Home Catatan Pojok Bung Red Yang Dilupakan, Character Politikus Katolik Dalam Pentas Pemilu di Flores

Yang Dilupakan, Character Politikus Katolik Dalam Pentas Pemilu di Flores

108
0

Catatan Pojok Bung Red

Dalam konteks politik, Gereja Katolik sebagai bagian dari Bangsa Indonesia dipanggil untuk terlibat aktif dalam upaya menghidupi dan mengembangkan demokrasi sehat dan bersih demi terwujudnya kesejahteraan hidup bersama (bonum commune).

Ya, Sehat dan Bersih !

Jika demikian, maka begitu pula umat Gereja, di dalamnya termasuk para Politikus Katolik pun wajib sadar, wajib mengimplementasi panggilan luhur dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Pulau Flores dengan mayoritas umat Katolik bermotto 100% Katolik, 100% Indonesia adalah salah satu bagian penting warga Bangsa Indonesia yang menyadari diri dipanggil untuk ikut serta memperjuangkan cita-cita luhur kemerdekaan bangsa, ikut menjaga perdamaian dunia, keadilan sosial, penegakan hukum, dan seterusnya dalam kemajemukan yang berbeda namun tetap satu dan sama.  

Konsili Vatikan II dalam dokumen apostolicam actuositatem (aa), menyebut Gereja ikut memperbaiki dan menyempurnakan dunia.

Gereja tidak hanya diutus untuk menyampaikan warta dan menyalurkan rahmat, tetapi harus ikut merasuki dan menyempurnakan tata dunia. Proses menyempurnakan tata dunia diantaranya termasuk penegasan semua agama yang mengajarkan melawan politik uang. Demikian juga Gereja Katolik tegas menyerukan itu.

Sering dilupakan bahwa sesungguhnya Gereja telah memiliki dasar-dasar politik praktis untuk berperan serta dan aktif dalam kancah politik memperjuangkan kesejahteraan umum, salus populi est suprema lex.

Menjadi garam dan pelita yang lebih bermakna.

Tidak sedikit pula orang Katolik terjun menekuni profesi politisi dengan menyadari panggilan untuk pencapaian kesejahteraan umum dalam nilai-nilai universal untuk dicapai.

Sebaliknya dengan tetap menekankan bahwa menggunakan simbol agama untuk sekadar sebagai pemikat, itu tidak akan pernah efektif apabila tidak menjadi darah daging, tidak menjadi terang bagi dunia dan sesama.

Jika disebut yang dilupakan, character politikus Katolik dalam pentas Pemilu di Flores, maka bisa saja itu susah untuk menemui jawaban. Meski sebenarnya memposisikan Katolisitas dalam ranah politik praktis pun bukan sesuatu yang mustahil.

Demikian pula tentang umat selaku konstituen dalam hukum negara ketika harus menentukan pilihan siapa pelaksana amanat untuk memanggul aspirasi penderitaan masyarakat.

Konstituen bisa melakukannya, cukup dengan menjadi pendukung politisi-politisi yang baik dan terus berjuang membangun integritas dalam berbangsa bernegara – benar-benar menyuarakan aspirasi dalam keyakinan mereka tampil untuk terlibat aktif menciptakan demokrasi yang bersih dan sehat, bebas dari politik uang ataupun jemaah korupsi di tengah-tengah dunia.

Itulah salah satu cara mendukung terciptanya character pelayan bangsa yang baik ala Katolik.  

Bukan sekadar mendekati masyarakat pada saat meminta dipilih, kemudian bermetamorfosa menjadi ‘Pemimpin’.

Paus Yohanes XXIII dalam buku kecil “Politik 1” berharap agar orang-orang Katolik yang terjun ke dalam dunia politik (pada masa itu) memahami tentang situasi dunia dan masalah-masalahnya. Pengutipan ini sekedar hanya untuk mengingatkan bahwa politik dan moral sudah sejak lama menjadi salah satu keprihatinan besar Gereja.

Seorang Imam perna menyinggung, harus ada sinergitas antara yang politis dan spiritualis. Di sana nilai-nilai moral dan etis bertumbuh. Dari perspektif moral sosial, politik itu berteologi. Keluar dari diri menuju orang lain. Berpolitik itu ruang sosial yang tersedia untuk mengaktualisasikan diri. Arena mengimplementasikan nilai-nilai moral dan spiritual. Sehingga politisi adalah orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri, pengabdi kemanusiaan.

Bisa dikata, Politisi Katolik dipanggil untuk harus anti pada hal-hal seperti praktek money politik, korupsi, kolusi dan nepotisme. Sebuah character yang terkadang di-lupa-kan dibalik silauan singgasana politik dunia. !

Benar adanya bahwa Manusia dihadapkan pada dua kejahatan dasar : pertama, mengurus dunia tetapi lupa tujuan terakhir, yakni Tuhan sendiri. Kedua, sibuk mengurus surga, padahal kita masih di dunia. Kita lupa menjadi garam dan terang bagi dunia.

Yang Dilupakan, Character Politikus Katolik Dalam Pentas Pemilu di Flores – Dipanggil untuk terlibat aktif dalam upaya menghidupi dan mengembangkan demokrasi sehat dan bersih demi terwujudnya kesejahteraan hidup bersama (bonum commune).

Ya, Sehat, Bersih dan KETELADANAN !

Catatan Pojok Bung Red