Home Catatan Pojok Bung Red Irasional dan Prematur Simpulkan Tuan Rumah Pukul Asisten dan Pemain Bola

Irasional dan Prematur Simpulkan Tuan Rumah Pukul Asisten dan Pemain Bola

446
0

Catatan Pojok Bung Red

Warga Nusa Tenggara Timur dikejutkan atas pelabelan prematur yang menyebut Tuan Rumah memukul Asisten Pelatih dan Pemain Bola PS Malaka.

Perbuatan pelaku (oknum) dalam peristiwa tersebut seolah-olah dan secara telak dikenakan kepada seluruh warga yang hidup di Bumi Kelimutu Kabupaten Ende, Pulau Flores.

Seharusnya tidak demikian

Patut disegarkan lagi bahwa kejahatan dan kekerasan maupun potensinya adalah milik semua orang. Jauh lebih tepatnya lagi adalah milik oknum ataupun oknum-oknum jika pelakunya lebih dari satu orang.

Terhadap peristiwa tersebut, belum diketahui sama sekali siapa identitas pelaku, sebab masih terus didalami. Mungkin sudah dihentikan pencarian karena masih disebut Pelaku Tidak Dikenal. Pelaku mungkin sudah mengembara kemana-mana.

Penyematan ‘Tuan Rumah’ seolah-olah sebagai Pelaku, padahal dalam fakta sesungguhnya sebenarnya belum diketahui siapa pelaku yang memukul, siapa saja mereka termasuk identitas pelaku.

Terhadap peristiwa tersebut masih disebut sebagai Pelaku Tak Dikenal. Sekali lagi, disebut sebagai pelaku tak dikenal. !

Catatan Pojok Bung Red berupaya mendasari catatan pada fakta-fakta kejadian dan penanganan. Selain itu, juga melakukan konfrontasi kepada pihak penegak hukum. Hasil yang diperoleh sejauh ini menyebut Pelaku Tidak Dikenal.

Maka dengan demikian, dua pesan perdana terhadap insiden itu, yakni :

  1. Stop menyebar cara pikir prematur menyimpulkan Tuan Rumah adalah Pelaku, sebab seluruh fakta masih bertumpu pada kesimpulan “Pelaku Tidak Dikenal”.
  2. Pelabelan Tuan Rumah dalam hal ini Kabupaten Ende sebagai Pelaku dengan unsur-unsur pembuktian yang sangat lemah adalah tindakan tidak terpuji. Sebab masih merupakan pekerjaan rumah bersama, termasuk pekerjaan rumah bagi pihak penegak hukum, Polri dan lain-lain.  Pemaksaan pelabelan menjadi praktek yang sarat dengan perbuatan Irasional.

Patut Diketahui

Di mana pun Tempat Kejadian Perkara (TKP) di dunia ini tidak serta merta memutlakkan TKP menentukan Pelaku adalah para pemilik TKP atau warga TKP.

Kekerasan dan pemukulan dalam peristiwa tersebut tidak memberi jaminan mutlak bahwa pemukul atau pelaku adalah warga tuan rumah. Jangan prematur.

Terminologi Tuan Rumah sama dengan seluruh Warga Ende Lio

Nalar hidup atas kosa kata Tuan Rumah sebenarnya tidak menunjuk satu atau dua orang, melainkan menunjuk secara keseluruhan, kolektif dan atau menunjuk semua.

Kita bisa berpikir seperti ini,  jika seluruh warga Ende Lio (Tuan Rumah) memukuli Asisten Pelatih dan Pemain, bukan kah Pelatih dan Pemain sudah menjadi debu?.

Kata ‘Tuan Rumah’ secara jelas dan nyata-nyata menunjuk kepada ‘keseluruhan warga’, tanpa pembatasan dan ataupun tanpa memilah lagi.

Patut dimengerti bahwa Tuan Rumah adalah kumpulan dari ratusan ribu warga masyarakat bahkan jutaan warga yang hidup di sebuah wilayah.  Fakta juga menunjukan dari ratusan ribu dan bahkan jutaan warga, itu hanya sebagian kecil yang hadir di Kota Ende ketika pertandingan apapun berlangsung di Stadion Marilonga.

Maka bisa disebut irasional semakin terang benderang ketika disematkan Tuan Rumah yang memukul. Belum lagi Tuan Rumah sebenarnya adalah kata sifat. Dalam persepsi ‘Tuan Rumah’ baru berisikan orang-orang.

Jangan Lupa

Peristiwa dengan catatan tertinggi Pelaku Tidak Dikenal sebenarnya masih sangat terbuka untuk berpikir secara lebih kaya lagi dan lebih luas lagi.

Bisa saja Tempat Kejadian Perkara di Kabupaten Ende tetapi Pelakunya bukan warga Ende Lio. Why not?.

Bisa saja TKP di Ende tetapi latar belakang dan identitas pelaku adalah sesama asal muasal dengan para korban yang mungkin saja merasa tidak puas dan lain-lain. Why not?

 Bisa saja TKP di Ende tetapi pelaku adalah perusuh dari luar daerah lain yang mau mencoreng nama baik Tuan Rumah dan juga nama baik sebuah kesebelasan. Why not?

Bisa saja pelaku adalah oknum-oknum warga sekitar TKP yang bertindak atas nama pribadi atau  sama sekali bukan sebagai cerminan warga tuan rumah yang baik dan benar. Tindakan oknum. Why not?

Maka patut bersepakat bahwa semua kemungkinan harus dikaji dan harus terus digali kebenarannya. !

Setiap Tuan Rumah diwajibkan menjadi Tuan Rumah yang sejuk dan damai agar segala proses kompetisi berjalan sesuai harapan.

Pihak Keamanan wajib memastikan memberi rasa aman di daerah-daerah.

Pihak Keamanan wajib bersepakat bahwa pelaku kerusuhan harus dibongkar seluruh identitas, asal muasal dan wajib diberi sanksi hukum yang tegas.

Turnamen Soeratin Cup U-17 adalah Turnamen Bola Kaki, jangan menjadi turnamen bola liar – siapa pelaku dalam insiden itu.

Jangan pula menjadi turnamen penyematan yang keburu prematur dan irasional menuding Tuan Rumah tanpa pemenuhan unsur memadai.

Turnamen Soeratin Cup U-17 dinodai insiden pemukulan terhadap Asisten Pelatih dan Pemain PS Malaka oleh Orang Tidak Dikenal. Turnamen Soeratin Cup U-17 berlangsung mulai tanggal 7–24 Oktober 2019 di Stadion Marilonga Kota Ende, Pulau Flores diikuti 15 Tim dari 15 Kabupaten/kota di NTT.

Catatan Pojok Bung Red kali ini juga bisa untuk penyegaran ingatan, melawan lupa, bahwa beberapa kejadian kekerasan dibalik hiruk pikuk olahraga di NTT, masih banyak yang tidak diungkap tuntas.

Maka setelah Turnamen Bola Kaki, NTT disuguhiTurnamen Bola Liar !

Salam Olahraga Berpikir bersama Judul Pemain dan Pelatih dipukul di Kota Ende, Pulau Flores Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pelakunya Tidak Diketahui. !

Catatan Pojok Bung Red