Home Artikel Mengapa Sulit Melengserkan Jokowi?

Mengapa Sulit Melengserkan Jokowi?

357
0

Seri Analisa Politik

Oleh : Anthony Tonggo*

INILAH Presiden Indonesia (Jokowi) yang paling fenomenal dimusuhi. Usaha pelengseran Jokowi sudah berjalan seiring dengan dimulainya beliau menjadi gubernur DKI hingga hari ini. Intensitas gerakan pelengseran Jokowi tak pernah berhenti, bahkan jauh melebihi usaha-usaha pelengseran semua presiden sebelum-sebelumnya.

Uniknya, kekuasaan Jokowi tak tergoyahkan. Jokowi terlihat jauh lebih kokoh dibanding semua presiden sebelumnya juga. Bahkan, jangankan bisa tembus untuk periode kedua (2019-2024), andaikan regulasi memungkinkan, Jokowi bisa tembus juga ke periode ketiga dan seterusnya.

Pertanyaannya adalah: 1. Apa kekuatan Jokowi jika dibanding dengan semua presiden sebelumnya?, dan 2. Bagaimana cara melengserkan Jokowi?
*

Civil Society yang Riil

KALAU kita jeli membaca arah gerakan masyarakat sipil (civil society) kontemporer Indonesia, maka arah gerakan masyarakat sipil yang paling berbeda adalah di era Jokowi.

Gerakan masyarakat sipil di semua presiden sebelumnya hanya satu arah, yaitu gerakan vertikal, ke arah kekuasaan. Rakyat versus negara. Rakyat berhadapan dengan pemerintah dan aparat keamanan.

Di era Jokowi, rakyat terbelah dua, yaitu rakyat yang berjuang menyerang Jokowi dan rakyat yang membela Jokowi. Jika Jokowi diserang, maka pendukung Jokowi langsung melakukan serangan balik. Dimulai dari bela Jokowi di media sosial hingga turun ke jalan, menyeret pembenci Jokowi ke arena hukum, hingga menantang duel secara fisik dengan pembenci Jokowi. Fenomena inilah yang belum pernah terjadi pada semua presiden sebelumnya, kecuali di Jokowi.

Akhirnya, massa pembenci Jokowi harus berhadapan dengan dua kekuatan besar, yaitu secara horizontal mereka berhadapan dengan para pendukung Jokowi, sedangkan secara vertikal mereka berhadapan dengan aparat keamanan (polisi dan TNI). Ini berbeda dengan gerakan-gerakan pelengseran para presiden sebelumnya yang hanya punya tantangan ke arah vertikal berhadapan dengan aparat (polisi dan TNI).

Di masa lalu, ketika mahasiswa berdemo dan jadi korban kekerasan aparat polisi atau TNI, maka jumlah massa penantang penguasa jadi sulit dibendung. Semakin hari kian menyemut dengan para demonstran, sehingga aparat polisi dan TNI pun kewalahan.

Kini, selama di era Jokowi, setiap ada pergerakan massa untuk menyerang Jokowi, diikuti langsung dengan pergerakan massa bela Jokowi yang juga agresif melakukan kontra. Muncullah fakta rakyat pembenci Jokowi versus rakyat pendukung Jokowi saling menyerang. Akhirnya polisi dan TNI lebih mudah menenangkan para pembenci Jokowi, karena selain massanya sedikit, juga sudah dibantu oleh para pendukung Jokowi.

Padahal pola gerakan pembenci Jokowi selama ini tetap menduplikasi pola-pola lama yang pernah sukses menumbangkan Soekarno, Soeharto, Habibie, dan Gus Dur, yaitu dengan kekuatan massa turun ke jalan hingga ke istana. Bahkan terakhir di bulan Oktober ini ingin meniru gerakan 1998, yaitu mengerahkan mahasiswa turun ke jalan di berbagai daerah, namun melemah lagi setelah ada serangan balik pendukung Jokowi ke arah mahasiswa.

Bahkan kini pendukung Jokowi agresif menunjukkan “Siap Kawal Pelantikan Jokowi-Ma’ruf” dan “Siap Libas Para Perusuh yang Ingin Menggagalkan Pelantikan Jokowi-Ma’ruf”. Setelah ditambah pernyataan keras dari Panglima TNI untuk siap menghadapi para perusuh yang menghalangi pelantikan Jokowi-Ma’ruf, maka nyali pembenci Jokowi pun ciut.

Ini menunjukkan bahwa Jokowi memang didukung riil oleh masyarakat. Kekuatan pendukung Jokowi itu untuk mengkonfirmasikan bahwa memang perolehan suara Jokowi di pilpres itu tidak curang. Kalau seandainya curang, pasti tidak ada rakyat yang gigih membela Jokowi.

