Home Berita BEM Undana dan BEM Muhamadyah Kupang Talk Show Sumpah Pemuda

BEM Undana dan BEM Muhamadyah Kupang Talk Show Sumpah Pemuda

174
0

LN Focus Indonesia News – Kerjasama BEM Undana dan BEM Muhamadyah Kupang sukses menggelar Talk Show Sumpah Pemuda Era Milenial pada Jumat, 25 Oktober 2019 di Aula Gedung B UMK. Sejumlah nara sumber hadir dalam acara talk show ini.

Dikutip redaksi media ini, Kaban Kesbangpol Kota Kupang, Noce Nus Loa dalam sambutan pembukaan mengungkapkan pemuda menjadi tulang punggung bangsa dan selaku generasi penerus serta pelaku perubahan sosial harus dapat memfilter berbagai dinamika dan perkembangan teknologi.

Sehubungan dengan itu, kata dia, momen peringatan Sumpah Pemuda dilaksanakan untuk menumbuhkan pengetahuan sekaligus pemahaman mengenai semangat kebangsaan para pemuda di era milenial.

Lebih lanjut Kaban Kesbangpol Kota Kupang menguraikan salah satu visi dan komitmen Walikota Kupang adalah menjadikan sebagai kota toleran yang menjamin kerukunan dan menjamin kenyamanan kehidupan dari seluruh lapisan masyarakat lintas SARA. Pada Tahun 2018, survei Kemendagri menunjukan bahwa Kota Kupang menduduki peringkat ke 7 sebagai Kota Tertoleran di Indonesia.

Ditambahkan. radikalisme di Indonesia berkembang pesat, sejumlah kelompok mempunyai agenda politik untuk mengganti sistem tatanan pemerintahan NKRI. Karenaitu, seluruh elemen bangsa terutama pemuda harus memahami bahaya yang mengancam kehidupan berbangsa dan menyatakan penolakannya terhadap kelompok tersebut. Sumpah Pemuda merupakan kunci yang mampu menyatukan seluruh elemen masyarakat, terlebih karena adanya Ideologi Pancasila yang terbukti mampu menjaga kesatuan bangsa.

Dalam kesempatan yang sama, perwakilan tokoh perempuan NTT, Aurora Modok dalam paparannya mengutarakan pemuda milenial secara umum diartikan sebagai generasi yang lahir dan besar di era milenium, namun demikian sebenarnya pemuda milenial dapat pula diartikan sebagai tokoh yang mampu menggebrak sistem atau tata cara lama yang buruk menjadi sistem yang sesuai perkembangan besar bagi masyarakat.

Contoh Pemuda milenial asal Indonesia di antaranya adalah Ibu Kartini yang dalam usia muda mampu mengangkat dan memberikan pemahaman terkait buruknya sistem feodalisme dan perlunya pemerataan pendidikan bagi masyarakat saat itu. Sumpah Pemuda bukan dijadikan momentum peringatan semata, namun harus menjadi momentum waktunya pemuda untuk menunjukan kapasistas dirinya dalam membangun diri sekaligus membangun masyarakat sekitarnya.

Sementaraitu Ketua Pemuda GMIT, David Natun dalam uraiannya menyampaikan semangat pemuda harus selalu hidup meskipun umur dan kondisi fisik menunjukan pertambahan usia.

Peran pemuda dalam perjalanan bangsa Indonesia, lanjut David Natun, sangat besar. Sembilan puluh satu tahun pemuda Indonesia hidup dibawah tekanan penjajahan meninggalkan asal usul agama, suku, budaya dan asal daerahnya, kemudian merumuskan Sumpah Pemuda yang hingga saat ini menjadi ikatan pemersatu seluruh elemen bangsa Indonesia saat ini.

Dalam setiap perjalanan bangsa Indonesua, pemuda memiliki peran yang sangat besar dan berdampak terhadap arah perjalanan bangsa. Pemuda di era milenial dibenturkan dengan masifnya ketergantungan terhadap gadget dan teknologi, hal ini yang terkadang membawa dampak buruk bagi pemuda dan masyarakat.

Untuk mengatasi dampak buruk tersebut setiap pemuda harus mampu memuupuk nasionalisme, budayakan membaca dan menulis di media cetak, tidak hanya di medsos, bijak dalam bermedsos dan menggunakan internet dan selalu memperbarui komitmen mencintai bangsa Indonesia. Pemuda harus menciptakan sejarahnya masing-masing, karena setiap orang harus berdayaguna baik dan menciptakan sejarahnya dan berguna untuk bangsa dan negara.


Terkait Pemuda talk show pemuda era mileneal, menurut moderator sekaligus penyelenggara kegiatan dan juga selaku Ketua BEM Undana, Ridwan Menoh  menyampaikan kegiatan talk show sebagai wujud kesadaran dan keterpanggilan kami untuk turut memupuk kembali semangat serta mengingatkan kembali makna sumpah pemuda yang pernah diikrarkan 91 tahun silam bagi kaum muda, penentu hitam putih negeri ini.

Melalui momentum talk show juga diharapkan pemuda tidak mudah terpengaruh dengan isu-isu yang diinisiasi oleh kelompok-kelompok yang hanya ingin memenuhi keinginan pribadi lalu merumuskan misi menghancurkan bangsa dengan mendesain dan menyebar isu radikalisme, SARA dan lain sebagainya. Sebaliknya, pemuda harusnya berdiri di garda terdepan dan menyatakan sikap nasionalisme dan cinta tanah airnya untuk berjuang dan tetap mempertahankan eksistensi NKRI.


Berikut pernyataan sikap bersama Sumpah Pemuda Era Milenial, dibacakan bersama oleh Ketua BEM Muhamadyah dan Ketua BEM Undana,

28 OKTOBER 1928 menjadi saksi sejarah tonggak berdirinya perkumpulan anak-anak muda Indonesia dalam memperjuangkan pergerakan kemerdekaan, jauh sebelum Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Makna dari semua itu tercatat sebuah jalan panjang anak-anak muda ketika itu memperjuangkan terciptanya kemerdekaan. Mereka adalah pelopor dan itu tidaklah dipungkiri, sejarah panjang telah mencatat, apa yang mereka lakukan semata-mata untuk kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia.

Pentingnya membumikan kembali spirit Sumpah Pemuda bagi generasi milenial saat ini harus tetap hidup dan tertanam dalam jiwa generasi muda zaman now. Perkembangan teknologi informasi telah menimbulkan banyak pergeseran tatanan pergaulan sosial bangsa Indonesia, menjaga keutuhan dan persatuan bangsa memiliki tantangan berat ketika teknologi komunikasi memunculkan banyak ekses negatif.

Gerakan Sumpah Pemuda bisa luluh lantah akibat maraknya hoaks, ujaran kebencian, dan hal-hal lain yang menimbulkan perpecahan.

Pemuda selalu ada di setiap periode perjuangan, sejak jauh sebelum kemerdekaan hingga di era milenial yang membuat dunia pemuda semakin luas. Nyaris, tak ada yang terlewat dari catatan sejarah, bahwa pemuda selalu hadir berjuang untuk bangsa.

Lewat Sumpah Pemuda, mereka dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia. Sumpah tersebut menjadi torehan sejarah sendiri dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia. (Tim/Red)