Home Renungan Harian Ketukan Pada Pintu

Ketukan Pada Pintu

64
0
Foto: Google

Wally berumur 9 tahun. Dia baru kelas 2 SD. Teman-teman seusianya sudah kelas 4. Jadi dia yang paling besar di kelasnya. Dia kurang pintar tapi baik. Suka menolong dan mudah terharu.

Drama Natal di kelas. Dia mau jadi Yosef, tapi gurunya pilih dia jadi penjaga pintu penginapan. Dengan badan besar dan suara keras dia dianggap cocok untuk membentak dan mengusir pasangan Yosef dan Maria. Latihan berjalan sesuai skenario.

Tiba saat pentas. Yosef mengetuk pintu. “Siapa?” Suara keras penjaga pintu. “Ijinkan kami menginap”, kata Yosef. “Tidak ada tempat buat kalian. Sudah penuh! Pergi ke lain tempat”. “Aku bersama istriku yang hamil. Bayiku akan segera lahir dan tidak ada lagi tempat di rumah lain. Ijinkan semalam saja”, kata Yosef memelas. Pintu dibuka. Wally berdiri kebingungan. Matanya berkaca-kaca. Tak tega. Gurunya berbisik dari jauh. “Usir. Usir saja.” Wally tetap tak bisa ngomong. Tiba-tiba Wally berbisik: “Mari masuk. Pakai kamarku saja”. Skenario rusak semuanya.

Pada dasarnya manusia berhati baik. Karena memang diciptakan baik adanya. Nyatanya lngkungan dan kesombongan merusak kebaikan manusia. Agama pun jika salah dipahami bisa menjadikan manusia menutup pintu bagi sesamanya.

IMMANUEL-Allah Beserta Kita. Kehadirannya di tengah dunia, di tengah umat manusia bertujuan untuk merusak skenario yang dianggap benar oleh manusia selama ini. Skenario dimana tiap orang dikotak-kotakkan dalam ras, suku, bahasa, bangsa, negara bahkan agama.

Untuk itu Allah memulai pada suatu titik; pada sebuah tempat dan waktu tertentu, melalui dua pribadi Maria dan Yosef. Tempat itu adalah bangsa Israel. Masa itu adalah 2000 tahun yang lalu. Suka atau tidak suka Allah telah menulis sejarah-Nya dalam sejarah umat manusia.

Sejarah perjumpaan dengan pribadi lain dimulai pada sebuah KETUKAN PADA PINTU. Ketukan dan permintaan masuk adalah sebuah simbol permintaan Allah agar diijinkan untuk memasuki kehidupan manusia. Dia meminta keterbukaan manusia untuk menerima Dia, agar menjadi bagian dari hidup mereka. Dia berharap ada yang membuka pintu dan membiarkan Dia masuk.

Ternyata pintu pertama itu tertutup rapat. Inilah simbol penolakan yang paling awal terhadap kehadiran Allah yang menjadi manusia. Inilah gambaran nyata bagaimana sesungguhnya manusia bersikap terhadap Allah. Jika mereka menutup pintu terhadap sesamanya yang kelihatan di depan mata, bagaimana dia bisa membuka pintu bagi Allah yang tak kelihatan?

Karena pintu rumah ditutup di Betlehem maka Sang Juruselamat lahir di tempat dimana pintu tak dibutuhkan lagi. Dimana para gembala dan majus bisa berkunjung secara bebas tanpa dibatasi sekat apa pun. Sang Bayi Immanuel bisa menerima siapa saja tanpa batasan.

Natal mengingatkan kita akan dua hal:
Pertama, mengingatkan kita agar selalu membuka pintu bagi yang mengetuk karena itu berarti dia membutuhkan bantuan kita. Siapa tahu dia adalah Mesias yang hendak memasuki rumah kita atau seseorang kepada siapa Dia bersolider dan mengidentikkan diri.

Kedua, jika kita menutup pintu rumah karena alasan tertentu, kita harus membuka PINTU HATI kita agar Dia masuk dan berkuasa. Dia bisa tinggal bersama kita dan membuat kita selalu bersukacita. Saat itulah DAMAI di bumi berawal dan memancar kemana saja.

Untuk itu kita membutuhkan orang seperti Wally sebanyak mungkin.

SELAMAT HARI RAYA NATAL…