Dulu Soekarno, Soeharto, Habibie, dan Gus Dur mengklaim bahwa mereka dipilih melalui pemilu yang demokratis, tapi ketika mereka didemo-lengserkan oleh rakyat pun tak ada rakyat lainnya yang membelanya seperti terhadap Jokowi saat ini. Ini berarti demokrasi kita lebih matang di era Jokowi dibanding era sebelumnya.

Para pembenci Jokowi pun sulit menggoda TNI untuk melakukan kudeta, karena pada umumnya TNI bisa kudeta kalau situasi konfliknya antarkekuatan politik, misalnya antarparpol seperti tahun 1965. Situasi sekarang ini konflik antar-rakyat, sehingga TNI sulit melawan kekuatan rakyat pendukung Jokowi. Contoh, tahun 1998 sebenarnya Wiranto-lah yang paling berpeluang untuk memanfaatkan kesempatan untuk kudeta, tapi TNI sulit melakukannya karena kejengkelan rakyat saat itu pun ke arah TNI juga (karena dwifungsi ABRI-nya). TNI pun salah satu institusi sasaran gerakan untuk direformasi

Pertanyaannya: Mengapa ada rakyat yang setia membela Jokowi?
*

Rahasia Kekuatan Jokowi

ADA sejumlah imej positip untuk Jokowi yang menghipnotis sebagian besar masyarakat, yaitu sederhana, rendah hati, sabar, serius membangun rakyat (infrastruktur), anti-KKN (semua keluarga Jokowi tidak aji mumpung), dan berasal dari orang kecil seperti nasib rakyat kebanyakan.

Mencari figur dengan jumlah imej positip sebanyak ini memang agak sulit di negeri ini, minimalnya diantara politisi dan tokoh yang ada. Baru Jokowi-lah tokoh dengan imej pisitip terbanyak.

Dengan fakta ini, sia-sialah kalau ada gerakan untuk melengserkan Jokowi. Setiap gerakan kontra Jokowi pasti langsung disambut dengan gerakan pro-Jokowi. Jika demo harus dibiayai para bandar, maka sampai bangkrut (untuk beli nasi bungkus dan amplop honor) pun tetap saja Jokowi tak tergoyahkan. Jika ada yang meninggal dan cacat dalam demo pun tidak ada yang peduli. Lambat laun pun gerakan itu akan saling menyalahkan, termasuk saling membuka aib.

Kekokohan para pendukung Jokowi pun sudah mencatat sejarah baru perpolitikan Indonesia, dimana semua parpol kalah magnitnya dibanding Jokowi. Bayangkan, di saat setiap petinggi parpol ingin menjadi penguasa, justru mereka mengalah dan beramai-ramai mendukung Jokowi. Setiap parpol yang tidak mengusung dan mendukung Jokowi pasti akan kehilangan pemilih yang signifikan. Akhirnya seorang Jokowi yang bukan pendiri, petinggi, dan dinasti parpol pun didukung parpol berduyun-duyun. Lihat, sampai sekarang, seorang Jokowi yang tidak punya apa-apa (kecuali punya pendukung fanatik di lapisan bawah), akhirnya didukung semua parpol, kecuali PKS. Apakah ada sekelompok massa yang lebih gagah dibanding kegagahan para pendukung Jokowi dan koalisi besar parpol pendukung Jokowi?

Akhirnya, dari hari ke hari, semua wajah garang terhadap Jokowi pun hilang satu-per-satu. Ada yang masuk penjara, ada yang lari keluar negeri, dan ada yang diam saja seperti sudah kehabisan enerji dan putus asa. Pertanyaannya: Dari kekuatan mana lagi untuk bisa melengserkan Jokowi?

Akhirnya, cara terefektif untuk melengserkan Jokowi adalah dengan menunjukkan tokoh-tokoh yang kontra Jokowi itu memiliki imej positip yang jauh lebih banyak dari Jokowi. Selama catatan imej tokoh yang ada tidak lebih baik dari Jokowi, maka gerakan pelengseran Jokowi tidak akan sukses. Pendukung Jokowi akan selalu setia dan siap menghadang para pembenci Jokowi.

Daripada sibuk membenci Jokowi, mendingan sibuklah memperbaiki diri agar punya imej positip yang lebih hebat dari Jokowi. Kalau imej Anda sudah lebih hebat dari Jokowi, maka dengan sendirinya Jokowi akan jatuh.

Jika usaha Anda sudah gagal memperbaiki mutu diri, maka berarti memang secara supranatural sudah waktunya giliran Jokowi untuk memimpin negeri ini hingga 2024. Mari kita dukung Jokowi, sementara yang tidak bisa mendukung Jokowi sebaiknya diam. (*)

* Anthony Tonggo, Alumnus FISIPOL UGM, tinggal di Yogyakarta.