Home Berita Kematian Tidak Wajar ASN Ende Ansel Wora, TPDI Rilis Penegasan

Kematian Tidak Wajar ASN Ende Ansel Wora, TPDI Rilis Penegasan

1865
0

LN Focus Indonesia News  – Koordinator  Tim Pembela Demokrasi Indonesia dan Advokat PERADI, Petrus Selestinus, SH melalui press release diterima redaksi LN Focus Indonesia (04/11/2019) mengungkapkan catatan awal TPDI terkait kematian yang diduga tidak wajar menimpa seorang ASN di Kabupaten Ende, Pulau Flores, NTT, Anselmus Wora.

Berikut release lengkap TPDI dikutip redaksi media ini (04/11/2019).  

Perlu dukungan informasi publik untuk mengungkap sebab-sebab kematian almarhum Anselmus Wora yang masih misterius, urai Selestinus diawal keterangan media.

Satu lagi terjadi peristiwa kematian misterius dialami masyarakat Kota Ende, yaitu kematian Alm. Anselmus Wora. Pihak Keluarga dan Masyarakat Kota Ende harus memberikan dukungan kepada Keluarga Alm. Anselmus Wora dan Aparat Kepolisian Polres Ende dengan memberikan informasi seputar kematian Alm. Anselmus Wora, seorang ASN Pemda Kabupaten Ende yang kematian dan sebab-sebabnya masih misterius dan mengundang perhatian publik semakin meluas.

Baca juga : https://larantuka.com/2019/11/polres-ende-lidik-teka-teki-kematian-asn-anselmus-wora/

Aparat Kepolisian tidak bokeh terjebak dalam kepentingan orang-orang yang pro ataupun kontra terhadap perlunya pengungkapan sebab-sebab kematian Alm. Anselmus Wora, atas alasan jenasah telah dikubur tanpa dilakukan autopsi.

Dari beberapa sumber, diperoleh penjelasan bahwa Alm. Anselmus Wora sesaat sebelum kematiannya, sedang bersama-sama dalam suatu perjalanan bersama sama dengan 2 (dua) orang anak buahnya, seorang dengan inisial nama A sebagai Sopir Mobil Dinas seorang pejabat Pemda Kabupaten Ende dan seorang lagi dengan inisial nama I adalah Sopir pada Dinas Perhubungan Kabupaten Ende atau bisa disebut anak buah Alm. Anselmus Wora pada Dinas Perhubungan Kabupaten Ende.

Aparat Penyelidik dan Penyidik Polres Ende akan menyisir informasi dari dua orang tersebut sebagai Saksi yang menyertai Alm. Anselmus Wora seseaat sebelum dan selama di TKP.

Perlunya LPSK untuk melindungi saksi kunci.

Kedua orang dengan inisial nama A dan I adalah saksi kunci yang harus segera diamankan Polisi, bila perlu kedua Saksi ditemoatkan dibawah Lembaga Perlindunan Saksi dan Korban (LPSK), jika Saksi-Saksi ketakutan karena diancam mengungkap kejadian yang sebenarnya.

Melalui LPSK Polisi bisa dengan mudah mengungkap fakta-fakta seputar kejadian di TKP dan bagaimana suasana yang menyertai selama perjalan Almahrum ke Pulau Ende pada malam hari tanggal 31 Oktober 2019, siapa yang mengajak Almahrum pada malam itu ke Pulau Ende, apakah disana ada suatu kegiatan Dinas atau Keluarga, apakah selama dalam perjalanan terjadi kontak telpon antara Almahrum dengan orang-orang lain yang mencurigakan.

Baca : https://larantuka.com/2019/11/kejanggalan-kematian-keluarga-duka-asn-ansel-minta-polres-ende-ungkap-tuntas/

Dari pemberitaan sebuah media online disebutkan bahwa pada malam tanggal 31 Oktober 2019 itu Alm. Anselmus Wora bersama seorang Sopir dan seorang lagi anak buahnya ke Pulau Ende membawa Dinamo Mobil untuk dipasang di Pulau Ende, psda saat sedang bakar ikan dan minum bir tiba-tiba saja Alm. Anselmus Wora menerima telpon dari seseorang lalu Alm. Ansemus Wora beranjak menjauh meninggalkan ke dua anak buahnya untuk berbicara via telpon dari seseorang penelpin, namun setelah dua jam ditunggu ternyata sudah diketemukan tidak bernyawa.

Ada sejumlah fakta yang bisa menjadi penentu untuk mengungkap lebih jauh sebab-sebab kematian Alm. Anselmus Wora, apakah dibunuh atau bunuh diri atau karena sebab lain.

Fakta-fakta itu adalah keberadaan dua anak buah Alm. Anselmus Wora yang bersamanya sebelum dan saat peristiwa kematian, telpon HP milik Alm. Anselmus Wora yang mudah-mudahan tidak hilang saat kejadian di TKP dan kemudian Dokter dan Petugas medis RSUD. Ende yang memeriksa dan memandikan Alm. Anselmus Wora, untuk mengkonfirmasi luka yang disebut-sebut berada di atas ubun-ubun Alm. Anselmus Wora.

Autopsi harus dibudayakan.

Peristiwa kematian Alm. Anselmus Wora Ini akan menjadi pekerjaan yang paling menantang bagi Polres Ende, meskipun dari sudut pembuktian, untuk mencari dan menemukan alat bukti tidaklah sulit secara teknis, namun demikian akan menjadi sulit saat membongkar kemungkinan keterlibatan pihak lain manakala dibalik peristiwa kematian ini ada kaitannya dengan persoalan politik dan konspirasi politik tingkat tinggi di masa lalu atau di balik sisa-sisa konflik terkait suksesi jabatan Bupati dan Wakil Bupati yang sedang berproses pasca meninggalnya Alm. Marsel Petu, Bupati Ende beberapa bulan lalu.

Dengan Autopsi akan sangat memudahkan pengungkapannya, hanya saja masyarakat belum membudayakan Autopsi sebagai upaya positif mengungkap kejahatan dan motif kejahatan misterius itu sendiri. Untu mengungkap kasus ini secara tuntas, Polres Ende harus melepaskan diri dari ada atau tidaknya persoalan politik di balik kematian Alm. Anselmus Wora.

Polisi laksanakan saja tugas sesuai profesionalisme Penyelidik dan Penyidik berdasarkan fakta-fakta, dukungan, harapan masyarakat, rasa keadilan publik dan hukum. Polisi harus bisa meyakinkan pihak Keluarga untuk mendapatkan persetujuan Autopsi, karena hanya dengan Autopsi Polisi bisa memastikan sebab-sebab kematian, bagaimana mekanisme kematianya dan kapan waktu kematiannya.

Ada dasar yang kuat untuk Autopsi karena menurut sumber berita, terdapat luka di atas ubun-ubun kepala Alm. Anselmus Wora.

Sumber : Press Relese Petrus Selestinus, Koordinator TPDI & Advokat Peradi. (Tim/Red)