Home Berita Polri-TNI Ngada Atasi Konflik Warga Suku Kampung Wogo

Polri-TNI Ngada Atasi Konflik Warga Suku Kampung Wogo

2547
0

LN Focus Indonesia News – Polres Ngada Kepemimpinan AKBP. Andika B. Adhitama, S.I.K, M.H dan TNI Kodim 1625 kepemimpinan Letkol.Inf. I Made Putra Suartawan melalui Kapolsek Golewa, Ipda. Stefanus Siga bersama Anggota dan Babin TNI Golewa, Sertu E. Swinglly M.K berhasil atasi konflik terbuka dua kubu warga saat pemugaran Rumah Adat Dewa Ninge (21/10/2019) di Kampung Wisata Wogo, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, NTT.

Berdasarkan data yang dihimpun media ini, pihak yang berseteru dalam kejadian ini adalah kelompok Dominikus Meo dari Kampung Dena Wogo menghadang pihak Paulus Laja di rumah adat Dewa Ninge, Kampung Wogo.

Data penggalian awak media di lokasi kejadian, dikisahkan kedua pihak pada zaman leluhur tempo dulu adalah sama-sama warga suku Dewa Ninge di perkampungan Wogo yang lama, lalu berpindah ke Kampung Wogo saat ini, namun dalam perjalanan generasi, pihak Dominikus Meo meninggalkan rumah adat Dewa Ninge di Kampung Wogo, berpindah mendiami Kampung Dena Wogo.

Pasalnya, di tempat tinggal yang baru di Kampung Dena Wogo, Dominikus Meo melanjutkan kisah hidup dengan mendirikan satu lagi rumah adat lalu diberi nama sama persis dengan rumah adat sebelumnya di Kampung Wogo yang lama maupun Kampung Wogo saat ini, yakni rumah adat Dewa Ninge.

Sementara pihak Paulus Laja tetap menjaga pelestarian rumah adat di Kampung Wogo, yakni rumah adat Dewa Ninge beserta seluruh pusaka warisan rumah adat Dewa Ninge, lengkap dengan bukti-bukti sah keberadaan rumah adat Dewa Ninge yang ditinggal secara turun temurun hingga saat ini.

Rangkuman media ini, perselisihan antara kedua pihak sesungguhnya sudah melalui sejumlah upaya mediasi, baik oleh Pemerintah Desa Ratogesa maupun upaya mediasi oleh pihak Keamanan, dalam hal ini oleh Polsek Golewa maupun TNI Kodim 1625 Ngada melalui Danpos Golewa.

Kapolsek Golewa, Ipda. Stefanus Siga dan Danpos TNI Kodim 1625 Ngada Sertu E. Swinglly M.K dalam penegasan pernyataan saat kejadian di lapangan tanggal 21 Oktober 2019 menyampaikan bahwa berdasarkan berbagai langkah mediasi persuasif dengan pelibatan dua pihak terkait, sebenarnya sudah disepakati bahwa jika salah satu pihak merasa tidak puas ataupun merasa dirugikan, disepakati bersama untuk tidak membuat huru-hara tetapi menempuh jalur hukum formal guna tidak menciptakan perseteruan terbuka ataupun terjadinya aksi berhadap-hadapan antara kedua pihak.

Liputan awak media di lokasi kejadian Kampung Wogo, kubu Dominikus Meo melakukan penghadangan terhadap pihak Paulus Laja yang tengah melakukan kerja pemugaran rumah adat Dewa Ninge dan nyaris terjadi pertikaian terbuka antara kedua pihak.

Menurut data Danpos TNI Kodim 1625 Ngada Sertu E. Swinglly M.K, pihak Dominikus Meo pada satu hari sebelum kejadian ketika didatangi pihak TNI atas situasi rawan di lapangan, Dominikus Meo mengatakan bahwa jika pihak Paulus Laja melakukan ritual adat pemugaran rumah leluhur, maka ada dua hal yang tidak boleh dilakukan yakni dilarang mengitari “Bhaga”, dan yang kedua tidak boleh menamakan rumah adat yang dipugar tersebut dengan nama Sa’o (rumah) Dewa Ninge.

Sementara pihak Paulus Laja yang melakukan pemugaran menganut prinsip tidak merubah tekstur budaya rumah adat dan tidak boleh merubah nama rumah adat, sebaliknya tetap berpedoman pada pesan pelestarian budaya adat setempat termasuk nama Dewa Ninge harus tetap sesuai dengan nama semula dari asal muasal pemberian para leluhur yakni bernama Sa’o Dewa Ninge.

Sebagaimana disaksikan dalam video berita ini, proses penghadangan dilakukan oleh pihak Dominikus Meo saat ritual adat tengah berlangsung. Atas kejadian penghadangan, pihak keamanan yang tengah melakukan pemantauan situasi langsung menangani gejolak konflik terbuka di tempat kejadian.

Dipimpin langsung oleh Kapolsek Golewa, Ipda. Stefanus Siga serta Danpos TNI Kodim 1625 Ngada Sertu E. Swinglly M.K bersama Kepala Desa Ratogesa, Anatasius Paru, Kepala Woe Tiko Sawa, Petrus Dala dan para tetua adat setempat, gesekan antara kedua pihak berhasil diredam oleh pihak keamanan hingga terjadi pembiacaraan terbuka antara kedua pihak yang menghasilkan dua kesepahaman sementara yakni, pertama melakukan sumpah adat dan yang kedua, kepada pihak yang merasa dirugikan, dilarang melakukan tindakan main hakim sendiri di lapangan tetapi harus menempuh jalur hukum negara.

Saat kejadian, pihak tuan tanah di Kampung Wogo nampak sempat melerai kubu Dominikus Meo yang melakukan penghadangan.

Pihak tuan tanah menyampaikan sikap tuan tanah yang menyatakan tuan tanah tidak mengizinkan adanya tindakan kerusuhan dalam bentuk apapun di Kampung Wogo, sebab Kampung Wogo harus tetap sejuk dan damai bagi siapa saja. termasuk bagi seluruh warga yang mendiami Kampung Wogo.

Selainitu pihak tuan tanah menegaskan Kampung Wogo adalah Kampung Wisata Adat yang harus dijaga bersama ketertiban dan keamanan kampung dan harus dapat menjadi tauldan ketertiban dan keamanan di hadapan banyak pihak.

Rangkuman media ini, pihak tuan tanah di Kampung Wogo juga memberikan peringatan dan penegasan, jika ada pihak yang merasa dirugikan harus menempuh jalur hukum sebab hukum adalah panglima tertinggi yang berlaku sah dan harus ditaati bersama. Pihak tuan tanah juga menghimbau dilarang melakukan tindakan-tindakan kekerasan main hakim sendiri di tengah-tengah masyarakat.

Pantauan media ini, usai mediasi, para pihak kembali ke tempat masing-masing dan kegiatan pemugaran rumah adat dijalankan sesuai agenda. (Tim/Red)