Kakek Pius Rema.

Tiga kedekatan ini, lanjut Opa Pius Rema, adalah tradisi kuat dari para leluhur yang sangat berguna untuk tidak memunculkan perpecahan sesama manusia dan cerai-berai dalam kehidupan.

“Zaman sudah berubah sangat jauh. Pendapat dan pesan dari zaman dahulu mungkin tidak cocok lagi untuk zaman sekarang, tetapi kalau bisa, gunakanlah pendapat dan pesan-pesan dari zaman dahulu, karena itu semua untuk kebaikan yang memberi keuntungan bagi kehidupan manusia dan kebaikan dunia”, tutup Kakek Pius Rema. (Tim/Red)