Home Berita Talk Show Pemuda NTT Tegaskan Persatuan Tanpa SARA Demi NKRI

Talk Show Pemuda NTT Tegaskan Persatuan Tanpa SARA Demi NKRI

277
0

Ln Focus Indonesia News – Talkshow Kebangsaan Komunitas Bela Indonesia (KBI) Regio NTT (27/09/2019) mengangkat sebuah Tema Kebangsaan “Pemuda NTT Menjaga Persatuan Tanpa SARA demi NKRI.

Talkshow Kebangsaan ini berlangsung mulai sekitar pukul 16.00 wita sampai pukul 20.00 bertempat di Tirosa Café and Resto, depan Bundaran Tirosa, Kelurahan Oebobo, Kecamatan Tuak Daun Merah, Kota Kupang.

Ketua Tim Kerja Talk Show, Vivin Da Silva melalui sambutannya mengungkapkan bahwa talkshow diselenggarakan berangkat dari keresahan atas segala peristiwa di Indonesia dewasa ini, dimana nilai-nilai luhur yang terkandung dalam pancasila mulai lintur seiring dengan perkembangan zaman.

Menurut dia, Pancasila adalah Ideologi, Pedoman dan Dasar berbangsa dan bernegara. Sementara rentetan persoalan kebangsaan dalam beberapa tahun terakhir telah memicu begitu banyak polemik bahkan ancaman disintegrasi, maka patut segera direfleksikan kembali pijakan dan atau fondasi bangsa secara jernih dan utuh dalam kesakralan Pancasila milik Bangsa Indonesia.

“Mulai dari terorisme, diskriminasi, hingga rasisme bagi saudara- saudara kita di Papua. Inilah mengapa perlu diadakan proses penguatan ideologi agar dengan pemahaman yang cukup atas dasar negara kita bisa hidup berdampingan dengan baik dalam bingkai NKRI pungkasnya”, Ketua Tim Kerja Talk Show, Vivin Da Silva.

Sejumlah pembicara hadir dalam acara talk show kebangsaan ini diantaranya dari akademisi, Dosen ilmu politik UNC, Yeftha Sabaat, Tokoh Agama, Pdt. Emi Sahertian, Ketua Pemuda GMIT, David Natun,  Aktivis Perempuan, Linda Tagie , perwakilan Polda NTT, Dominikus dan GP ANSOR, Abdul Syukur.

Dalam materinya, Yeftha Sabaat menyoroti psikologi sosial yang berkembang saat ini dari sudut pandang akademisi berangkat dari teori sosiologi dan antropologi.

Ditegaskan, Indonesia sebagai negara pluralis, sosio historis berdirinya negara Indonesia terdiri dari berbagai macam nation. Akar permasalahannya adalah identitas sosial. Hal ini menggambarkan bagaiamana individu yang memandang permasalahan yang sedang terjadi. Misalnya masalah Papua dan Timor Leste yang akhirnya melahirkan Etnonasionalisme yakni paham kebangsaan yang berorientasi pada etnis dan akhirnya paham nasionalis akan meredup.

Lebih lanjut, Pdt. Emi Sahertian dalam diskusinya tentang Papua menandaskan setiap orang punya sudut diskriminatif dan sudut rekosiliatif. Hal tersebut yang harus digunakan oleh agama-agama untuk membangun bangsa. Papua adalah soal serius bukan hanya soal rasisme. Ini terkait pelurusan sejarah. Sampai kapan pun Papua dan Indonesia akan terus berdampingan. Papua harus diajak. Papua memiliki kerinduan untuk senantiasa bersama namun merasa bahwa ada gap yang terjadi dalam fakta-fakta yang dirasakan.

“Peranan kita sangat penting karena kita adalah saudara. Dengan adanya kita, Papua merasa bahwa mereka adalah Indonesia”, ungkap Pdt. Emi Sahertian.

Menurut dia, setiap orang harus mampu melihat peta politik internasional. Pandai membaca politik internasioanl di mana kapitalisme menjadikan pasca kebenaran (post truth) sebagai alat kebohongan. Hal itulah yang akan memecahkan kesatuan kita sebagai Indonesia.

Pada kesempatan yang sama, Abdul Syukur melalui paparan materinya mengatakan bahwa peran agama sangat penting dalam pluralisme karena berkaitan dengan moral, integritas.

Agama, lanjut dia, memberi kekuatan dalam menanggung kehidupan penganutnya. Agama hadir sebagai upaya bersama merasakan apa yang dirasakan oleh penganutnya. Agama mendorong ilmu pengetahuan bagi seluruh penganutnya.

“Kita telah kehilangan nilai-nilai Pancasila. Saat ini Pancasila hanya menjadi sebuah simbol atau semboyan belaka”, urai Abdul Syukur.

Lebih lanjut David Natun menyoroti masalah krisis teladan. Maka perlu berusaha untuk membebaskan orang muda dari masa lalu, serangan dan pembentukan otak mereka.

David Natun menyebut ada serangan 6 Fyakni  food, fashion, film, fantasi, filosofi dan financial.

Dengan demikian, kata dia, generasi muda harus bisa berusaha untuk membangun sejarah bagi dirinya sendiri.

Beberepa aspek lain juga di diskusikan dalam talk show kebangsaan ini. Menurut perwakilan Polda NTT Dominikus, keamanan dan ketertiban menjadi syarat utama pembangunan bangsa dan negara. Ini merupakan tugas bersama bukan hanya tugas Polisi.

“Negara kita adalah negara yang sangat heterogen. Seharusnya perbedaan ini menjadikan kita tertarik untuk melakukan sesuatu yang baik. Dengan demikian kita harus mampu merajut keberagaman dalam hidup bernegara dengan cara menghayati nilai luhur Pancasila, mempelajari agama dengan baik dan bekerjasama”, ungkap perwakilan Polda NTT, Dominikus.

Rangkuman materi talk show kebangsaan dalam pemaparan Linda Tagie menyoroti SARA sebagai isyu yang sangat mengganggu sejak Indonesia merdeka.

“Isyu SARA sudah menjadi alat bagi penjajah untuk menghancurkan Bangsa kita. Pemerintah harus dikawal dengan kritik.  Kita tidak hanya bisa ikut arus dengan semua yang dibuat oleh pemerintah. Kita harus mampu menjadi control sosial. Kita harus bisa melahirkan generasi-generasi muda yang anti rasisime”, papar Linda Tagie.

Melalui kegiatan talk show kebangsaan kali ini Ketua KBI, Christo Kolimo dalam sambutan penutup memberikan beberapa rekomendasi, diantarnya menyebarkan tagar dan semangat “Papua adalah kita, Papua adalah Indonesia”.

Ditambahkan, perlunya upaya dialog dan pendekatan budaya dalam menyelesaikan berbagai permasalahan di Papua. Perlunya upaya pembauran budaya dan pendekatan etnik demi mengajak Mahasiswa Papua di NTT terlibat dalam berbagai kegiatan sehingga merasa diterima di tengah masyarakat. Budayakan kesantunan dalam menyampaikan pendapat dalam ruang publik demi mencegah munculnya dan meningkatnya konflik di era digital-milenial. (Tim/Red)